Chess History Indonesia : Bermula Dari Tanah Karo [Cator Karo]
Karogaul.com - Sudah sejak lama permainan catur ada di Indonesia. Di Tanah Karo,
permainan catur ini sudah sejak lama pula dikenal. Namun permainan catur
ini baru populer sejak orang-orang Belanda datang ke Indonesia. Bentuk
dan cara bermain catur ala Karo dengan Eropa/Belanda ada perbedaan
(berita-berita koran Belanda tidak menyebut perbedaannya apa). Diduga
bentuk dan permainan catur di Tanah Karo diadopsi dari salah satu dua
sisi persentuhan komunitas Karo dengan asing yang menyebar dari pantai
timur Sumatera, dimana di daerah ini dulunya berdiri suatu kerajaan yang
disebut Kerajaan Aru dimana keberadaanya dikenal sebagai cikal bakal
asal usul dari Suku Karo.
Meski pada awalnya catur Karo diyakini
berasal dari Pantai Timur, justru keberadaanya di Tanah Deli tidak
terlalu dikenal. Akan tetapi orang-orang Karo yang merantau ke Tanah
Deli cepat memahami dan mengadopsi cara bermain catur Eropa/Belanda.
Permainan catur ala Eropa/Belanda ini di Tanah Deli sudah lama dilakukan
oleh komunitas orang-orang Eropa/Belanda. Dari komunitas-komunitas
catur inilah, anak-anak muda Karo mulai mengadopsi catur ala
Eropa/Belanda. Akibatnya, lantas, lambat laun, cara bermain catur ala
Eropa/Belanda ini cepat mengalami difusi di Tanah Karo yang akhirnya,
catur ala Karo lambat laun ditinggalkan oleh generasinya sendiri. Sejak
itu, catur ala Eropa/Belanda sudah mulai menggantikan catur ala Karo di
seluruh penjuru Tanah Karo.
Sejarah catur Indonesia, berita pertama datang dari koran Sumatra Post di Medan, 1904
Meski permainan catur sudah populer di kalangan orang-orang Belanda,
baik di Batavia, Deli, Semarang dan lainnya, tetapi tidak satupun
koran-koran Belanda yang memberitakan ‘permainan otak’ ini. Berita
keberadaan catur di Indonesia kala itu terpasung oleh berita-berita
sepakbola (kala itu masih dengan otot) yang sudah mulai mendapat porsi
di koran-koran Belanda. Sontak, koran-koran berbahasa Belanda tiba-tiba
bergetar dengan berita pertama yang dimuat koran Sumatra Post yang
terbit di Medan tanggal 17 Juni 1910. Berita dari Medan ini dikutip dan
dipublikasi ulang oleh koran-koran di Batavia, Semarang dan Surabaya.
Berita apa itu?
Namun sebelum berita itu diungkapkan ke
permukaan, mari kita simak edisi terdahulu koran Sumatra Post ini yang
pernah menyajikan secuil kisah (feature) catur di Tanah Deli (edisi
11-06-1904). Koran ini mengisahkan adanya pertemuan dua laki-laki di
sebuah kebun (plantation). Laki-laki pertama adalah seorang Abtenar,
pejabat Belanda datang ke kantor pengusaha kebun (Planter) asal Jerman
(nama Muller). Dialog mereka dalam kisah itu, seperti ini:
Abtenar: “Anda tidak berpikir mungkin untuk melakukan permainan catur?” Planter: "Saya penggemar berat ..." Petugas: "Apakah bijaksana jika saya sarankan Anda untuk bermain game?” Planter: "Sebaliknya, saya senang sekali untuk memiliki kesempatan untuk bermain catur lagi ..."
