Pelita Monald Ginting dan Upaya Merekam Sejarah Karo yang Hampir Terlupa

Di tengah derasnya arus informasi digital, tidak semua orang memilih jalan yang populer. Sebagian justru bergerak ke arah yang sunyi, mendatangi kampung lama, rumah adat yang ditinggalkan, kuburan tua tanpa penanda, serta berbagai peninggalan yang nyaris tak lagi dibicarakan. Di ruang inilah Pelita Monald Ginting menempatkan perannya.

Nama tersebut dikenal luas sebagai pengelola media sosial komunitas yang aktif menyampaikan informasi lokal Tanah Karo dan Sumatera Utara. Namun, terdapat sisi lain yang kerap luput dari perhatian publik, yakni kerja dokumentasi visual terhadap peninggalan sejarah Suku Karo.

Dari Berita Harian ke Rekaman Sejarah Lapangan

Melalui kanal Facebook Watch, aktivitas yang dilakukan tidak berhenti pada penyampaian peristiwa harian. Banyak video memperlihatkan kunjungan langsung ke lokasi-lokasi yang menyimpan ingatan panjang masyarakat Karo. Rumah adat tua yang tak lagi dihuni, sisa kampung lama yang tertutup semak, geriten dan makam leluhur, hingga lanskap adat yang mulai tergerus perubahan zaman terekam apa adanya.

Pendekatan yang digunakan bersifat sederhana namun konsisten. Lokasi didatangi secara langsung, visual direkam tanpa polesan berlebihan, dan penjelasan disampaikan seperlunya. Narasi besar tidak dipaksakan, klaim historis tidak ditarik secara tergesa.

Justru pada kesederhanaan tersebut nilai dokumentasi menemukan kekuatannya.

Fakta Visual dan Ingatan Kolektif

Sebagian besar situs yang direkam tidak tercatat sebagai cagar budaya resmi. Tidak terdapat papan informasi, tidak masuk katalog pemerintah, dan sering kali tidak lagi dikenal generasi muda setempat. Video-video tersebut kemudian berfungsi sebagai rekaman visual bersama, menyimpan bukti keberadaan sebelum benar-benar hilang dari ingatan publik.

Setiap unggahan hampir selalu memicu respons warga. Kolom komentar berubah menjadi ruang diskusi terbuka. Nama lama lokasi muncul kembali, cerita keluarga dibagikan, koreksi dan tambahan informasi saling melengkapi. Proses ini membentuk dialog sejarah horizontal, bukan narasi tunggal dari atas ke bawah.

Perspektif Orang Dalam Komunitas Karo

Hal yang paling menonjol dari dokumentasi tersebut terletak pada sudut pandang emic, sudut pandang orang dalam komunitas Karo sendiri. Penamaan tempat, istilah adat, dan cara menjelaskan berangkat dari bahasa serta logika lokal, bukan dari klasifikasi kolonial atau terminologi akademik yang kerap jauh dari keseharian masyarakat.

Konten yang dihasilkan tidak berupaya menjadi buku teks sejarah. Yang direkam adalah bagaimana sejarah hidup dalam ingatan warga, dalam ruang, dan dalam lanskap yang masih tersisa.

Bukan Sejarah Akademik, Bukan Sekadar Konten

Perlu ditegaskan bahwa kerja dokumentasi ini bukan sejarah akademik formal. Tidak terdapat metodologi penelitian tertulis, tidak ada pengujian arsip silang, dan tidak disertai klaim teoritis besar. Namun, menyebutnya sekadar konten media sosial juga merupakan penyederhanaan yang keliru.

Video-video tersebut merupakan data mentah sejarah dan etnografi visual. Bahan awal yang sangat langka, terutama dalam konteks sejarah Karo yang miskin dokumentasi lapangan. Tanpa upaya semacam ini, banyak situs akan lenyap tanpa pernah sempat difoto, dicatat, atau diceritakan kembali.

Dalam banyak kasus, penelitian akademik justru datang terlambat. Saat riset dimulai, objek sudah lebih dulu musnah. Di sinilah peran dokumentasi warga menemukan relevansinya.

Menjaga Bukti, Bukan Menentukan Tafsir

Tidak ada upaya untuk mengunci makna atau memaksakan tafsir tunggal atas sejarah. Dokumentasi dilakukan dengan tujuan menjaga bukti keberadaan. Bahwa tempat tertentu pernah ada, bahwa rumah adat pernah berdiri, dan bahwa komunitas pernah hidup serta beraktivitas di ruang tersebut.

Dalam kerja sejarah, sering kali bukti keberadaan jauh lebih bernilai daripada kesimpulan yang ditarik secara tergesa.

Di tengah keterbatasan dokumentasi resmi sejarah Karo, kerja lapangan semacam ini memiliki nilai yang signifikan. Memori diselamatkan sebelum menghilang, ruang diskusi dibuka, dan pijakan awal disediakan bagi siapa pun yang kelak ingin menulis sejarah Karo secara lebih serius dan bertanggung jawab.

Tanpa banyak sorotan dan tanpa klaim besar, Pelita Monald Ginting menjalankan peran penting. Bukan sebagai penulis sejarah akhir, melainkan sebagai penjaga ingatan dan rekaman keberadaan.

Jika suatu hari sejarah Karo ditulis ulang dengan lebih jujur dan berimbang, bukan tidak mungkin sebagian datanya berasal dari rekaman-rekaman sederhana yang hari ini masih dianggap biasa.

Ruang Lingkup Dokumentasi Lapangan

Upaya dokumentasi yang dilakukan tidak terbatas pada satu jenis situs. Konten yang direkam mencakup tempat-tempat bersejarah, cerita rakyat, serta lokasi yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Tujuan utamanya jelas, yaitu melestarikan budaya, sejarah, serta peninggalan peradaban Karo melalui rekaman visual sebelum semuanya hilang tanpa catatan.

Sejumlah lokasi yang telah didatangi dan didokumentasikan antara lain
- Pertek Tek Ken di Gunung Sibayak
- Makam Guru Penawar di Kandibata
- Batu Keramat Punil di Desa Beganding
- Batu Keramat Penggilingen di Desa Jeraya
- Lau Umang di Bukit Gundaling
- Palas Si Pitu Ruang di Desa Ajinembah
- Petilasan Putri Hijau di Desa Seberaya
- Mariam Puntung di Desa Sukanalu
 -Makam Keramat Tengku Lau Bahun atau Muhammad Amin di Desa Lingga
- Makam Tengku Tambak Malim di Uruk Ndaholi
- Nini Lau Tapin di Desa Sempajaya

Daftar ini memperlihatkan bahwa dokumentasi tidak berfokus pada satu narasi tunggal. Yang direkam mencakup ruang adat, situs spiritual, lanskap alam sakral, serta titik-titik yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Karo.

Keberagaman lokasi tersebut mempertegas bahwa kerja dokumentasi ini bukan sekadar perjalanan, melainkan usaha sadar untuk menjaga ingatan budaya dan sejarah Karo tetap hidup dalam bentuk visual yang bisa diwariskan.