-->

Wisata Medan

medan bogor

Trending

Tak Perlu Ke Jahe Kawin Semerga !

Publikasi 25 Januari 2019
Foto : @ega_xavier
 Karo Gaul - Informasi ini pertama kali saya dapatkan dari mama nguda pendiri Yayasan Alpha Omega Kabanjahe. Katanya, ada satu kampung (saya lupa namanya) dimana semua warganya adalah orang-orang yang meninggalkan kampungnya karena kawin erturang (sada merga). Bukan diusir.

Kampung itu berada di sekitar Beganding, Berastepu dan Ujung Payung. Sayangnya, saya tidak pernah sempat ke sana. Karena lokasinya tidak jauh dari Berastepu, saya tanyakan pada ibu keberadaan kampung ini. Dengan berapi-api, ibu menceritakan pengalamannya di masa kecil. Dia punya bibi yang pedagang jeruk. Sekali waktu, bibinya ini meminta dia menemaninya ke kampung tadi untuk membeli jeruk dari petani setempat dan kemudian didagangkan ke pasar.

Kisah ibu. Kampung itu sepi. Tapi dia bisa menangkap banyak pasang mata mengintip dari balik jendela ketika mereka melintasi kesain. "Bibi berbisik padaku, tidak usah lihat mereka. Jalan saja. Mereka tidak suka diamati," tutur ibu.

Kembali ke cerita mama nguda (adik kandung ibu), ini di tahun 1990an, kebanyakan anak mereka tidak ke sekolah karena takut anaknya mendapat malu berasal dari kampung itu.

Ini sebuah fakta bahwa di Karo Gugung ada kampung "penampungan" orang-orang yang kawin erturang. Ini juga sudah menjadi bukti tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam.

Menurut E.b. Surbakti dalam komentarnya terhadap tulisan saya di grup ini mengenai kawin turang, kata ISONGGALKEN dipakai bukan untuk mengatakan tempat bernama Songgal maupun dikenal sekarang Sunggal. Menurut dia kata ISONGGALKEN berarti DIASINGKAN.

Saya sudah mempelajari kata ini dengan mejelimet. Bolehlah dikatakan diasingkan, tapi lebih tepatnya disebut ZERO ZONE. Ini bisa kita telusuri ke riwayat dari "pertumbuhan" sebuah SEMBUYAK. Perkawinan Karo diawali dengan adanya pertumbuhan sebuah sembuyak yang bergerak dari Periphery (pinggiran) ke Centre (pusat) sebuah domain. Pergerakannya berlangsung dari generasi ke generasi. Perkawinan impal mempercepat pergerakan ini dan perkawinan impal secara berulang-ulang (dalam beda generasi) lebih mempercepat lagi.

Sembuyak yang bergerak dari periphery ini mencapai centre ketika para anggotanya menjadi ANAK BERU CEKUH BAKA dari sembuyak pihak perempuan di perkawinan generasi pertama. Rumah adat didirikan sebagai pertanda hubungan kedua sembuyak tadi telah sejajar sehingg pada fase ini hubungan impal adalah tak lain daripada hubungan turang. Di dalam kisah Aji Dunda Ketakuten, asal usul tungkat penalun, mereka disebut sebagai anak kembar yang saling jatuh cinta dan tidak tepisahkan lagi.

Ketika seorang menyebut kekasihnya turang, itu menandakan cinta yang paling dalam karena dia menginginkan bersama mengharungi kehidupan ini hingga suatu saat, setelah sekian abad, mereka seperti anak kembar (serindu tubuh) yang tak terpisahkan sampai dunia kiamat.

Ringkasnya, perkawinan Karo selalu memanfaatkan hubungan yang telah dijalin pada generasi sebelumnya. Bila kam kawin dalam merga yang sama, berarti kam tidak memanfaatkan perjalanan generasi sebelumnya yang bergerak dari periphery menuju centre. Artinya, kam kembali ke Zero Zone. Kembali ke Zero Zone berarti tidak ada tanah yang akan menjadi pantekenndu. Memang bisa berladang, tapi kam tidak bisa membuat Pemenan di ladangndu.

Nama tempat Songgal (sekarang biasa disebut Sunggal) adalah untuk memperkeras posisinya sebagai Zero Zone. Karena itu, Urung Serbenaman dan sekitarnya termasuk Urung 12 Kuta Lau Cih dan satu urung lainnya di Langkat (panteken Sitepu tapi lupa namanya) tidak merayakan kerja tahun. Sedangkan Karo Timur dan Karo Barat lainnya di Jahe merayakan kerja tahun.

Saya masih berpendapat bahwa soal ini jauh lebih tua daripada soal Islamisasi. Jangan lupa, Songgal menjadi Islam sejak kolonialisme. Di tahun 1823, John Anderson masih menemukan ternah babi berkeliaran di Songgal.

Artikel ini telah tayang di Group Facebook : Jamburta Merga Silima dengan judul : Tak Perlu Ke Jahe Kawin Semerga
Penulis : Juara R Ginting

Artikel

Baca Artikel Lainnya

Review Product

Artikel

Jasa Pengiriman
Bank Transfer
Copyright © 2022 |Karo Gaul
%0
%100
%17
%20
%25
%30
%40
%50
%60
+0
+100
+1000
+10000
+10500
+12000
+150
+1600
+200
+2000
+250
+300
+3100
+350
+400
+4000
+50
+500
+550
$0
$100000
$12000
$120000
$1200000
$1400000
$150000
$1520000
$17000
$185000
$198000
$20000
$200000
$240000
$2400000
$250000
$2520000
$260000
$280000
$300000
$350000
$3600000
$40000
$400000
$42000
$440000
$50000
$500000
$52000
$60000
$600000
$7000
$70000
$700000
$750000
$800000
$97000
aceh
Alat Cuci Motor
APD
artikel
bali
bandung
berastagi
binjai
bogor
brando mamana
cayon
ciamis
cirebon
dairi
danautoba
deliserdang
desliserdang
disinfektan
dompet
dompet custom
Face Shield
garut
Hand Sanitizer
Helm
Helm Gaul
humbanghasudutan
islam
jakarta
Jaket
Jaket Karo
jam
jam custom
jogja
kalbar
kampus
kaos
Kaos Batak
Kaos Karo
Kaos Kemerdekaan
karanganyar
karo
karo artis
karo gaul
karo gokil
karo islam
karo kuliner
karo news
karo puisi
karo sumatera
karo unik
KBB
Kesing
Kesing Batak
Kesing Batik
Kesing Jawa
Kesing Karo
Kesing Simalungun
Kesing Toraja
Kesing uang
Koas Karo
kolom
kopi
kopi bali
kotabatu
kuliner
kuningan
kurma
labuhanbajo
landak
langkat
lombok
lumajang
madu
majalengka
makanan
malang
maluku
masker
masker corona
masker custom
masker hijab
masker karo
masker scuba
maskes custom
medan
minum
Minyak Karo
Mug
Mug & Tumbler
munte
news
pajak
parapat
pariaman
payakumbuh
Photobook
Photobook Karo
Polaroid
pop socket
powerbank
powerbank batak
powerbank karo
Probolinggo
produk
Promo
Q&A
Reseller
sabang
samosir
sandal
sandal karo
sandalcustom
semarang
serdangberdagai
siantar
sibolangit
sibolga
simalungun
singgamanik
siosar
solo
solok
sukabumi
sumaterabarat
sumedang
sumut
tapsel
tapteng
taput
tasikmalaya
tiger karo
tobasa
Topi
topi coronar
Topi Karo
tumbler
Tumbuk lada
video
vintage
viral