Lantas, papan catur dibawa turun, dan segera terjadi hiruk pikuk para
pegawai kebun karena segera akan ada eksebisi dua pria dalam permainan
catur. Pertandingan dimulai, banyak pegawai kebun menonton. Setelah
lama, permainan berakhir. Tiba-tiba Muller mengangkat bahu dan bergerak
ke sudut area tertentu, sambil teriak: “Saya raja catur!’. Abtenar itu
ternyata bertindak sportif, lalu menghampiri Muller. Petugas: “Anda
bermain baik, Mr Muller! Saya memujimu”. Abtenar memuji kembali: “Anda
bermain sangat baik, bahkan lebih baik daripada yang Anda pikirkan!".
‘Hidup Grobmann, hidup Grobmann, hidup Grobmann”, sorak sorai para
pegawai merayakan kemenangan Muller alias Grobmann.
Kisah di atas
yang dimuat koran Sumatra Post merupakan informasi pertama adanya
tentang eksistensi catur di Indonesia pada masa itu. Ini menggambarkan
bahwa permainan catur di kalangan elite di Tanah Deli adalah suatu
permainan prestisius. Juga dari kisah ini telah mampu menggambarkan,
betapa rakyat juga telah mengapresiasi permainan catur ini dan rakyat
bahkan pegawai kebun bisa memainkannya juga dengan baik. Kisah lainnya
datang dari seorang pelancong Prancis (Will Le Mair), yang menulis kisah
perjalanannya keliling dunia termasuk di sekitar Sumatra, Penang dan
Singapore dan dikirimkan ke koran Sumatra Post. Dalam kisah yang ditulis
16 Februari 1906 dan dimuat Sumatra Post pada edisi Sumatra Post
19-02-1906:"…saya cukup kaget di kapal-kapal Belanda di setiap ruang
makan dan ruang relaksasi selalu terdapat perangkat permainan catur".
Kisah ini juga menggambarkan betapa permainan catur sangat disenangi
oleh orang-orang Belanda, bahkan di tengah lautan sekalipun.
Pecatur dari Tanah Karo menantang pecatur Belanda, 1910.
Dua tulisan (feature) yang dimuat koran Sumatra Post itu mendahului
berita pertama tentang catur yang dimuat Sumatra Post yang telah
menggetarkan dunia persuratkabaran pada waktu itu. Koran Sumatra Post
terbitan 17 dan 18 Juni 1910 memberitakan kedatangan dua pemuda dari
Tanah Karo datang ke Medan untuk menantang pemain catur terkuat dari
orang-orang Eropa yang tergabung dalam klub catur di Medan. Klub catur
Medan bernama ‘Die Witte Societeit’ juaranya adalah Mr. Platte. Pecatur
kuat orang Eropa/Belanda di Medan itu dapat dikalahkan dua anak muda
ini. Koran Het nieuws van den dag: kleine courant, 16-07-1910 yang
mengutip dan meringkas berita koran Sumatera-Post pada tanggal 17 dan 18
Juni 1910 menyajikannya sebagai berikut:
"...dua pemuda Karo,
telah datang ke Medan dan bermain catur di klub "Die Witte Societeit"
dan ingin menantang pemain catur terkuat orang Eropa/Belanda yang ada di
Medan...koran ini memberi latar terhadap orang pedalaman ini..mereka
(kedua anak muda itu) datang dari kampong di pedalaman, dimana biasanya
mereka bermain catur di rumah atau bale-bale yang hanya menggunakan
perangkat catur yang sangat primitif, bijih catur yang dibuat sendiri,
papan catur hanya ada di lantai bale-bale yang digoret dengan pisau,
dimana penonton hanya melihat dengan jongkok dan setengah penonton
lainnya hanya bisa bergayut di tiang-tiang bale-bale namun semuanya
serius memperhatikan permainan.
Koran tersebut lebih lanjut
menggambarkan pertandingan tersebut sebagai berikut: 'Sekarang mereka
(kedua anak muda itu) yang kelihatannya sopan dan lugu telah duduk di
kursi kayu bagus dan meja terbuat dari marmer, dan kelihatan mereka
sangat khidmat untuk memainkan permainan ini. Mereka tidak tampak sakit
(maksudnya mungkin grogi), tetapi mereka tampak tenang di bawah tatapan
semua mata penonton (yang umumnya bule). Anehnya lagi, mereka enggan
melihat muka lawan, dan selalu melihat ke bawah tetapi sesekali
diam-diam mengintip wajah lawannya dari balik tangannya yang menyangga
dagu/pipinya'...[suatu penggambaran yang humanis].
