Kata “Bah” dan Jejak Linguistik Sungai di Taneh Karo

KARO juga pernah menggunakan kata “Bah” untuk menyebut sungai. Saya awali dengan membaca puisi sebuah duet maut antara Mpu Gondrong dan Chairil Anwar:
“Bagi anak kerbo tonggal ku lau, la lit tujunna de la kin keina.”
“Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang.”
Dari puisi ini, kita melangkah ke kisah penciptaan alam dalam kitab “Tuang Tembe Pertibi ras Manusia.”
Disebutkan bahwa pada mulanya dunia ini hanyalah Lawit Samadora samudra maha luas penuh genangan air.
Di tengah samudra itu tumbuhlah sebatang pohon bernama Galinggang Raja. Akar-akar pohon itu kemudian menahan tanah dan terus meluas hingga terbentuklah daratan dan pulau-pulau.
Menariknya, kata “menahan” atau “menyangga” dalam bahasa Melanesia disebut KARO yang berarti “penunjang” atau “penyangga”. Jejak linguistik ini tampak dalam istilah seperti Karo Bara dan berbagai kata serupa di rumpun bahasa Melanesia.
Ragam Sebutan Sungai di Nusantara
Di Indonesia, istilah untuk menyebut sungai sangat beragam dan unik di tiap daerah:
-
Aceh: Krueng, Lawe
-
Bengkulu: Air
-
Sumatra Barat & Jambi: Batang
-
Bali: Tukad, Jeh
-
Jawa: Banyu, Ci, Kali, Bengawan
Dalam bahasa asing, kata river (Inggris), rivier (Belanda), dan riviera (Prancis) memiliki akar etimologi yang sama, namun maknanya kini telah berkembang jauh berbeda.
Istilah Sungai di Sumatera
Khusus di Sumatera Utara, tiap suku memiliki istilah khas untuk menyebut aliran air:
| Suku | Istilah | Contoh Nama Sungai |
|---|---|---|
| Karo | Lau | Lau Bengap, Lau Biang, Lau Beringin |
| Simalungun | Bah | Bah Bolon, Bah Jambi, Bah Butong |
| Pakpak | Lae | Lae Pondom, Lae Ordi, Lae Kombih |
| Batak Toba | Aek | Aek Kanopan, Aek Sirulla, Aek Sibundong |
| Mandailing | Batang | Batang Hari, Batang Toru, Batang Gadis |
| Alas | Lawe, Kali | Lawe Deski, Kali Alas |
Perhatikan bahwa kata “Bah” ternyata bukan hanya milik Simalungun. Dalam beberapa istilah kuno dan nama tempat, orang Karo juga pernah memakainya seperti Lau Bura (bukan Lau Babura). Bahkan, kata Labah dalam bahasa Karo menunjuk pada bagian tempat berjalan di rumah adat (jabu), yang memiliki akar kata sama dengan Bah.
Menggugat Asumsi Sejarah yang Kaku
Sayangnya, keanekaragaman linguistik ini jarang diteliti secara ilmiah. Para akademisi cenderung enggan mempertanyakannya karena tidak sesuai dengan dua asumsi besar yang telah lama melekat dalam kajian sejarah dan arkeologi Sumatera Utara: difusionisme dan gelombang migrasi.
-
Difusionisme berasumsi bahwa bahasa dan budaya menyebar dari satu tempat ke tempat lain melalui perdagangan, migrasi, atau kekuasaan.
Contohnya, pengaruh kata-kata Sanskerta pada bahasa-bahasa rumpun Austronesia. -
Teori Gelombang Migrasi meyakini bahwa ada satu pusat kebudayaan yang menyebar bersama perpindahan manusia.
Misalnya, anggapan bahwa semua bahasa Austronesia berasal dari Yunan, Taiwan, atau Kalimantan.
Dalam konteks Sumatera Utara, teori ini melahirkan asumsi populer bahwa bahasa dan budaya Batak berpusat di Pusuk Buhit, lalu menyebar ke daerah sekitarnya sehingga bahasa Karo dianggap hanya turunan dari bahasa Batak.
Namun, benarkah demikian?
Sejak pernyataan Dr. Petrus Voorhoeve di masa kolonial, pandangan ini nyaris tak pernah digugat. Ia terus diulang-ulang oleh akademisi setelahnya seperti taik anyut yang ikut arus tanpa bertanya arah.
Karo: Suku Gaul dengan Bahasa Kaya
Jika kita cermati, Bahasa Karo justru mengenal hampir semua istilah sungai yang digunakan oleh suku-suku sekitarnya kecuali Kali, Aek, dan Sungai.
Varian kata seperti Lae dan Lawe jelas masih satu rumpun dengan Lau. Bahkan kata Leuwi dalam bahasa Sunda punya kemiripan bentuk fonetik.
Istilah Batang pun muncul dalam Bahasa Karo, terutama dalam bentuk Lau Batang, yang berlawanan makna dengan Lau Anak.
Ini menunjukkan bahwa Bahasa Karo memiliki fleksibilitas dan daya serap tinggi terhadap budaya sekitarnya menjadikannya suku yang “gaul” dalam konteks linguistik.
Namun, segaul-gaulnya Karo, mereka tetap punya batas:
kata Sungai (Melayu), Kali (Jawa), dan Aek (Batak-Mandailing) tidak pernah digunakan.
Dalam bahasa politiknya, Karo adalah suku ramah dan terbuka, tapi tahu batas dan alurnya.
Makna Batang dan Pematang
Dalam konteks bahasa, kata Batang bisa berarti trunk (batang pohon), namun dalam konteks lain berarti main stream (arus utama).
Kata ini juga menimbulkan pertanyaan menarik terkait istilah Pematang di Simalungun seperti Pematang Siantar, Pematang Raya, dan Pematang Purba.
Sementara dalam Bahasa Karo, kita mengenal ungkapan seperti “batang unjuken” dan pepatah:
“Ugapa pe ganjangna kunangkihi batang atekuna ngenana.”
(Seberapa panjang pun batang hati, akhirnya tetap berakar pada rasa.)
Atau dalam lagu Karo:
KelengiNdu min aku bagi perkeleng batang dagingNdu.
(Kasihmu padaku seperti sayang pada batang tubuhmu sendiri.)
Dari sinilah terlihat: dalam bahasa, sungai, dan makna “batang”, orang Karo tidak hanya menamai alam, tetapi juga menanamkan filosofi hidup bahwa setiap aliran memiliki sumber, setiap batang punya akar, dan setiap kata menyimpan sejarah panjang sebuah peradaban.