Apa yang akan terjadi jika Indonesia berperang melawan Tiongkok?
Indonesia secara tegas menyatakan bahwa Natuna adalah wilayah kedaulatan dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang sah menurut UNCLOS 1982. Namun China tetap bersikukuh mengklaim sebagian wilayah tersebut sebagai bagian dari Laut China Selatan (LCS) melalui peta nine-dash line yang hingga kini tidak diakui hukum internasional.
Artikel ini mencoba memberikan analisa kekuatan militer Indonesia dan China, sekaligus membedah apa sebenarnya yang diperebutkan di kawasan Natuna dan LCS.
Perbandingan Kekuatan Militer Indonesia vs China
1. Armada Laut: Dominasi China di Samudra
Jika konflik terjadi di wilayah laut, China unggul mutlak dari sisi kuantitas dan proyeksi kekuatan.
China:
4 kapal induk (aircraft carrier) dengan puluhan jet tempur
76 kapal selam
33 kapal penghancur (destroyer)
33 pangkalan laut
Indonesia:
Tidak memiliki kapal induk
5 kapal selam
Tidak memiliki kapal penghancur
11 pangkalan laut
Dari data ini saja terlihat jelas bahwa dalam skenario perang laut terbuka, Indonesia berada pada posisi defensif.
2. Armada Darat: Selisih Jauh dalam Skala
China:
±13.000 tank tempur
4.000 kendaraan lapis baja
2.000 peluncur roket
4.000 artileri otomatis
6.246 artileri manual
Indonesia:
315 tank tempur
1.300 kendaraan lapis baja
36 peluncur misil
141 artileri otomatis
356 artileri manual
China unggul bukan hanya dalam jumlah, tetapi juga dalam kapasitas produksi dan mobilisasi perang jangka panjang.
3. Armada Udara: Jurang Kekuatan yang Lebar
China:
1.222 pesawat tempur
1.564 pesawat pembom
281 helikopter perang
±1.000 helikopter
193 pesawat angkut
Indonesia:
41 pesawat tempur
65 pesawat pembom dan meriam anti-udara
8 helikopter perang
192 helikopter
Jika ditotal, Indonesia hanya memiliki sekitar 451 armada udara aktif, jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan kekuatan udara China.
Lalu, Apa yang Sebenarnya Diperebutkan?
Pertanyaannya bukan sekadar Natuna, melainkan Laut China Selatan secara keseluruhan.
Kepulauan Spratly: Harta Karun Asia Tenggara
Wilayah LCS diperkirakan menyimpan:
11 miliar barel minyak bumi
190 triliun kaki kubik gas alam
Sekitar 10% populasi ikan dunia
Artinya, kawasan ini adalah:
Jalur ekonomi strategis
Sumber energi masa depan
Penopang ketahanan pangan global
Tak heran jika China sangat serius menguasai wilayah ini, bahkan telah membangun instalasi militer permanen sejak 2017 di beberapa pulau buatan Kepulauan Spratly.
Militerisasi LCS dan Ancaman bagi ASEAN
Foto-foto pengintaian udara menunjukkan:
Pangkalan militer aktif
Sistem radar canggih
Instalasi peluncuran misil jarak jauh
China juga bersengketa dengan:
Filipina (Spratly)
Vietnam (Paracel)
Indonesia (Natuna Utara)
Artinya, konflik ini bukan lagi isu bilateral, melainkan ancaman langsung terhadap stabilitas ASEAN.
Dimensi Global: Bayangan Perang Dunia?
China tidak berdiri sendiri. Mereka memiliki kedekatan strategis dengan:
Rusia
Iran
Korea Utara
Di sisi lain:
Amerika Serikat memiliki hubungan militer kuat dengan Filipina
AS juga rutin melakukan freedom of navigation operation di LCS
Pertanyaannya:
Apakah konflik Laut China Selatan berpotensi menjadi pintu masuk konflik global di Asia Tenggara?
Perang Bukan Solusi, Diplomasi adalah Jalan Realistis
Jika perang terbuka terjadi antara Indonesia dan China, maka secara realistis:
Indonesia akan berada pada posisi bertahan
Kerugian ekonomi dan geopolitik akan sangat besar
Stabilitas ASEAN akan terguncang
Karena itu, jalur diplomasi, hukum internasional, dan solidaritas regional ASEAN menjadi kunci utama menghadapi tekanan geopolitik ini.
Saya pribadi berharap sengketa wilayah ini dapat diselesaikan secara damai, adil, dan saling menguntungkan, tanpa harus mengorbankan stabilitas kawasan dan masa depan generasi Asia Tenggara.
Terima kasih telah membaca.
Semoga analisa ini bermanfaat.