Pecatur dari Tanah Karo studi ke Eropa, 1911
Kisah dua pemuda Karo yang mengalahkan pecatur terkuat di Medan
berlanjut. De Sumatra Post, 30-08-1910 dengan judul berita: ‘Bataksche
schakers naar Europa’. Lagi-lagi, dua pemuda Karo yang diberitakan
terdahulu yang bernama Si Narsar dan Si Garang yang keduanya merupakan
murid di sekolah guru di Kabanjahe koran itu menyebut anak-anak Karo
yang sangat cerdas dan beradab. Koran ini memberitakan kedua anak itu
telah menerima undangan dari de Koning uit Djember (yang baru-baru ini
tinggal di sini, Medan), untuk datang ke Belanda/Eropa atas biayanya
pengusaha itu sendiri, selama sepuluh bulan mulai bulan Januari 1911.
Pengusaha ini bermaksud memperkenalkan anak-anak itu dengan dunia catur
di Eropa dan semoga mereka bisa mendapat gelar ETI master catur.
Sebelum ke Eropa, dua anak jago catur ini akan tinggal di Medan bersama
Die Witte Societeit untuk melakukan persiapan rutin. Rencananya dari
Medan ke Singapura lalu menuju ‘bapak asuh’ Mr. de Koning uit Djember.
Kedua pemuda Karo ini menurut pejabat Belanda di Kabanjahe (Controller)
yakin anak-anak berbakat ini akan belajar banyak dalam studi mereka, dan
kembali ke kampong untuk mengajarkannya bagi banyak penduduk. Berita
dari Medan ini dilansir koran Nieuwe Rotterdamsche Courant yang terbit
di Rotterdam edisi 25-09-1910. Koran De Sumatra Post, 28-10-1910
menyajikan suatu feature yang berjudul ‘Bataksche schakers’. Artikel ini
berisi sebagai berikut:
"...bakat-bakat alam ini harus
didorong..Jika pria Karo ini nanti benar-benar tiba di Eropa, tidak
perlu untuk menjaga sebagian besar gengsi ras kulit putih… salah satu
master kami di Medan yang bermain reguler dapat dikalahkan dan dapat
menghormatinya… sepertinya salah satu saudara pecatur yang berkulit
berwarna mungkin dianggap salah tujuan ke Eropa…tetapi kita harus
menyadari bahwa ini soal kapasitas..jadi sepertinya tidak ada yang
kurang benar dalam hal ini…. sesuatu yang sangat istimewa, mungkin
sekali unik dalam penyebaran peradaban, tapi ini sebuah fakta yang tidak
jauh kurang penting dibandingkan penyelidikan dalam bidang kemampuan
linguistik saja. Dibandingkan dengan di sini adalah kenyataan bahwa
mereka adalah pria Karo sederhana dan alami, dan hanya beberapa
kebutuhan yang mereka perlukan, tetapi mereka telah mengabadikan
permainan catur ini di desa-desa mereka selama berabad-abad dan bahkan
diantara suku-suku lain yang tidak tahu permainan ini, mereka yang
pertama… jadi mungkin kita bisa menemukan Socrates di sini…fakta ini
mungkin tidak begitu luar biasa…tapi mengirim mereka ke Eropa adalah
sebuah acara hak istimewa, untuk memberikan mereka kesempatan mereka
untuk mengetahui cara bermain pada dunia yang memiliki peadaban yang
cukup tinggi….Kekuatan master catur kami dari sini adalah mengenal
sekali hal detail terkecil, dan mungkin mereka masih berpikir murni,
semua mungkin dan selama berabad-abad oleh generasi berbeda, diuji dan
bukan dipelajari, yaitu menunjuk untuk menangkap permainan..sehingga
satu dan dua ratus jumlahnya di sini….melihat ini kapasitas besar memori
untuk saat ini menjadi tidak berguna. Juara master catur kita bahkan
kemudian harus menuju pribumi sendiri merasa seperti pemula versus lebih
maju…Dan sekarang kita ingin sungguh-sungguh berharap bahwa mereka
tidak akan perlu untuk bermain? Kita harus fair untuk untuk sesama warga
kami berkulit coklat…Sebaliknya, mari kita berharap bahwa kita akan
mendapatkan dan membuat permainan praktis membuat pria ini tahu
kesempatan..dan sekarang dalam karya-karya standar, catur permainan
modern, juga, sebagai landmark khusus, tempat permainan Karo akan
diizinkan untuk diarusutamakan.
