Widget HTML #1

Sejarah Kota Medan: Ahoy Mejuah-juah sebagai Simbol Persaudaraan Karo dan Melayu

Wali Kota Medan Bobby Afif Nasution dan istrinya Kahiyang Ayu ikut menari dalam Kerja Tahun Merdang Merdem dilaksanakan di Istana Maimun Kesultanan Deli, Medan, Sumatera Utara, Rabu (29/6/2022).
kompas.id

Kota Medan saat ini telah berkembang menjadi salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia. Bahkan, secara demografis dan ekonomi, Medan sering disebut sebagai kota metropolitan terbesar ketiga setelah Jakarta dan Surabaya. Namun, di balik modernitas gedung pencakar langit dan hiruk pikuk perkotaan, Medan memiliki akar sejarah dan identitas budaya yang kuat, yang tidak dapat dilepaskan dari peran Suku Karo dan Melayu.

Asal-usul Kota Medan: Kampung Madan dan Guru Patimpus

Pemerintah Kota Medan dan DPRD Kota Medan secara resmi mengakui bahwa cikal bakal Kota Medan berasal dari sebuah perkampungan kecil bernama Madan. Kampung ini didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi, seorang tokoh dari Suku Karo yang berasal dari kawasan Ajijahe, Dataran Tinggi Karo.

Penetapan Guru Patimpus sebagai pendiri Kota Medan bukanlah tanpa dasar. Sejumlah catatan sejarah dan literatur lokal menyebutkan bahwa wilayah pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura menjadi lokasi awal terbentuknya permukiman Madan, yang kemudian berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan.

Medan Sejak Awal: Ruang Hidup Karo dan Melayu

Meski Kampung Madan didirikan oleh Guru Patimpus, penting untuk dipahami bahwa wilayah di sekeliling Madan telah lama dihuni oleh komunitas Suku Karo dan Melayu. Oleh sebab itu, sejarah Kota Medan tidak dapat dipahami secara tunggal, melainkan sebagai hasil interaksi panjang antara dua kelompok etnis utama tersebut.

Secara historis, Kota Medan berdiri di atas:

  • Tanah-tanah ulayat Suku Karo di wilayah hulu,

  • Tanah-tanah ulayat Melayu di wilayah hili.

Fakta ini dapat ditelusuri melalui:

  • nama-nama kampung tua,

  • toponimi wilayah,

  • struktur adat,

  • serta catatan kolonial dan lokal yang masih dapat dijumpai hingga hari ini.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa penduduk asli Kota Medan adalah masyarakat Suku Karo dan Melayu, yang secara turun-temurun telah menetap dan membangun kawasan ini jauh sebelum Medan berkembang menjadi kota modern.

Ikatan Sejarah Karo–Melayu dan Kesultanan Deli

Hubungan antara Suku Karo dan Melayu di Medan tidak hanya bersifat geografis, tetapi juga historis dan genealogis. Ikatan ini diperkuat melalui hubungan pernikahan antara leluhur Kesultanan Deli dengan beru Surbakti dari Kerajaan Serbanaman (Sunggal), sebuah wilayah yang secara historis merupakan basis kekuasaan Karo.

Jejak hubungan tersebut masih dapat dilihat hingga kini, salah satunya melalui keberadaan Geriten Karo (rumah tulang atau belulang) yang berdiri di halaman Istana Maimoon, pusat Kesultanan Deli.

Ketika Sultan Deli memindahkan pusat kerajaan dari Labuhan Deli ke Medan, Geriten Karo tersebut turut dipindahkan dan didirikan kembali di lingkungan istana. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa Geriten bukan sekadar bangunan simbolik, melainkan penanda penting hubungan spiritual, adat, dan kekerabatan antara Karo dan Melayu dalam sejarah Medan.

“Ahoy Mejuah-juah”: Salam Identitas Kota Medan

Pada tahun 2014, Pemerintah Kota Medan di bawah kepemimpinan Wali Kota Medan Zulmi Eldin sempat menggagas penggunaan “Ahoy Mejuah-juah” sebagai salam khas dan resmi Kota Medan.

Makna salam ini sangat mendalam:

  • “Ahoy” adalah salam khas masyarakat Melayu Deli, sedangkan

  • “Mejuah-juah” merupakan salam penuh doa dan harapan baik dari Suku Karo.

Penggabungan kedua salam ini mencerminkan realitas sejarah dan identitas Medan sebagai kota yang lahir dari peradaban Karo dan Melayu. Secara filosofis, “Ahoy Mejuah-juah” bukan hanya sapaan, melainkan simbol persatuan, penghormatan, dan keberagaman.

Sayangnya, gagasan tersebut belum sepenuhnya berjalan optimal. Gaung “Ahoy Mejuah-juah Medan” masih terdengar samar, bahkan di kalangan warga Medan sendiri. Namun demikian, upaya ini tidak pernah terlambat untuk dihidupkan kembali.

Ahoy Mejuah-juah sebagai Monumen Tak Benda Medan

Lebih dari sekadar salam, “Ahoy Mejuah-juah Medan” memiliki potensi besar untuk menjadi monumen tak benda (intangible heritage) Kota Medan sebuah simbol persaudaraan yang hidup dalam keseharian masyarakat.

Menggaungkan kembali salam ini berarti:

  • merawat ingatan sejarah Kota Medan,

  • menghormati tanah dan leluhur Karo serta Melayu,

  • serta memperkuat identitas Medan sebagai kota multikultural yang berakar kuat pada sejarah lokalnya.

Upaya ini idealnya dimulai dari masyarakat Karo dan Melayu Medan sendiri, kemudian diperluas kepada seluruh warga kota, tanpa memandang latar belakang etnis dan budaya.

Kota Medan bukan sekadar ruang urban modern, tetapi sebuah warisan sejarah yang dibangun di atas tanah, budaya, dan persaudaraan Suku Karo dan Melayu. Oleh karena itu, sudah sepantasnya identitas kota ini dirawat bersama.

Ahoy Mejuah-juah Medan bukan hanya salam ia adalah pengingat sejarah, simbol kebersamaan, dan cermin jati diri Kota Medan.