Efraim Getsmani Ginting, Bocah Karo yang Warisi Cinta Musik dari Ibunya, Pembuat Kulcapi

Di sebuah desa bernama Dokan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, hidup seorang anak muda yang tumbuh bersama irama alat musik tradisional dari tanah leluhurnya. Namanya Efraim Getsmani Ginting, siswa SMP yang tidak hanya mencintai musik, tetapi juga menjadi simbol generasi penerus budaya Karo melalui alat musik khas bernama kulcapi.
Namun, kisah Efraim bukan sekadar tentang seorang anak yang pandai memainkan alat musik. Ia adalah buah dari cinta, perjuangan, dan keteguhan seorang ibu, Eliana Br. Sembiring (42) wanita pembuat kulcapi yang karyanya kini dikenal hingga ke Belanda.
Nada Pertama dari Kasih Ibu
Sejak kecil, Efraim sudah akrab dengan bunyi petikan kulcapi. Ibunya, Eliana, sering memetik alat musik itu sambil tersenyum. Dari situlah ia belajar bahwa kulcapi bukan sekadar instrumen, tetapi warisan jiwa orang Karo yang sarat makna dan doa.
Saat Eliana menyadari bahwa anaknya memiliki bakat luar biasa dalam memainkan kulcapi, ia bertekad membuatkan alat itu dengan tangannya sendiri. Tidak mudah prosesnya panjang dan membutuhkan ketelatenan tinggi. Ia harus memilih kayu tualang tua, mengeringkannya selama berbulan-bulan, lalu memahat hingga menyerupai bentuk khas kulcapi berdawai dua.
“Jiwaku memang jiwa seni. Aku ingin buat sesuatu untuk anakku, untuk bantu keperluan sekolahnya, dan untuk meneruskan budaya Karo,” ujar Eliana suatu kali kepada DAAI Medan.
Bagi Efraim, setiap alat musik buatan ibunya adalah pengingat kasih yang tak lekang oleh waktu.
“Kalau aku main kulcapi, rasanya seperti mamak selalu di dekatku. Lihat alat itu saja, langsung ingat mamak,” ucap Efraim dengan suara lembut namun penuh rasa bangga.
Dari Ladang ke Panggung Tradisional
Setiap selesai membuat kulcapi, Eliana selalu menyerahkan hasil karyanya kepada Efraim untuk dicoba. Ia adalah penguji pertama setiap karya ibunya. Jika ada bagian yang kurang nyaman atau nada yang belum sempurna, Efraim akan memberi masukan dengan jujur.
Kini, alat musik buatan ibunya sering ia mainkan di berbagai acara adat Karo dan kegiatan budaya di sekolah. Petikan kulcapi-nya selalu mengundang decak kagum, karena bukan hanya nadanya yang indah, tetapi juga cerita di balik pembuatannya cerita tentang seorang ibu yang menciptakan harapan dari serpihan kayu hutan.
Efraim tak sekadar memainkan alat musik; ia menghidupkan kembali suara leluhur yang hampir punah. Ia menjadi generasi muda yang menolak lupa, yang menjadikan musik tradisional sebagai identitas dan kebanggaan.
Harapan Seorang Anak untuk Ibunya
Bagi Efraim, ibunya bukan hanya pembuat kulcapi, melainkan penjaga warisan budaya Karo. Ia tahu betapa sulitnya membuat satu alat musik itu dari memilih bahan hingga menjualnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Semoga mamak panjang umur, supaya bisa terus buat kulcapi,” ujar Efraim dengan mata berbinar.
“Soalnya di Tanah Karo, kulcapi sudah mulai jarang. Aku ingin mamak jadi orang yang melestarikannya.”
Kata-kata sederhana itu menggambarkan betapa besar rasa cinta dan hormat Efraim kepada ibunya. Ia menyadari, dari tangan seorang ibu yang penuh luka dan kerja keras, lahirlah suara yang menjaga kebudayaan tetap hidup.
Suara Kulcapi, Suara Cinta yang Tak Pernah Padam
Bagi masyarakat Karo, kulcapi bukan hanya alat musik, melainkan bagian dari jiwa dan tradisi. Biasanya dimainkan dalam upacara adat, pesta pernikahan, atau pertunjukan seni rakyat. Namun kini, lewat tangan Eliana dan permainan lembut Efraim, kulcapi menemukan kehidupan barunya — menjadi simbol cinta antara ibu dan anak, antara masa lalu dan masa depan.
Efraim tahu, tugasnya bukan sekadar menjadi pemain kulcapi, tapi juga penjaga budaya. Ia ingin lebih banyak anak muda Karo mencintai warisan leluhur mereka.
“Musik ini bukan sekadar hiburan. Ini cara kami menjaga identitas,” katanya dengan mantap.
Tentang Kulcapi Karo
-
Alat musik tradisional khas Suku Karo, dimainkan dengan cara dipetik.
-
Hanya memiliki dua senar, terbuat dari kayu tualang tua.
-
Dibutuhkan waktu 4–5 bulan untuk membuat satu kulcapi.
-
Nilainya bisa mencapai jutaan rupiah tergantung bahan dan ukiran.
Kisah inspiratif Efraim Getsmani Ginting, bocah asal Tanah Karo yang meneruskan warisan budaya melalui alat musik tradisional kulcapi buatan ibunya, Eliana Br. Sembiring. Dari cinta dan ketulusan seorang ibu, lahirlah generasi muda yang menjaga harmoni budaya Karo tetap hidup.