Menempatkan Jurnal Loyang Mendale–Ujung Karang secara Ilmiah

Setiap kerja ilmiah berangkat dari keraguan. Keraguan bukan untuk meniadakan pengetahuan, melainkan untuk memastikan bahwa sebuah peristiwa dipahami melalui jalur yang dapat diuji. Dalam disiplin ilmu, keraguan itu bekerja melalui tahapan yang jelas. Data dikumpulkan, dievaluasi menjadi fakta, disusun dalam kerangka teori, lalu diuji berulang kali sampai membentuk konsep yang dapat dipertanggungjawabkan.
Masalah muncul ketika urutan tersebut dibalik. Konsep diperlakukan sebagai fakta, teori diasumsikan sebagai peristiwa, dan mitologi digunakan sebagai fondasi kronologi sejarah.
Pola kekeliruan inilah yang menjadi latar perdebatan ketika sebuah artikel saya ditantang dengan rujukan jurnal berjudul Loyang Mendale and Loyang Ujung Karang Sites and Their Potential as Sources for Learning History. Jurnal tersebut memang penting dan bernilai. Namun, persoalan utama bukan terletak pada kualitas jurnal, melainkan pada cara jurnal tersebut digunakan untuk membenarkan klaim yang berada di luar ruang lingkupnya.
Jurnal Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang secara tegas merupakan kajian pendidikan sejarah. Fokus utamanya adalah pemanfaatan tinggalan arkeologis prasejarah Aceh Tengah sebagai sumber pembelajaran sejarah di tingkat sekolah menengah. Data arkeologi yang dibahas, mulai dari budaya Hoabinhian hingga Neolitikum Austronesia, ditempatkan sebagai materi ajar yang kontekstual dan lokal. Tujuannya pedagogis, bukan rekonstruksi asal-usul etnis atau legitimasi narasi identitas historis tertentu.
Di titik ini, perbedaan domain menjadi krusial. Arkeologi prasejarah bekerja pada rentang waktu ribuan tahun sebelum terbentuknya identitas etnis sebagaimana dipahami hari ini. Temuan kerangka manusia, alat batu, gerabah, dan sistem penguburan dari 7.000 hingga 4.000 tahun lalu tidak serta-merta dapat ditarik menjadi kesimpulan tentang asal-usul etnis Karo, Batak, atau kelompok etnis lain yang baru terbentuk jauh kemudian. Identitas etnis merupakan konstruksi sosial dan historis, bukan kategori biologis langsung.
Karena itu, kedekatan genetik atau kontinuitas hunian tidak otomatis berarti kontinuitas identitas. Jurnal tersebut sendiri tidak pernah menyimpulkan bahwa temuan di Loyang Mendale atau Loyang Ujung Karang membuktikan asal-usul etnis tertentu. Penyebutan kedekatan genetik dengan populasi modern hanya berfungsi sebagai konteks lokal, bukan sebagai klaim etnogenesis.
Artikel saya justru bergerak pada disiplin yang berbeda. Fokus utama bukan menolak data arkeologi, melainkan menolak cara data digunakan secara melampaui batas metodologis. Kritik diarahkan pada kebiasaan menurunkan narasi besar tentang migrasi dan asal-usul etnis dari konsep yang tidak pernah diuji secara kronologis di tingkat lokal. Salah satu contohnya adalah teori bahwa masyarakat Karo di Langkat Hulu dan Deli Hulu merupakan pendatang dari Dataran Tinggi Karo.
Secara historis, migrasi Karo pada masa kolonial dan pascakolonial memang terdokumentasi. Namun, fakta etnografis dan arsitektural menunjukkan bahwa sebelum periode tersebut telah berdiri perkampungan Karo lengkap dengan rumah adat, jambur, sapo page, dan geriten. Pertanyaan mendasarnya sederhana tetapi menentukan. Sejak kapan kampung-kampung itu ada.
Hingga hari ini, tidak tersedia satu pun data kronologis yang dapat diverifikasi secara ilmiah untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tanpa penanggalan arkeologis, klaim migrasi tersebut tidak dapat dinaikkan dari teori menjadi fakta. Beban pembuktian tidak berada pada pihak yang meragukan, melainkan pada pihak yang mengajukan klaim.
Legitimasi teori migrasi tersebut umumnya diperoleh dari sebuah konsep besar yang menempatkan Karo sebagai bagian dari “Batak” yang dipahami sebagai satu kawasan budaya dengan pusat simbolik di Sianjur Mula-mula, kaki Gunung Pusuk Buhit. Dari pusat konseptual ini kemudian diturunkan narasi penyebaran yang melahirkan Karo, Simalungun, Pakpak, Toba, Angkola, dan Mandailing.
Ketika konsep ini ditelusuri ke fondasi dasarnya, yang dijumpai bukan fakta sejarah, melainkan mitologi. Narasi Siraja Batak menceritakan asal-usul dari langit. Sebagai mitologi, kisah tersebut memiliki fungsi simbolik dan kultural yang sah. Namun, mitologi tidak dapat diperlakukan sebagai bukti kronologis.
Di sinilah temuan arkeologis justru berfungsi membatasi klaim mitologi, bukan memperluasnya. Temuan di Loyang Gayo Aceh Tengah menunjukkan keberadaan manusia purba berusia lebih dari 5.000 tahun melalui penanggalan karbon. Penggalian di Sianjur Mula-mula sendiri menunjukkan usia hunian sekitar 800 tahun. Angka ini penting bukan karena kecil atau besar, melainkan karena implikasinya. Klaim “kampung tertua” berskala mitologis tidak memperoleh dukungan data arkeologi.
Dalam konteks ini, jurnal Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang tidak bertentangan dengan artikel saya. Justru sebaliknya, jurnal tersebut secara implisit menegaskan bahwa prasejarah, identitas, dan mitologi adalah domain yang harus dipisahkan secara metodologis. Bahkan ketika membahas migrasi Austronesia, jurnal tersebut tidak menawarkan narasi tunggal. Jalur alternatif melalui Thailand dan Sumatra Barat justru dibuka sebagai kemungkinan, menunjukkan bahwa sejarah tidak berjalan linear sesuai asumsi lama.
Kesalahan metodologis yang sama muncul ketika teori tandingan diajukan, misalnya anggapan bahwa penyebaran manusia selalu bergerak dari pantai ke pegunungan. Anggapan tersebut diturunkan dari logika migrasi besar Asia Daratan ke Asia Kepulauan, tetapi tidak disertai data lokal yang konkret. Tanpa bukti empiris, teori semacam ini tidak lebih kuat daripada teori yang dikritiknya.
Dalam kerja ilmiah, arah migrasi tidak ditentukan oleh logika yang terasa masuk akal, melainkan oleh data yang dapat diuji. Jika data tersedia, pengujian dapat dilakukan secara terbuka. Jika data belum ada, kejujuran ilmiah menuntut agar penjelasan dihentikan pada batas yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sejarah tidak dibangun dari keyakinan yang diwariskan, melainkan dari fakta yang diuji. Pada titik inilah martabat ilmu pengetahuan dijaga, bukan dengan memperbanyak klaim, melainkan dengan berani mengakui batas pengetahuan.