Mengenal Tuan Guru Haji Sulaiman Tarigan, Tokoh Penyebar Islam di Tanah Karo
![]() |
| Foto: Alm. Persadaan Tarigan (Tuan Guru Haji Sulaiman Tarigan) |
Tuan Guru Haji Sulaiman Tarigan dikenal sebagai salah satu tokoh utama penyebaran Islam di Tanah Karo, Sumatera Utara. Peran penting tokoh ini tidak hanya terbatas pada aktivitas dakwah, tetapi juga mencakup bidang pendidikan, sosial, dan perjuangan kemerdekaan. Pendekatan budaya yang digunakan membuat ajaran Islam dapat diterima secara damai di tengah masyarakat Karo yang memiliki adat dan sistem kekerabatan yang kuat.
Tuan Guru Haji Sulaiman Tarigan lahir di Juhar, Kabupaten Karo. Sebelum memeluk Islam, nama yang digunakan adalah Persadaan Tarigan. Latar belakang keluarga berasal dari kalangan bangsawan Karo. Ayahnya, Juan Tarigan, dikenal sebagai pemimpin adat yang bijaksana dan sering dipercaya masyarakat untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial. Lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai kearifan lokal menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidupnya.
Proses masuknya Islam dalam keluarga Tarigan terjadi melalui perjalanan spiritual yang panjang. Bersama kakeknya, Sibayak Juan Tarigan, Sulaiman Tarigan mendalami ajaran Islam di Kutacane, Aceh Tenggara. Di wilayah tersebut, pemahaman keislaman diperkuat melalui pengajian, pembelajaran kitab, serta interaksi dengan ulama-ulama setempat. Beberapa kitab klasik yang kemudian diajarkan kepada masyarakat dan kalangan intelektual antara lain Perukunan, Matla’ul Badrain, Sairu al-Salikin, dan Sabil al-Muhtadin.
Sekitar tahun 1925, dakwah Islam mulai dilakukan secara aktif di wilayah Tiga Beringin. Pengajian sederhana menjadi sarana awal penyebaran ajaran Islam, sebelum akhirnya berkembang dan dipindahkan ke Kuala Baru, Kecamatan Tiga Binanga. Dari kegiatan pengajian inilah lahir embrio pendidikan Islam yang lebih terstruktur di Tanah Karo.
Keistimewaan dakwah Sulaiman Tarigan terletak pada kemampuannya memahami adat dan budaya Karo secara mendalam. Sistem kekerabatan Sangkep Sitelu atau Daliken Sitelu dimanfaatkan sebagai media dakwah yang efektif. Nilai-nilai Islam disampaikan melalui adat, seni, dan tradisi yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat. Pendekatan ini menjadikan Islam tidak hadir sebagai sesuatu yang asing, melainkan sebagai ajaran yang selaras dengan kehidupan sosial orang Karo.
Sebagai bentuk dakwah berkelanjutan, didirikan Madrasah yang kemudian berkembang menjadi Pesantren Sirajul Huda. Lembaga pendidikan ini tercatat sebagai pesantren pertama di Tanah Karo. Selain mengajarkan ilmu agama, pesantren tersebut juga menanamkan nilai kearifan lokal agar generasi Muslim Karo tetap berakar pada identitas budaya. Hingga kini, Pesantren Sirajul Huda masih berperan penting dalam pendidikan dan dakwah Islam di wilayah Karo.
Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Sulaiman Tarigan turut aktif dalam kegiatan politik dan militer. Keterlibatan dalam pendirian Partai Masyumi di Tanah Karo serta pembentukan Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah menjadi bukti kontribusi nyata dalam perjuangan nasional. H. Abdul Razak Tarigan dipercaya sebagai komandan pasukan, dengan latar belakang pengalaman militer pada masa pendudukan Jepang. Selain itu, Sulaiman Tarigan juga tercatat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama pertama di Kabupaten Karo.
Dalam kehidupan sosial dan keluarga, penekanan kuat diberikan pada kepatuhan terhadap ajaran Islam tanpa menghilangkan jati diri sebagai orang Karo. Prinsip yang dipegang adalah bahwa Islam dan adat dapat berjalan beriringan selama tidak bertentangan dengan akidah. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang dalam menjalin komunikasi, silaturahmi, dan hubungan kekerabatan. Kehadiran dalam berbagai acara adat dan pesta keluarga mencerminkan sikap toleransi yang konsisten dijaga.
Warisan terbesar Tuan Guru Haji Sulaiman Tarigan terletak pada keberhasilan dakwah kultural yang menanamkan Islam secara damai di Tanah Karo. Makam tokoh ini di Tiga Beringin hingga kini menjadi tempat ziarah sekaligus pengingat sejarah masuknya Islam di wilayah tersebut. Pesantren Sirajul Huda dan nilai-nilai moderasi yang diwariskan terus hidup dan memberi pengaruh dalam kehidupan masyarakat Karo hingga masa sekarang.
