Bermain Dua Kaki dalam Wacana Identitas Suku

Tulisan ini berangkat dari kegelisahan intelektual yang muncul setelah membaca berbagai argumen akademik tentang identitas suku yang pada permukaannya tampak hati hati dan berimbang namun ketika dibaca lintas konteks justru memperlihatkan perubahan standar yang tidak pernah dinyatakan secara terbuka.

Dalam satu jalur pembahasan, identitas suku diperlakukan sebagai konstruksi sosial historis yang tidak dapat ditentukan oleh bahasa maupun genetika. Bahasa ditempatkan sebagai sistem komunikasi, genetika sebagai data biologis, sementara identitas sosial diposisikan sebagai hasil pengalaman kolektif dan proses sejarah yang kompleks. Pendekatan ini terdengar matang dan sejalan dengan antropologi kontemporer.

Masalahnya muncul ketika kerangka tersebut tidak dipertahankan secara konsisten.

Pada pembahasan tertentu, terutama ketika objek kajian diarahkan pada Karo dan kelompok sekitarnya, standar kehati hatian tersebut mulai mengendur. Bahasa tidak lagi berhenti pada relasi struktural dan sejarah pemisahan, tetapi bergerak mendekati fungsi penanda identitas. Genetika kembali disinggung bukan sebagai data yang diuji, melainkan sebagai isyarat yang dibiarkan bekerja secara implisit. Identitas suku yang sebelumnya ditekankan sebagai kompleks secara perlahan ditarik mendekati kesimpulan klasifikatif.

Pergeseran ini terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Pada satu posisi, bahasa dan DNA dinyatakan tidak memiliki kewenangan epistemik untuk menentukan identitas suku. Pada posisi lain, keduanya dibiarkan menopang narasi identitas selama tidak ditantang secara langsung. Ketika kritik muncul, argumen kembali berlindung pada gagasan kompleksitas identitas. Ketika kritik mereda, reduksi itu berjalan kembali tanpa koreksi.

Di sinilah praktik bermain dua kaki metodologis menjadi sulit disangkal.

Persoalannya tidak terletak pada perbedaan kesimpulan, melainkan pada standar yang diterapkan secara selektif. Metodologi ilmiah tidak bekerja berdasarkan kenyamanan konteks. Prinsip tidak boleh lentur mengikuti objek kajian. Jika bahasa tidak berwenang pada satu kasus, maka ketidakberwenangan itu berlaku pada semua kasus. Jika genetika dinyatakan tidak relevan untuk identitas suku, maka ketidakterkaitan itu tidak boleh bersyarat.

Bahasa tidak pernah naik kelas menjadi penentu identitas sosial tanpa melampaui batas kewenangannya sendiri. Genetika tidak pernah sah sebagai dasar identitas suku tanpa data yang dapat diverifikasi dan diuji ulang. Ketika kedua domain ini digunakan secara longgar demi menghasilkan efek wacana, yang bekerja bukan lagi analisis ilmiah, melainkan strategi argumentatif.

Pola ini menghasilkan dampak yang jelas. Publik menerima pesan ganda. Identitas suku dipahami sebagai konstruksi sosial ketika kehati hatian dibutuhkan, tetapi didekatkan pada klasifikasi linguistik dan biologis ketika itu mendukung arah tertentu. Otoritas akademik tetap terjaga, sementara konsistensi epistemik dikorbankan secara diam diam.

Dalam konteks ini, kritik bukanlah serangan personal atau penolakan emosional. Kritik merupakan respons logis terhadap praktik keilmuan yang mengubah aturan main tanpa pernah mengakuinya. Ilmu pengetahuan tidak runtuh karena perbedaan pendapat. Ilmu pengetahuan runtuh ketika standar epistemiknya dinegosiasikan secara senyap.

Bermain dua kaki mungkin efektif dalam arena wacana publik. Dalam kerja ilmiah, posisi seperti itu selalu rapuh karena cepat atau lambat inkonsistensi akan terbaca oleh siapa pun yang bersedia membaca lebih dari satu teks dan menghubungkannya secara jujur.