Produk Pilihan

Kesing Karo

Produk Terbaru

Menelusuri Pemikiran Tentang Karo #3B

Publikasi 17 February 2019

Karo Gaul - Sudah sejak SD, kita diajarkan bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia berasal dari Hindia Belakang yang di dalam istilah internasionalnya lebih dikenal dengan Indochina (Vietnam, Kamboja, Laos, Burma, dan Thailand). Pemikiran ini dapat kita telusuri dari penemuan artefak oleh Heine-Geldren seperti halnya kapak corong yang juga ditemukan di lembah Tonkin dan Dongson (Vietnam).

Atas dasar pemikiran yang sama, walau tidak secara eksplisit dia katakan, Masri Singarimbun dalam desertasinya merasa logis membandingkan struktur sosial Karo dengan Karen (Burma) sebagaimana ditulis oleh antropolog Inggris Edmund Leach. Di tahun 1970an memang masih terdengar kaum terpelajar Karo mengasumsikan Karo berasal dari Suku Karen di Burma ini.

Pada waktu bersamaan, beberapa kaum China centrist seperti halnya Biak Ersada Ginting (pendiri Koran Patriot beralamat di Pasar Peringgan, Medan) (pernah dibom oleh Komando Jihad), mengasumsikan Karo berasal dari Yunan (China Selatan).

Namun, penemuan terbaru dari DNA menunjukkan nenek moyang kebanyakan orang Sumatra berasal dari India. Dari Afrika Selatan ke Afrika Utara dan lewat India dan Srilangka menuju Sumatra. Selanjutnya ada yang bergerak ke Jawa, Nusa Tenggara, Australia dan dari Australia ke Papua. Tidak mengherankan bila di DNA saya sangat kuat India dan terdapat sedikit Kurdi (Timur Tengah) serta Papua.

Di pihak lain, jelas-jelas kebanyakan bahasa di Indonesia, termasuk Karo, adalah bagian dari rumpun Bahasa Austronesia yang tersebar pada umumnya di Indonesia, Malaysia, Brunei, Filipina, Madagaskar (Afrika), Afrika paling Selatan (Tanjung Harapan), pesisir Papua dan juga Hawai.

Mari saya rangkum ulang.
Penemuan benda-benda artefak peralatan hidup mengasumsikan adanya hubungan antara Indonesia dengan Vietnam. Konsep Heine-Geldren inilah yang kemudian diangkat oleh CIA untuk "menciptakan" kawasan Asia Tenggara dan kemudian ASEAN. Di dalam scientific discourse, konsep Heine-Geldren ini sangat dipelopori oleh Bapak Antropologi Dunia Frans Boas dengan nama Kultur Kreis (cross culture) (Bahasa Jerman). Antropolog A. Rivers (awalnya dia adalah seorang dokter kesehatan) dengan ekspedisi Papua mengembangkan konsep Culture Area.

Perbedaan antara Kultur Kreis dengan Culture Area adalah bahwa di Culture Area diasumsikan ada pusat-pusat kebudayaan (Centre) yang menjadi pusat penyebaran sebuah kebudayaan tertentu seperti halnya Batak dianggap sebagai tempat kelahiran dari kebudayaan tertentu yang kemudian menyebar ke sekelilingnya sehingga yang di sekelilingnya itu juga dianggap Batak.

Batak sekitarnya adalah sebuah contoh kasus bagaimana para pengamat di masa lalu menerapkan Kultur Kreis dan Culture Area sehingga berdampak Batakisasi. Para pembenarnya sekarang ini mengalihkan istilah Batak dari suku menjadi rumpun.

Setelah belakangan ini ada ancaman keberadaan Batak yang anomali, orang-orang tidak lagi percaya Batak berasal dari langit dan penelitian arkeologi menunjukkan bahwa Manusia Karo dan Gayo jauh lebih tua daripada Manusia Batak [Toba], maka cepat-cepatlah dicari asal usul yang baru yang katanya dari Taiwan.

Sungguh sangat kreatif penunjukan asal usul yang baru itu. Kenyataan bahwa penduduk asli Taiwan berbahasa Austronesia (sebelum Chiang Kai Sek dan para pengikutnya hijrah dari China ke Taiwan dikalahkan oleh Mao Tse Tung) dijadikan legitimasi kelogisan Batak berasal dari Taiwan. Tapi, menjadi aneh ketika ditambahi bahwa orang-orang Batak itu adalah sisa-sisa Pasukan Manchuria yang kalah perang dari China dan kemudian melarikan diri ke Taiwan. Dari Taiwan menyembunyikan diri ke Pusuk Buhit.

BA Simanjuntak kemudian membuat teori dat-dat babah bahwa mitos diciptakan untuk mengelabui orang luar dalam upayanya membenarkan Mitos Siraja Batak. Saya belum pernah belajar teori mitos seperti ini kecuali memang berasal dari orang-orang yang hobinya mengelabui.

Argumennya adalah bahwa di daerah asal Manchuria ini ada danau yang bernama Toba (melupakan nama Danau Toba dulunya lebih dikenal Danau Silalahi).

Teori Batak dari Taiwan jelas sekali "memainkan" teori-teori yang sudah ada untuk menciptakan "mitos" baru dengan menamakannya sejarah. Padahal data dan faktanya tak jelas. Teori yang dimainkannya adalah bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia bergerak dari Utara ke Selatan dan bahwa Taiwan masih termasuk wilayah Bahasa Austronesia. Padahal, dikatakannya Manusia Batak berasal dari Manusia Manchuria yang jelas-jelas tidak lagi berbahasa Austronesia. Juga penemuan DNA orang-orang Sumatra lebih dominan dari India daripada dari China.

