Widget HTML #1

Tuan Rondahaim Saragih Resmi Jadi Pahlawan Nasional: Raja Simalungun yang Ditakuti Belanda

Pemerintah Republik Indonesia resmi menetapkan Tuan Rondahaim Saragih Garingging (1828–1891) sebagai Pahlawan Nasional 2025. Gelar tersebut dianugerahkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.

Penetapan Rondahaim didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Nama Rondahaim sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat Kabupaten Simalungun dan Kota Pematang Siantar. Namanya diabadikan sebagai nama jalan dan rumah sakit daerah (RSUD) di wilayah tersebut. Namun, gelar Pahlawan Nasional membuat perjuangannya kini tercatat resmi dalam sejarah bangsa.

Siapa Tuan Rondahaim Saragih Garingging?

Rondahaim adalah Raja ke-14 Kerajaan Raya di Simalungun, yang kini termasuk wilayah Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang gagah berani, sakti, dan ahli strategi perang dalam menentang kolonial Belanda.

Cicitnya, Lukman Rudi Saragih Garingging (56), menjelaskan bahwa Rondahaim bukan hanya pemimpin lokal, tetapi tokoh yang berhasil mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di Simalungun untuk melawan penjajahan.

Rondahaim bahkan pernah menerima Bintang Jasa sebagai Tokoh Provinsi Sumatera Utara dari Presiden BJ Habibie melalui Keppres RI No.077/TK/1999.

Strategi Perlawanan yang Membuat Belanda Ketakutan

Ketika Belanda berusaha memperluas kekuasaan ke Tanah Simalungun, Rondahaim melakukan konsolidasi besar. Beliau membentuk pasukan gabungan dari beberapa kerajaan di Simalungun:

✅ Raja Siantar
✅ Raja Bandar
✅ Raja Sidamanik
✅ Raja Tanah Jawa
✅ Raja Pane
✅ Raja Raya
✅ Raja Purba
✅ Raja Silimakuta
✅ Raja Dolok Silou

Pasukan ini dilatih menjadi pasukan gerilya dan kavaleri, dengan penguasaan medan yang membuat Belanda kesulitan menembus wilayah Simalungun. Rondahaim lalu menunjuk Torangin Damanik dari Kerajaan Sidamanik sebagai Panglima Besar.

“Ketika Rondahaim masih hidup, Belanda tidak berani memijakkan kaki sejengkal pun di tanah Simalungun,” ujar Lukman Rudi.

Senjata pasukan pun bukan seadanya. Mereka memperoleh meriam dan perlengkapan perang dari aktivitas barter rempah-rempah melalui Malaka, yang saat itu masih dikuasai Portugis. Bukti peninggalan meriam Rondahaim masih tersimpan di Kodim Simalungun dan Kabupaten Batubara.

Kisah Cerdik yang Membuat Belanda Gemetar

Salah satu kisah paling terkenal adalah peristiwa di Pelabuhan Matapao. Ketika Belanda berniat berunding, Rondahaim justru mengirim orang lain yang sangat mirip dengannya, lengkap dengan pakaian kebesaran dan kuda kerajaan.

Namun saat orang tersebut tiba, Beliau langsung ditembak sebelum turun dari kuda.

“Belanda mengira itu Rondahaim. Padahal bukan. Sejak saat itu mereka semakin takut,” kata Lukman Rudi.

Keberhasilan Rondahaim juga tampak dalam aksi-aksi perlawanan di wilayah Residen Sumatera Timur, termasuk dalam pembakaran ladang tembakau Deli milik kolonial Belanda.

Akhir Hidup dan Terbukanya Jalan Penjajahan

Tuan Rondahaim wafat pada tahun 1891 dalam usia lanjut. Beliau dimakamkan di Desa Aman Raya, Kecamatan Raya, tidak jauh dari pusat pemerintahan Kerajaan Raya pada masa itu.

Setelah Tuan Rondahaim Saragih meninggal, kepemimpinan kerajaan diteruskan oleh putranya, Tuan Kapoltakan Saragih Garingging.

Namun wafatnya Rondahaim menjadi titik balik besar bagi Simalungun. Kabar kematiannya diketahui Belanda melalui seorang pendeta. Setelah itu, kolonial menggempur wilayah Simalungun, hingga tujuh kerajaan akhirnya takluk.

Perlawanan masih berjalan selama empat tahun, tetapi pada akhirnya penjajahan tidak bisa dihindari.

Warisan Sejarah yang Banyak Hilang

Sayangnya, hampir seluruh artefak kerajaan musnah akibat revolusi sosial yang terjadi setelah kemerdekaan Indonesia.

“Semua artefak Kerajaan Raya, termasuk emas dan benda berharga peninggalan leluhur, habis akibat revolusi sosial di Simalungun,” jelas Lukman Rudi.

Meski begitu, gelar Pahlawan Nasional 2025 menjadi bentuk pengakuan negara atas perjuangan Rondahaim mempertahankan kedaulatan tanah Simalungun.

Sejajar Dengan Tokoh-Tokoh Besar Indonesia

Tahun ini, Rondahaim diangkat sebagai Pahlawan Nasional bersama tokoh besar lain seperti:

  • Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

  • Soeharto

  • Marsinah

  • Rahmah El Yunusiyyah

  • Syaikhona Muhammad Kholil

  • dan lainnya

Tuan Rondahaim Saragih Garingging bukan hanya pemimpin lokal, tetapi pemersatu kerajaan-kerajaan Simalungun, ahli strategi, dan simbol perlawanan terhadap kolonial Belanda. Dengan penetapan sebagai Pahlawan Nasional, perjuangannya kini mendapat tempat resmi dalam sejarah Republik Indonesia.