Widget HTML #1

Saham CDIA Diserok Asing & Sekuritas Besar, BCA Proyeksikan Pertumbuhan Agresif hingga 2029

Saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) melemah tipis 0,30% ke level Rp 1.670 pada penutupan perdagangan terakhir tahun 2025, 30 Desember 2025. Meski terkoreksi, saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu ini justru diborong pelaku pasar.

Data perdagangan menunjukkan 114,19 juta saham CDIA berpindah tangan dengan frekuensi 26.107 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 192,09 miliar. Aktivitas tersebut menandakan adanya akumulasi saham saat harga melemah.

Broker Besar Borong Saham CDIA

Sejumlah perusahaan sekuritas tercatat membukukan net buy signifikan pada saham CDIA, di antaranya:

  • Mirae Asset Sekuritas: net buy Rp 20,1 miliar

  • BCA Sekuritas: net buy Rp 11,4 miliar

  • Stockbit Sekuritas: net buy Rp 10 miliar

Dalam periode 1–30 Desember 2025, aksi beli bahkan semakin agresif. Stockbit Sekuritas mencatat net buy terbesar senilai Rp 380,9 miliar, disusul Mirae Asset Rp 158 miliar, BCA Sekuritas Rp 87,9 miliar, dan Mandiri Sekuritas Rp 78,4 miliar.

Padahal, dalam sebulan terakhir, saham anak usaha PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ini sempat terkoreksi cukup dalam, yakni turun 13,47%. Koreksi ini justru dimanfaatkan investor untuk masuk di harga diskon.

Proyeksi Fundamental: Pendapatan CDIA Melonjak 5 Kali Lipat

Berdasarkan riset terbaru BCA Sekuritas, CDIA (CDI Group) diproyeksikan mencatat pertumbuhan agresif dalam lima tahun ke depan.

  • Pendapatan diperkirakan tumbuh dengan CAGR 38,6%, dari US$ 102 juta (2024) menjadi US$ 523 juta (2029).

  • EBITDA diproyeksikan melonjak lebih tinggi lagi, dengan CAGR 87%, dari US$ 10,8 juta menjadi US$ 246 juta pada periode yang sama.

Menurut BCA Sekuritas, pertumbuhan ini ditopang oleh:

  • keahlian manajemen yang kuat,

  • kemitraan strategis, dan

  • alokasi modal yang disiplin.

Kombinasi pertumbuhan organik dan strategi akuisisi menjadikan CDIA sebagai entitas infrastruktur yang mudah diskalakan di tengah ekspansi industri nasional.

Mesin Pertumbuhan: Energi, Pelabuhan, dan Logistik

Secara segmentasi bisnis, kinerja CDIA ditopang oleh beberapa pilar utama:

Sektor Energi

Diproyeksikan tumbuh 21,9% CAGR (2024–2029), didorong oleh:

  • penjualan listrik 20,4% CAGR,

  • penjualan bahan bakar 30,7% CAGR,
    seiring meningkatnya kebutuhan daya nasional.

Sektor ini juga akan mendukung operasional pabrik Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

 Pelabuhan & Penyimpanan

Bisnis ini diperkirakan tumbuh sangat agresif dengan CAGR 112,6%, didorong oleh:

  • potensi akuisisi aset pelabuhan dan storage regional pada 2026,

  • pengoperasian pipa kimia baru (C2) pada 2027.

Transformasi Strategis: Diversifikasi Pendapatan

Saat ini, sekitar 90% pendapatan CDIA masih berasal dari sektor energi, sementara:

  • pelabuhan & penyimpanan menyumbang 5%,

  • logistik sekitar 5%.

Namun dalam 3–5 tahun ke depan, CDIA menargetkan struktur pendapatan yang lebih seimbang:

  • 47% energi,

  • 40% pelabuhan & penyimpanan,

  • 13% logistik.

Diversifikasi ini akan dipercepat melalui monetisasi aset dalam ekosistem Chandra Asri Group serta ekspansi ke pelanggan pihak ketiga. Seluruh proyek didukung kontrak jangka panjang dengan off-taker bereputasi, sehingga menopang arus kas yang stabil.

Harga Wajar Saham CDIA Versi BCA Sekuritas

BCA Sekuritas menilai CDIA menggunakan dua metode valuasi:

  • Discounted Cash Flow (DCF):
    Harga wajar Rp 2.340 per saham, mencerminkan potensi pertumbuhan tahunan di atas 20%.

  • Dividend Discount Model (DDM) dengan asumsi dividend payout ratio ~40%:
    Harga wajar Rp 2.215 per saham.

Dengan sponsor kuat seperti Barito Pacific, Chandra Asri Pacific, serta aliansi strategis bersama Salim Group dan Krakatau Steel, CDIA dinilai memiliki fondasi solid untuk menjadi perusahaan infrastruktur terdepan di Indonesia.