Etimologi Bukan Perasaan, Membaca Karo Lewat Kata Tubuh dan Ritual

dok. page tuhor karo dusun

Etimologi kerap disalahpahami sebagai permainan kata yang bertumpu pada kemiripan bunyi atau intuisi semata. Pandangan semacam ini tidak hanya menyederhanakan persoalan tetapi juga mengaburkan posisi etimologi sebagai kerja ilmiah. Etimologi menuntut penguasaan teori linguistik perbandingan lintas bahasa pengalaman lapangan serta keberanian untuk menguji ulang asumsi yang telah lama diterima.

Ketertarikan terhadap etimologi umumnya tumbuh dari kesadaran bahwa kata bukanlah benda mati. Setiap kata membawa jejak sejarah kontak peradaban serta cara suatu masyarakat membangun dan memahami makna. Dalam konteks bahasa Karo pembahasan mengenai asal usul kata kerap dianggap bersandar pada perasaan. Anggapan ini keliru karena diskusi etimologi telah lama menjadi bagian dari kajian akademik sejak masa kolonial dan terus berkembang hingga kini.

Secara teoretis etimologi berpijak pada linguistik historis yang menjelaskan bahwa kata mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Kata pasir dapat mengalami penyusutan bunyi menjadi sir lalu berkembang menjadi sira yang di berbagai bahasa daerah bermakna garam. Pola perubahan semacam ini bukan kebetulan melainkan gejala linguistik yang dapat ditelusuri dan diuji.

Kerangka lain yang tidak kalah penting adalah linguistik komparatif. Banyak bahasa daerah di Indonesia berada dalam rumpun Austronesia dengan Bahasa Melayu sebagai salah satu jalur historis penting. Pada saat yang sama bahasa bahasa tersebut juga dipengaruhi oleh Sanskerta Arab Tionghoa Portugis Belanda dan Inggris. Kesamaan kosa kata tidak dapat secara otomatis ditafsirkan sebagai bukti satu asal usul etnis. Dalam banyak kasus kesamaan tersebut justru menunjukkan adanya perjumpaan budaya.

Hal ini tampak jelas dalam perbandingan lintas rumpun bahasa. Di wilayah Asia Tenggara daratan istilah manuchia digunakan untuk menyebut manusia. Fakta ini menunjukkan bahwa kata manusia dalam Bahasa Indonesia maupun jelma manusia dalam bahasa Karo merupakan pinjaman Sanskerta. Kesamaan tersebut tidak mengindikasikan satu rumpun bahasa melainkan satu lapis sejarah peradaban yang pernah berpengaruh luas.

dok. page tuhor karo dusun

Dalam bahasa dan ritual Karo terdapat kosa kata yang terdengar sangat lokal namun menyimpan jejak sejarah lintas budaya. Istilah engkahulken yang merujuk pada persembahan kambing atau ayam hidup dalam ritual ercibal anjab berkaitan dengan konsep kaul atau kahul yang dikenal dalam Melayu Sumatera dan berakar hingga Bahasa Arab. Demikian pula kata seluk yang digunakan untuk menyebut keadaan kesurupan roh tertentu. Istilah ini dapat dibaca berkelindan dengan konsep suluk dalam tradisi Islam yang merujuk pada laku meditasi spiritual.

Namun pembacaan etimologi Karo tidak berhenti pada penelusuran pinjaman bahasa. Pada tahap tertentu pembahasan bergerak ke wilayah yang lebih mendasar yakni bagaimana masyarakat merepresentasikan dirinya sendiri. Kata kalimbubu menjadi contoh penting. Berbagai tafsir pernah diajukan mulai dari keterkaitan dengan bubu sebagai perangkap ikan hingga dengan mbut mbut yang berarti ubun ubun. Penjelasan yang lebih kuat muncul ketika sumber leksikografis mencatat kalimbubu sebagai ubun ubun. Temuan ini sejalan dengan pemahaman bahwa istilah tulang berakar pada kata tula yang juga bermakna ubun ubun.

Pembahasan ini membawa pada ranah antropologi simbolik. Dalam Kalender Karo Tula menempati posisi berngi ke lima belas tepat di tengah tiga puluh berngi dalam satu paka. Apabila satu bulan dibayangkan sebagai tubuh manusia maka posisi tersebut sejajar dengan ubun ubun. Dengan demikian relasi kekerabatan penanggalan dan kosmologi terhubung dalam satu sistem simbolik yang konsisten.

Logika representasi tubuh juga tampak dalam ritual kurban. Masyarakat dihadirkan sebagai tubuh seekor hewan. Dalam upacara nurun nurun cawir metua seekor kerbau disembelih. Empat tulan putur atau pangkal paha dibagikan kepada sangkep nggeluh yang terdiri dari sembuyak anak beru kalimbubu dan senina. Bagian bagian halus dicampur darah menjadi bohan bohan untuk persembahan sementara kepala dan ekor disisakan untuk makan malam setelah runggu. Daging selebihnya dibagikan kepada seluruh hadirin.

Pada titik ini etimologi tidak lagi berdiri sebagai kajian asal kata semata melainkan sebagai jalan untuk membaca struktur sosial. Masyarakat dipahami dan dihadirkan sebagai tubuh yang dibagi menurut sistem relasi yang diakui bersama. Ungkapan Kai patungna yang digunakan untuk menanyakan hewan apa yang dijadikan lauk mencerminkan cara pandang tersebut.

Dengan demikian etimologi Karo dapat dipahami sebagai upaya membaca sejarah struktur sosial dan cara berpikir masyarakat melalui kata. Kata kata tersebut hidup saling terhubung dan membentuk sistem makna yang tidak dapat direduksi hanya sebagai turunan bahasa lain. Di sanalah letak kekuatan etimologi sebagai alat pembacaan peradaban.