Berita terakhir dari Medan
sebelum dua pemuda Karo ini ke Eropa dimuat koran De Sumatra Post edisi
14-12-1910. Koran ini memberitakan dari Asosiasi Catur Medan
dilaksanakan dua pertandingan. Di kelas pertama pertandingan catur,
dimenangkan oleh Mr Schneider, yang semalam mencetak kemenangan atas
juara Karo Si Narsar. Kelas kedua belum dimainkan kembali.
***
Setelah cukup lama tidak ada kabar berita tentang dua pemuda Karo ini
(yang diundang studi catur di Eropa), koran De Sumatra Post edisi
10-06-1912 memberitakan bahwa Si Narsar, masih belum terkalahkan di
Deli. Dia main catur dari hari ke hari, di mana pun ia menemukan
kesempatan, dan bahwa ia juga mendapat teori bukaan untuk mengatasi
dengan pikiran cepat. Besok Si Narsar diundang untuk bermain di Die
Witte Societeit.
Koran Nieuwe Rotterdamsche Courant yang terbit
di Belanda terus memantau sepak terjang si Narsar. Pada edisi 25-02-1914
menulis bahwa beberapa pekan terakhir, koran-koran di Hindia Belanda
(Indonesia) sangat intens memberitakan tentang seorang Karo yang
permainan caturnya semakin mempesona. Diuraikan koran ini, Narsar bahkan
telah melakukan pertandingan simultan (permainan dimainkan secara
bersamaan) dengan hasil yang baik, termasuk klub dari
komunitas-komunitas catur di Batavia dan Magelang. Tanggal 7 Januari di
Batavia memenangkan semua pertandingan dan satu partai membuat satu
remis, Pada tanggal 9 Januari, ia memenangkan tujuh file pertandingan
dan hanya satu partai yang kehilangan (maksudnya kalah). Juga disebutkan
koran ini Narsar juga telah memainkan pertandingan melawan 28 pecatur
dalam 90 partai, semuanya dimenangkan kecuali satu partai remis. Narsar
juga melakukan pertandingan di Magelang dan Semarang yang semuanya
dimendangkannya. Koran ini juga mengutip pernyataan Mr. Van der Buhle
dan Onnen yang diartukalasi bahwa "apa yang sudah dalam dunia catur
Hindia Belanda dari seoarang pemuda Karo terbilang dengan menggunakan
gerakan dan aksi yang tidak lazim. Bahkan hal ini terlihat ketika
berhasil melawan sejumlah pecatur-pecatur tangguh orang Belanda.
Koran ini lebih lanjut menulis, bahwa melihat sepak terjang Si Narsar
ini, boleh jadi dimungkinkan bahwa pecatur Eropa/Belanda akan datang
kepada dirinya yang rata-rata mereka bergelar master.
Anak jenius dari
Tanah Karo ini sangat luar biasa. Dalam sejarah, prestasi fantastis ini
hanya pernah di dengar sekitar abad ketujuh masehi dari seorang pecatur
Persia. Pecatur Karo ini yang berasal dari suku di negara kami Hindia
Timur adalah harta kami. Kami juga pernah mendengar potensi alam ini
dari penduduk pulau Baton (mungkin Buton). Penduduk Baton telah belajar
yang mirip dengan permainan ini pada tahun 1660, ketika Sultan Baton
belajar dari seorang Admiral Cornell. Sangat disayangkan bentuk
permainan mereka yang dulu telah hilang, seperti di negara Karo. Namun
pecatur Karo kini telah memahami aturan Nederlandtche juga sepenuhnya.
