-->

Produk Pilihan

Kesing

Produk Terbaru

Rebu Dalam Masyarakat Suku Karo Terbagi Atas 3 Pihak, Apa Sajakah Itu ?

Publikasi 23 Mei 2017

Riong Medan News - Rebu artinya pantangan, dilarang, tidak boleh, tidak dibenarkan melakukan sesuatu menurut adat Karo. Siapa yang melanggar, dianggap tidak tahu adat, dan dahulu dicemooh oleh masyarakat. Rebu pada masyarakat Karo, terbagi atas tiga pihak:
1.       Antara mami (mertua wanita) dengan kela (menantu pria). Dalam pengertian sempit, mami adalah ibu dari istri ego, dalam pengertian luas, adalah paraistri saudara laki-laki dari pihak ibu atau ibu ego dari istri ego). Sedangkan kela dalam pengertian sempit adalah suami dari anak wanita ego, dalam pengertian luas adalah anak laki-laki dari saudara perempuan ayah ego. Sebelum terjadi pernikahan, kela ini disebut bere-bere atau kemanakan.
2.       Antara bengkila (mertua pria) dengan permain (menantu wanita). Bengkila dalam pengertian sempit adalah ayah dari suami seorang wanita, dalam pengertian luas suami dari saudara perempuan ayah seorang wanita. Sedangkan permain dalam pengertian sempit adalah istri dari anak laki-laki orang ego. Dalam pengertian luas adalah anak perempuan (termasuk juga laki-laki) dari saudara laki-laki istri ego.
3.       Antara turangku dengan turangku. Turangku mempunyai dua pengertian, pertama, bila ego seorang pria, maka turangkunya adalah dan berarti istri dari saudara laki-laki istrinya (ipar), kedua bila ego seorang wanita, turangku berarti suami dari saudara perempuan suaminya (ipar).

Yang direbukan, dipantangkan, dilarang, tidak boleh, tidak dibenarkan melakukan sesuatu menurut adat Karo adalah (1) berbicara langsung, (2) bersentuhan anggota badan, (3) duduk berhadap-hadapan, (4) duduk pada sehelai tikar/kursi.

Manifestasi rebu (dilarang) ini dalam adat istiadat Karo, adalah dilarang berbicara, dilarang duduk sebangku, misalnya dengan mertua yang berbeda jenis kelamin dengan ego, dilarang berbicara dengan suami ipar atau isteri yang berbeda jenis kelamin dengan ego.

Rebu ini sebagai tanda adanya batas kemerdekaan diri, adanya rasa diri berkebebasan, melalui perilaku seperti ini orang mengingatkan dan sadar akan prinsip sosial dalam cara hidup berkerabat, maka melalui rebu, orang akan mampu mengkontrol perbuatan dirinya sendiri.

Rebu melahirkan mehangke (enggan), dari enggan melahirkan rasa hormat. Hormat menimbulkan sopan santun. Ini adalah unsur mendidik dari adat Karo yang bernuasa pengendalian sosial yang bersifat preventif. Namun pada perkembangan saat ini, tradisi rebu cenderung diabaikan. Telah biasa terlihat antara seorang pria berbicara langsung dengan mertuanya.

Artikel

Baca Artikel Lainnya

Review Product

Dompet & Jam Custom

Pesan Sekarang : Klik Disini

Reseller Karo gaul

Join Sekarang : Klik Disini

Artikel

Jasa Pengiriman
Bank Transfer
Copyright © 2020 |Karo Gaul
%0
%100
%17
%20
%25
%30
%40
%50
%60
+0
+100
+1000
+10000
+10500
+12000
+150
+1600
+200
+2000
+250
+300
+3100
+350
+400
+4000
+50
+500
+550
$0
$100000
$12000
$120000
$1200000
$1400000
$150000
$1520000
$185000
$198000
$20000
$200000
$240000
$2400000
$250000
$2520000
$260000
$280000
$300000
$350000
$3600000
$40000
$400000
$42000
$440000
$50000
$500000
$52000
$60000
$600000
$70000
$700000
$750000
$800000
Alat Cuci Motor
APD
artikel
batak news
brando mamana
disinfektan
dompet
dompet custom
Face Shield
Hand Sanitizer
Helm
Helm Gaul
islam
Jaket
Jaket Karo
jam
jam custom
kampus
kaos
Kaos Batak
Kaos Karo
Kaos Kemerdekaan
karo artis
karo gaul
karo gokil
karo islam
karo kuliner
karo news
karo puisi
karo sejarah
karo sumatera
karo unik
karo wisata
KBB
Kesing
Kesing Batak
Kesing Batik
Kesing Jawa
Kesing Karo
Kesing Simalungun
Kesing Toraja
Kesing uang
Koas Karo
kolom
kurma
madu
makanan
masker
masker corona
masker custom
masker hijab
masker karo
masker scuba
maskes custom
minum
Minyak Karo
Mug
Mug & Tumbler
news
Photobook
Photobook Karo
Polaroid
pop socket
powerbank
powerbank batak
powerbank karo
produk
Promo
Q&A
Reseller
singgamanik
tiger karo
Topi
topi coronar
Topi Karo
tumbler
Tumbuk lada
video
vintage
viral