Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

pengcarasumatera

Rumah Makan Marikena : Mencicipi Masakan Karo Halal yang Melegenda


Karogaul.com - Bagi sebagian besar orang Medan, daerah Padang Bulan memang terkenal tempat pemukiman bagi masyarakat yang mayoritas bersuku, apalagi Karo. Kalau bicara kuliner khasnya pun pasti nggak jauh-jauh dari yang namanya Saksang dan BPK. Tapi pada eksplorasi kita kali ini, ada sebuah rumah makan yang justru tampil stand out di antara kompetitornya karena satu alasan: masakannya HALAL sobat karo gaul.

Seperti namanya Marikena yang berarti “marilah kemari!” dalam bahasa Karo, rumah makan Muslim ini selama lebih dari setengah abad mengajak kita semua untuk mencoba masakan khas Karo yang nggak kalah enak rasanya meski tanpa B2. *BaBi*

Kiri-kanan: Leo, Bintang, dan Bobby asyik melahap masakan khas Marikena sambil syuting video untuk Quimak (Quick MakanMana Guide)

“Biring, apa sih menu khas di Marikena?”
“Ayam Cipera dan Ayam Petai, Nak ku. Pakai ayam kampung. Ikan Mas Arsik juga.”

Kakak beradik nenek Biring sedang memilah Andaliman saat ditemui MaMa.

Melewati area cuci piring, kami langsung bertemu dengan 2 orang nenek yang sedang duduk memilah-milah andaliman. Ternyata mereka berdua kakak beradik 
sobat karo gaul. Dari penuturan sang cucu perempuan yang nggak mau disebut namanya, sang kakak sudah berusia sekitar 80-an sedangkan adiknya sudah 75.

Bintang sih memanggil sang nenek “Biring” (sebutan untuk nenek br Sembiring dalam Bahasa Karo). “Biring, apa sih menu khas di Marikena?”
“Ayam Cipera dan Ayam Petai, Nak ku. Pakai ayam kampung. Ikan Mas Arsik juga.” jawab beliau dengan logat Karo yang kental.



Waktu itu sekitar jam 11 pagi menjelang siang, dapur tempat memasak di belakang mereka pas lagi sibuk-sibuknya menyiapkan makanan yang akan dijual di steling depan 
sobat karo gaul. Aku dan kru MaMa langsung dibuat takjub dengan pemandangan unik di depan mata: panci-panci besar seukuran meja makan berisi sayuran tengah dimasak di atas tungku kayu bakar. Apinya yang berkobar melepaskan hawa panas yang cukup menyengat, bikin kami kesulitan untuk mendekatinya.



Mungkin karena sudah terbiasa, para juru masak yang sibuk menuang dan mengaduk masakan itu sama sekali tidak kelihatan kesusahan bekerja di tengah kepulan asap yang menusuk mata. Salut!



Sambil menahan pedihnya mata, aku pun berbincang dengan cucu nenek Biring yang mengawasi pekerjaan di dapur. Ternyata tumpukan kayu yang menggunung di salah satu sisi dapur adalah kayu bakar yang diperoleh dari sisa bangunan. Karena pancinya besar, tentu butuh nyala api yang besar juga untuk memasak. Pakai gas pasti mahal, jadi solusinya pakai kayu bakar. Tapi akibatnya, asap jadi menjalar ke mana-mana.



Setiap harinya, kesibukan dapur sudah dimulai sejak jam 6-7 pagi. Anggota keluarga Biring akan standby untuk mulai memasak dan nenek Biring yang mengontrol langsung penggunaan bumbu-bumbu masaknya. Sekitar jam 10-11 biasanya menu masakan sudah selesai dimasak dan dibawa ke rak depan untuk dijual, terutama untuk diborong para driver ojol yang sudah mengantri di samping kedainya.

Sebenarnya menu yang dijual di kedai nasi ini tidak banyak macamnya. Selain menu standar seperti tauco dan sayur jipang, makan di sini so pasti wajib memesan menunya yang terkenal, yaitu Ayam Cipera dan Ayam Petai, keduanya menggunakan ayam kampung yang jarang dijumpai di rumah makan di Medan pada umumnya.

Ayam Cipera IDR 23 ribu/porsi

Sekilas, Ayam Cipera penampilannya mirip gulai kari ayam tapi bedanya menu tradisional Karo ini tidak menggunakan santan sehingga sausnya cenderung lebih encer dari gulai sobat karo gaul. Warna kuning dan teksturnya diperoleh dari serutan tepung jagung dan rempah-rempah, seperti bawang, serai, dan lainnya. Rasanya sendiri asin gurih, pas banget disantap bersama nasi.



Sementara bagi kamu pencinta P-E-T-E, you should try cita rasa ayam kampung yang dimasak dengan sambal tomat dan petai yang segar, gurih, dan nge-blend dengan petainya. Mantul pokoknya 
sobat karo gaul!

Ayam gorengnya juga enak, apalagi kalau bumbu serundengnya dicampur bersama sambal tomat dan nasi hangat, hmm…nikmat Tuhan apa lagi yang mau kamu dustakan?

Selain ayam, menu Ikan Mas Arsiknya yang dimasak dengan andaliman dan asam cakalang juga nggak kalah sedap. Oh ya, ada tips menikmati ikan Mas dari Bintang, nih!

Ikan Arsik IDR 19 ribu/porsi

Jadi dalam kultur orang Karo, bagian ikan yang paling diminati adalah perut atau kepalanya 
sobat karo gaul. Khusus untuk Ikan Mas Arsik Batak Toba, biasanya dilengkapi dengan “uram-uram” atau sayur-sayuran yang dimasukkan ke dalam perut ikan mas, misalnya bawang batak muda utuh. Bahkan ikan mas yang sudah bermalam, bisa digoreng beserta uram-uramnya untuk mendapatkan cita rasa yang lebih mantap lagi.



MaMa suka dengan Ikan Mas Arsik-nya yang terasa fresh dan gak amis. Menu lainnya yang tersedia adalah Ikan Nila Goreng Sambal, Ikan Nila Gulai, Ayam Bakar, Ayam Goreng, dan Telur Dadar. Biasanya 
sobat karo gaul, kalau makan di sini, hidangan dasarnya adalah sepiring nasi putih, nasi tambo, sambal tomat terpisah, dan kuah gulai daun ubi.

Air Nira IDR 6 ribu/botol

Setelah makan, jangan lupa untuk pesan sebotol Air Nira dinginnya yang dikirim langsung dari Sibolangit 
sobat karo gaul. Manis dan menyegarkan rasanya! Karena Marikena adalah rumah makan Muslim, tentu saja minuman ini non-alkohol. Persediaannya juga terbatas dan biasanya tidak dianjurkan untuk dikonsumsi lagi lewat dari sehari.

Jika mau mampir, MaMa anjurkan datang lebih awal agar kebagian bangku dan tidak kehabisan menu pilihan. Marikena juga menerima pesanan katering partai besar untuk keperluan berbagai acara. Akhir kata, *Ekokenaaa Man Nake!

*Mari Makan! (Bahasa Karo)

RUMAH MAKAN ISLAM MARIKENA
Jl. Letjend. Jamin Ginting No. 94 Padang Bulan, Medan
Telp. 081264612261
Jam Buka: 10.00 – 21.00 WIB (Setiap hari)
Tidak ada cabang.

Demikianlah ulasan signkat mengenai "Rumah Makan Marikena : Mencicipi Masakan Karo Halal yang Melegenda" apakah kamu tertarik kulineran di tempat yang menggugah selera ini ?