IHSG Tembus 9.000, Didukung Kebijakan Pro-Growth dan Arus Dana Asing

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan tonggak sejarah baru pada Kamis, 8 Januari 2026, dengan menembus level psikologis 9.000. Pencapaian ini mencerminkan penguatan pasar modal Indonesia yang berkelanjutan, setelah sempat mengalami tekanan signifikan hingga kisaran 5.800 pada April 2025.

Penguatan IHSG kali ini didorong oleh kombinasi kebijakan fiskal yang mendukung pertumbuhan ekonomi, kembalinya arus dana asing, serta peran investor ritel domestik yang semakin dominan dalam menjaga likuiditas pasar.

Kenaikan Berkelanjutan Sejak Agustus 2025

Secara historis, IHSG pertama kali menyentuh level 8.000 pada 15 Agustus 2025, bertepatan dengan pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto. Dalam kurun waktu sekitar 146 hari, indeks kembali menguat hingga menembus 9.000, atau meningkat sekitar 12,5%.

Pergerakan ini menunjukkan adanya kepercayaan pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional serta ekspektasi positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pada April 2025, pasar saham domestik sempat mengalami koreksi tajam seiring meningkatnya ketidakpastian global. Sentimen proteksionisme internasional yang muncul kala itu memicu kehati-hatian investor secara luas.

Namun, tekanan tersebut bersifat sementara. Fundamental ekonomi Indonesia yang relatif stabil serta respons kebijakan yang terukur berhasil mendorong pemulihan pasar secara bertahap hingga mencapai posisi saat ini.

Penguatan pasar saham juga tidak terlepas dari berbagai kebijakan fiskal strategis yang dinilai mendukung pertumbuhan. Sejumlah langkah yang menjadi perhatian pelaku pasar antara lain:

  • Pengetatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam

  • Penyesuaian bea keluar komoditas strategis seperti emas dan batubara

  • Pembatalan rencana kenaikan cukai rokok

Kebijakan tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas penerimaan negara, memperkuat cadangan devisa, serta mendukung daya beli masyarakat, khususnya pada sektor konsumsi domestik.

Optimisme APBN dan Kembalinya Minat Investor Asing

Sentimen positif pasar juga diperkuat oleh optimisme terhadap realisasi APBN 2025, yang menunjukkan kinerja fiskal relatif solid. Kondisi ini memberikan keyakinan bahwa pemerintah masih memiliki ruang kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Data perdagangan menunjukkan adanya arus dana asing masuk (foreign inflow) sejak Desember 2025 hingga awal Januari 2026. Investor global menilai pasar saham Indonesia menawarkan valuasi yang kompetitif serta prospek pertumbuhan laba emiten yang menarik di tengah ketidakpastian global.

Sejumlah analis menilai keberhasilan IHSG menembus 9.000 membuka peluang penguatan lanjutan, meskipun risiko global masih perlu dicermati. Perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada:

  • Akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional

  • Implementasi program prioritas pemerintah

  • Ruang pelonggaran suku bunga Bank Indonesia

  • Arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed)

Di sisi lain, faktor geopolitik regional dan global tetap menjadi risiko yang dapat memicu volatilitas pasar dalam jangka pendek.

Penguatan IHSG juga ditopang oleh kontribusi signifikan investor ritel domestik, yang kini menyumbang porsi besar dari total transaksi harian. Struktur pasar yang lebih seimbang ini membantu menjaga stabilitas perdagangan di tengah fluktuasi eksternal.

Dari sisi global, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter di negara maju turut memberikan sentimen positif. Penurunan suku bunga global berpotensi meningkatkan aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tercapainya level 9.000 pada IHSG mencerminkan kombinasi antara kebijakan ekonomi yang terarah, kepercayaan investor domestik, serta minat investor global terhadap pasar Indonesia. Meski tantangan eksternal masih ada, struktur pasar yang semakin kuat memberikan dasar yang lebih solid bagi pergerakan IHSG ke depan.