Widget HTML #1

Menggali Tulang Setelah 50 Tahun: Tradisi Karo yang Salah Dinilai Sebagai Animisme

Ritual pemakaman masyarakat Suku Karo sering kali disalahartikan oleh peneliti asing sebagai bentuk kepercayaan animisme primitif. Kesalahpahaman ini muncul karena banyak foto ritual adat Karo yang tampil di buku-buku berbahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Perancis tanpa penjelasan yang tepat. Padahal ritual tersebut memiliki struktur budaya yang kompleks, serta didasari oleh pemahaman kosmologi dan perhitungan waktu yang sangat maju.

Salah satu ritual yang sering disalahpahami adalah Ngampeken Tulan-tulan (ku Giriten) upacara pemindahan tulang belulang leluhur. Foto-foto upacara ini sering menampilkan tengkorak atau tulang yang seolah-olah masih disembah, sehingga memunculkan anggapan bahwa masyarakat Karo masih mempraktikkan animisme. Faktanya, tulang-tulang tersebut sudah dikubur lebih dari 50 tahun, dan proses pemindahan adalah bagian dari tahapan pemakaman yang telah berlangsung turun-temurun.

Tahapan Pemakaman Masyarakat Karo (Karo Mortuary System)

Tradisi Karo mengenal empat tahap pemakaman yang sangat teratur, mendalam, dan memiliki filosofi spiritual yang tinggi.

1. First Mortuary – Penguburan Pertama

Pada tahap awal, jenazah dikuburkan di tanah seperti pemakaman umumnya. Proses ini menjadi permulaan perjalanan arwah menurut kepercayaan Karo.

2. Second Mortuary – Penggalian dan Penyimpanan Tulang

Setelah ±50 tahun, ketika seluruh jaringan tubuh telah membusuk secara alami, tulang belulang digali kembali. Tulang-tulang yang tersisa kemudian:

  • disimpan dalam baka, yaitu keranjang rotan khusus

  • diletakkan di Para Negeng (ruang penyimpanan di rumah adat)

Tahap ini bukan bentuk pemujaan. Ini adalah penghormatan leluhur, sekaligus bagian dari proses mempersatukan kembali keluarga besar yang telah meninggal.

3. Third Mortuary – Pemindahan ke Giriten

Setelah disimpan cukup lama, tulang belulang kemudian dipindahkan ke Giriten, sebuah bangunan atau struktur yang didedikasikan sebagai tempat penyimpanan tulang leluhur. Di sini tulang-tulang dihimpun berdasarkan hubungan:

  • senina

  • sembuyak

  • anak beru

  • kalimbubu

Giriten menjadi simbol pengikat identitas keluarga, garis keturunan, serta keseimbangan hubungan kekerabatan Karo.

4. Fourth Mortuary – Pembakaran Tulang dan Pelepasan Abu

Tahap terakhir adalah pembakaran tulang belulang bersama bangunan giriten. Abu hasil pembakaran kemudian ditebarkan di tempat khusus di tanah kampung (taneh kuta). Proses ini melambangkan:

  • pelepasan terakhir arwah

  • penyatuan unsur tubuh dengan alam

  • akhir perjalanan ritual pemakaman

Upacara ini dapat dilakukan di kampung masing-masing, atau dalam acara besar Pekuwaluh – Ngombak di Lau Biang Seberaya, khususnya untuk kelompok Merga Sembiring Singombak.

Kosmologi Karo yang Kompleks: Bukan Animisme Primitif

Salah satu kekeliruan terbesar dalam buku-buku asing adalah anggapan bahwa tradisi Karo hanya berdasarkan animisme. Padahal, sistem waktu dan kosmologi Karo sangat canggih. Contohnya:

  • konsep Gendang 50 - 2

  • perhitungan waktu yang selaras dengan rotasi bulanan Bulan

  • hubungan dengan Delapan Penjuru Angin (Desa Si Waluh)

Ini menunjukkan bahwa tradisi Karo memadukan astronomi, pemahaman alam, dan spiritualitas dalam satu sistem yang teratur.

Keterkaitan Dengan Mitologi Putri Hijau

Tradisi pemakaman Karo juga berhubungan erat dengan legenda-legenda penting, salah satunya Putri Hijau—tokoh mitologi yang dipercaya berasal dari keturunan beru Sembiring Meliala dari Seberaya. Dalam kisahnya, Putri Hijau akhirnya menetap di dasar lautan.

Ritual Ngombak dalam Pekuwaluh menempatkan seseorang yang meninggal sebagai “penguasa” atau “penjaga” dunia bawah air, mencerminkan simbolisme yang sama seperti kisah Putri Hijau. Bahkan dalam Hikayat Sultan Deli, legitimasi seorang sultan disebut diperoleh setelah mendapat restu dari Putri Hijau di dasar laut.

Hubungan antara ritual pemakaman dan mitologi ini menunjukkan betapa dalamnya filosofi masyarakat Karo dalam memahami kehidupan, kematian, dan hubungan manusia dengan alam gaib.

Pelestarian Budaya dan Penguatan Identitas

Berbagai kegiatan budaya seperti pentas seni, talk show, hingga diskusi arkeologi dan antropologi terus dilakukan oleh komunitas-komunitas Karo untuk melestarikan warisan leluhur. Topik-topik seperti Giriten, Benteng Putri Hijau, dan sejarah para leluhur menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas Karo di tengah modernisasi.

Ritual pemakaman Karo bukanlah praktik animisme primitif seperti yang sering digambarkan dalam buku-buku asing. Sebaliknya, ini adalah warisan budaya yang sistematis, filosofis, dan sangat teratur, didukung oleh:

  • struktur tahapan pemakaman

  • kosmologi yang canggih

  • hubungan kuat dengan mitologi dan sejarah

  • penghormatan mendalam kepada leluhur

Salah satu kesalahpahaman terbesar berasal dari kurangnya penjelasan detail mengenai konteks budaya tersebut. Dengan memahami tahapan dan maknanya, terlihat jelas bahwa budaya Karo memiliki sistem spiritual dan sosial yang kaya, dalam, dan sangat terhormat.