Masyarakat umum non akademik sering mengabaikan perbedaan antara asumsi penemuan artefak dengan wilayah penyebaran bahasa dan penyebaran DNA. Tentu saja sangat menarik atas penemuan benda-benda artefak di Sumatra (kjoken moddinger dari Heine Geldren) dengan di lembah Tonkin dan Dongson. Itu juga adalah fakta. Tapi, ini adalah juga fakta, fakta linguistik, bahwa Vietnam berbahasa Indochina, sedangkan penduduk Sumatra berbahasa Austronesia.

Kalau benda-benda itu memang mirip dan diyakini of the same origin, sehingga diasumsikan pula bahwa penduduk Sumatra berasal dari Hindia Belakang (dengan membawa pengetahuan menciptakan benda dari asalnya), mengapa DNA penduduk Sumatra lebih didominasi India daripada Indochina?

Di pihak lain, ada juga teori bahwa agama-agama di Indonesia adalah Hindu, Budha, dan Hindu-Budha sebelum masuknya Islam dan belakangan Kristen. Atas dasar teori ini, diasumsikan pula tradisi membakar mayat di Karo adalah tradisi Hindu. Atas dasar pencarian nilai-nilai Hindu di tradisi Karo maka beberapa tokoh Balai Pustaka Adat Merga Silima yang terpecah belah setelah Pemilu 1971, maka dibentuklah Persatuan Hindu Karo pada tahun tahun 1972 di Restoran Asia, Berastagi, dengan kehadiran pemilik Perguruan Khalsa dan Lamlo dari Medan. Brahma Putro (K.S. Brahmana) yang menjadi Direktur SMA Khalsa pada saat itu menjadi perantara tokoh India itu (yang kemudian menjadi Ketua Persatuan Hokki Seluruh Indonesia) dengan sisa-sisa pentolan Balai Pustaka Adat Merga Silima.

Kehinduan tradisi Karo masih menyisakan banyak masalah ilmiah. Menurut asumsi ilmiah dari jaman kolonial, bukan hanya Karo, tapi semua suku di Sumatra dan Jawa serta Bali dan bebeapa pulau lainnya telah menganut Hindu. Tapi, mengapa pembakaran mayat hanya kita temukan di Karo dan Bali? Lagipula, merga-merga yang dikatakan dari India ternyata tidak dibakar mayatnya. Terbukti dari adanya geriten Brahmana di Limang.

Lagipula, pembakaran mayat di Karo tidak terbatas hanya pada merga-merga yang dikatakan berasal dari India. Yang dibakar terutama yang korban sakit cacar (atau penyakit menular lainnya), perempuan si mate ranak, dan beberapa jenis mate sada wari lainnya.

Desa Dokan pernah memiliki giriten yang kemudian, saat tiba masanya, giriten itu dibawa ke sebuah perladangan (di lokasi SD Dokan yang sekarang) dan dibakar di sana bersama isinya. Lalu abunya ditabur di perladangan itu.

Mengapa tidak ada tradisi ini di Batak?
Bagian 3B ini telah menunjukkan pada kita bagaimana asumsi-asumsi ilmiah jaman baholak telah dijadikan mitos sehingga bukan lagi writing culture yang terjadi tapi melainkan creating culture.

Seperti halnya orang-orang terlalu mudah mengklaim tradisi pembakaran mayat adalah Hindu, demikian juga Waldemar Hutagalung terlalu mudah menciptakan Tarombo Siraja Batak.

Boleh dikatakan, sayalah orang pertama yang mencuatkan nama Waldemar Hutagalung ini di media sosial sehingga sekarang semua orang tahu akan dirinya. Saya juga yang pertama kali menyebut Batak terdiri dari Toba, Samosir, Humbang dan Silindung sehingga sekarang banyak orang tahu. Bahkan DPRD Sumut sudah menganut ini dalam penyebutan Batak di situs resmi mereka.

Tapi, keduanya saya lalui dengan sejuta makian dari orang-orang Batak dan Karo. Demikian juga, saya yang pertama kali mencuatkan tidak ada fakta lapangannya rakut sitelu kecuali memainkan mitos kaum terpelajar dan, sampai sekarang, masih terus dimaki-maki. Tak apa, suatu saat nanti, kalian akan berkata " Bere Karo ndai nge maka malemna".

Entah bas kuburenku nge pagi maka bage ning kena. Gundari puasi sajalah memaki-maki mama Ginting enda.


Artikel ini telah tayang di Group Facebook : Jamburta Merga Silima dengan judul "Menelusuri Pemikiran Tentang Karo".
Penulis : Juara R Ginting
Kredit Foto : @imanuelsginting
Editor : Willem A Sinuraya

Artikel

Baca Artikel Lainnya

Review Product

Artikel

Jasa Pengiriman
Bank Transfer
Copyright © 2018 Karo Gaul - All Rights Reserved
%10
%17
%20
%25
%30
%40
+100
+300
+350
+500
$100000
$150000
$200000
$240000
$250000
artikel
batak news
brando mamana
distro karo gaul
dunia karo
education
ekonomi
humor
islam
Jaket
Jaket Karo
kampus
kaos
Kaos Karo
kaos karo gaul
karo artis
karo gaul
karo gokil
karo islam
karo kuliner
karo news
karo puisi
karo sejarah
karo sumatera
karo unik
karo wisata
KBB
Kesing
Kesing Karo
kolom
kompas
langka
laucih
Lifestyle
Mata Najwa
medan
meme karo
Millennial
modus
motivasi
Mug
Mug Karo
nasional
news
Ng. Sembiring
nias news
peristiwa
Potret
produk
Promo
Q&A
riong
sadis
singgamanik
store
sumut
Tempat Wisata di Indonesia
Theodorus Ginting
tiger karo
Topi
Topi Karo
trending
video
viral