GREENLAND TITIK NOL PERANG DUNIA BERIKUTNYA

Dunia sedang memasuki fase berbahaya yang sering luput dari perhatian publik. Ketika perang Ukraina mulai terasa jauh dan konflik Gaza berubah menjadi rutinitas layar kaca, sebuah krisis baru justru mengeras di wilayah yang selama ini dianggap sunyi dan beku. Greenland.

Pulau raksasa di utara Atlantik itu tidak sedang diperebutkan karena penduduknya atau pariwisatanya. Greenland diperebutkan karena satu alasan yang jauh lebih mengerikan. Letaknya menentukan siapa yang menguasai Arktik dan Arktik menentukan wajah kekuasaan global abad ke dua puluh satu.

Dalam beberapa pekan terakhir, pernyataan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang keinginan menguasai Greenland memicu reaksi berantai. Denmark memperkuat militernya. Negara negara Eropa mengirim pasukan. NATO bergerak bukan ke luar, melainkan ke dalam wilayah sekutunya sendiri. Ini bukan respons biasa. Ini tanda bahaya.

Greenland berada di jalur terpendek antara Amerika Utara dan Rusia. Setiap radar di sana menentukan detik pertama peringatan rudal lintas benua. Setiap pangkalan udara di sana menentukan siapa yang lebih dulu melihat, lebih dulu bergerak, dan lebih dulu menembak. Di era senjata hipersonik, selisih menit berarti kehancuran atau keselamatan.

Namun militer bukan satu satunya alasan. Es Arktik mencair. Jalur pelayaran baru terbuka. Sumber daya mineral strategis muncul dari perut bumi yang selama ribuan tahun terkunci. Rare earth, uranium, minyak, dan gas kini tidak lagi tersembunyi. Greenland berubah dari tanah beku menjadi harta karun geopolitik.

Ancaman Amerika Serikat terhadap Greenland bukan sekadar tekanan diplomatik. Itu adalah ujian terhadap fondasi NATO sendiri. Jika satu anggota aliansi militer terbesar dunia mengancam kedaulatan anggota lain, maka solidaritas tidak lagi sakral. Aliansi berubah menjadi transaksi. Keamanan berubah menjadi tawar menawar.

Eropa membaca ini dengan sangat serius. Respons cepat Denmark dan kehadiran militer Prancis serta negara Eropa lain bukan sekadar simbol. Itu pernyataan tegas bahwa Arktik bukan halaman belakang siapa pun. Terutama bukan halaman belakang kekuatan yang mulai bertindak sepihak.

Menariknya, perpecahan justru tampak jelas di dalam Amerika Serikat sendiri. Kongres mengajukan undang undang untuk mencegah pendanaan aneksasi Greenland. Para senator berusaha menenangkan Kopenhagen. Ini bukan sekadar beda pendapat politik. Ini konflik arah sejarah. Apakah Amerika tetap memimpin lewat aliansi atau kembali ke logika kekuasaan telanjang.

Rusia mengamati dengan tenang. China mencatat dengan teliti. Setiap retakan di NATO adalah peluang strategis. Setiap konflik internal Barat mempercepat pergeseran dunia menuju tatanan multipolar yang lebih keras dan lebih dingin.

Greenland sejajar dengan Ukraina dan Taiwan. Tiga wilayah berbeda. Satu pola yang sama. Dunia sedang bergeser dari aturan menuju kekuatan. Dari diplomasi menuju tekanan. Dari konsensus menuju paksaan.

Yang membuat situasi ini mencekam adalah kesunyian publik. Isu Greenland nyaris tidak dibicarakan di Asia Tenggara. Padahal perubahan jalur pelayaran Arktik akan mempengaruhi perdagangan global. Ketegangan NATO akan mempengaruhi harga energi. Ketidakstabilan Arktik akan berdampak pada iklim yang kita rasakan langsung.

Dunia sedang bergerak ke fase konflik baru yang tidak diawali oleh tembakan, melainkan oleh peta, pernyataan, dan pengerahan pasukan yang disebut latihan. Ketika es mencair, batas juga ikut mencair. Dan ketika batas mencair, perang tidak lagi dimulai dengan ledakan. Perang dimulai dengan klaim.

Jika Greenland jatuh ke dalam logika kekuasaan sepihak, maka tidak ada lagi wilayah yang benar benar aman. Bahkan yang paling jauh sekalipun.