Partai yang dimainkan oleh si Narsar pada pertandingan 6 Januari 1914 di
Batavia, ia memegang putih dan lawannya hitam dan Narsar dapat
membuktikan jauh lebih berseni. Lebih lanjut menurut koran Rotterdam ini
ada pengakuan di sana-sini, di mana Si Narsar tampak jauh jauh lebih
kuat, dia melakukan yang terbaik. Vooalsnog heeit, waspadalah pecatur
Karo (mungkin maksudnya jangan meremehkan pecatur-pecatur dari Karo).
Pandangan para ahli Belanda tentang pecatur dari Tanah Karo, 1919-1923
Sejak kedatangan dua pemuda Karo ke komunitas catur di Medan,
orang-orang Eropa/Belanda baru menyadari anak-anak di pedalaman (Tanah
Karo) sangat-sangat menyukai permainan catur dan sangat potensial.
Lambat-laun, pecatur-pecatur muda mulai dikenal luas oleh orang-orang
Eropa/Belanda di Medan. Bahkan (kemudian) para peneliti atau peninjau
orang Belanda yang pulang dari Tanah Karo memberikan penilaian yang
khusus dan cermat terhadap anak-anak Karo.
Padangan orang
Belanda tentang bangsa Karo dimuat di koran De Sumatra Post, 19-04-1919
yang mengindikasikan bahwa kecerdasan anak laki-laki Karo (menggunakan
otaknya) sekitar nilai 8, Dasar pengembangan intelektual Karo sudah lama
ada dan hadir. Mereka adalah sebuah bangsa yang telah mengadopsi catur
dan diketahui bahwa game ini populer di Karo pada tingkat yang begitu
tinggi, bahwa di antara mereka, jiwa-jiwa yang memiliki nilai 8 saat itu
melebihi seratus ribu (orang), [Nilai delapan apakah sama dengan IQ di
masa ini, kita tidak tahu maksudnya].
Koran De Sumatra Post,
11-02-1921 menyajikan hasil sebuah penelitian terdahulu dari pecatur
Karo, di mana mata terlihat tajam tetapi dengan pikiran yang jernih.
Well, Sir, atau dari yang ia inginkan hanya... catur. Koran De Sumatra
Post, 25-09-1923 menyajikan hasil perjalanan Dr Berlage yang meneliti
tentang rumah (arsitektur) Karo. Dalam surat terakhirnya di "Tanah Karo"
tentang turnya di Hindia Belanda, Berlage menulis tentang apa yang dia
lihat di negara-negara Karo dan di dataran tinggi: Satu tidak bisa
membayangkan sesuatu yang lebih daripada karakteristik aristektur
seperti Rumah Adat atau Minang-Kabauschen, namun di kampung Karo
orang-orang terlihat berpakaian yang kuat, orang-orang di pendopo
terlibat dalam catur, di mana para empu Karo juga berpartisipasi; dan
(sementara) wanita Karo terlihat di dekat gudang melakukan menumbuk
beras, atau membuat kain tenun, yang mereka lakukan dengan penguasaan
yang sama. Dr Berlage juga menggambarkan sebuah titik tengah utama desa
yang disebut "Jambur", suatu ‘gedung’ yang kurang lebih ada dalam setiap
desa Karo, dimana setiap orang bisa berbicara, gezeischapt, merokok dan
lainnya...saya melihat di Jambur ini sebagian besar permainan catur
dilakukan. Satu hal lagi tampaknya menurut Dr. Berlage, bangsa Karo
telah terseleksi dengan ketat akibat epidemic penyakit yang mematikan di
masa lalu, tetapi hidup tidak kekurangan di alam Tanah Karo yang subur
(mortality vs nutrition).