Dunia Tak Lagi Diperebutkan, Tapi Dibagi Diam-Diam

Narasi tentang New World Order sering dianggap teori konspirasi. Padahal, yang sedang terjadi justru lebih sederhana dan lebih dingin. Dunia sedang bergerak dari ambisi satu penguasa global ke pembagian wilayah pengaruh yang lebih realistis.
Amerika Serikat tidak lagi punya energi ekonomi dan politik untuk menjadi polisi dunia. Beban utang, konflik berkepanjangan, dan tekanan domestik memaksa Washington menata ulang prioritas. Fokus ke kawasan sendiri bukan pilihan ideologis, tetapi keharusan fiskal dan politik.
Rusia juga berada pada posisi serupa. Perang Ukraina bukan tentang ekspansi tanpa batas, melainkan usaha memulihkan zona pengaruh lama yang selama puluhan tahun tergerus. Isolasi ekonomi membuat Moskow harus mencari jalan damai yang memungkinkan kembali ke sistem perdagangan global.
China mengambil peran paling pragmatis. Pertumbuhan ekonomi tetap menjadi urat nadi stabilitas internal. Perang terbuka adalah risiko yang terlalu mahal. Karena itu Beijing memilih jalur negosiasi dan pembagian pengaruh melalui mitra strategis, bukan konfrontasi langsung.
Yang menarik, ini bukan aliansi resmi. Tidak ada perjanjian tertulis, tidak ada deklarasi besar. Yang ada adalah kesadaran bersama bahwa perang besar hanya akan menghancurkan semua pihak. Dunia tidak dipimpin oleh satu tangan, tetapi dikelola melalui kompromi kekuasaan.
Prediksi tentang Eropa dan Taiwan juga harus dibaca dalam kerangka ini. Perubahan politik di Jerman, bila benar terjadi, bukan soal ideologi, melainkan kelelahan ekonomi. Sementara Taiwan bukan lagi soal apakah akan bersatu, tetapi kapan dan dengan model apa.
Dunia tidak sedang menuju kekacauan, tetapi menuju keteraturan baru yang lebih keras dan lebih jujur. Negara-negara besar berhenti berpura-pura idealis dan mulai bersikap realistis. Dan seperti biasa, negara kecil hanya bisa menyesuaikan diri atau tersingkir.