Sejarah Hindu Karo Pasca 1965, Dari Ribuan Penganut Hingga Pura Yang Kini Sunyi
![]() |
| Dok. Pura Hindu Karo |
Perubahan lanskap kepercayaan di Tanah Karo tidak dapat dilepaskan dari peristiwa politik nasional tahun 1965. Setelah tragedi tersebut, penganut kepercayaan lokal di berbagai daerah Indonesia menghadapi tekanan sosial dan stigma ideologis. Hal yang sama dialami masyarakat Karo, khususnya penganut Pemena, kepercayaan asli yang telah hidup jauh sebelum agama-agama besar masuk ke dataran tinggi Karo.
Dalam situasi itu, kepercayaan lokal kerap dicap atheis atau dikaitkan dengan komunisme. Tekanan tersebut mendorong banyak warga Karo beralih ke agama-agama yang diakui negara. Kristen dan Islam kemudian menjadi dua agama terbesar yang dianut masyarakat Karo, baik di kampung halaman maupun di wilayah perantauan.
Namun, di balik dominasi dua agama tersebut, terdapat satu fase penting yang kerap luput dari perhatian, yaitu berkembangnya Hindu di kalangan masyarakat Karo.
Hindu Karo sebagai Jalan Adaptasi Sejarah
Hindu Karo pernah menjadi kepercayaan dengan jumlah penganut cukup besar di Tanah Karo. Bahkan, wilayah Karo tercatat sebagai daerah dengan jumlah penganut Hindu terbesar kedua di Indonesia setelah Bali pada masanya. Fakta ini dibuktikan dengan berdirinya sejumlah pura di berbagai wilayah Karo dan sekitarnya.
Munculnya Hindu Karo tidak terjadi dalam ruang kosong. Kepercayaan ini berkembang sebagai bentuk adaptasi sosial dan administratif. Bagi banyak penganut Pemena, Hindu menjadi jalan untuk tetap mempertahankan unsur kosmologi dan ritus tradisional, sekaligus memperoleh pengakuan negara di tengah tekanan politik dan ideologis pasca-1965.
Fenomena serupa juga terjadi pada kelompok masyarakat adat lain di Indonesia, seperti Kaharingan di Kalimantan, komunitas Tengger di Jawa, dan masyarakat Toraja di Sulawesi.
Pura di Dataran Tinggi Karo
Sejumlah pura Hindu masih berdiri di wilayah Karo, di antaranya di kawasan Tanjung Pulo dan Bintang Meriah. Pura-pura ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga penanda sejarah penting perjalanan identitas keagamaan masyarakat Karo.
Pura di Bintang Meriah, misalnya, terletak di jalur perladangan warga, sekitar satu kilometer dari pusat permukiman. Bangunan utamanya berbahan kayu, beratapkan seng, dan berlantaikan semen. Dinding papan tampak kusam, atap berkarat dan bocor, sementara halaman telah ditumbuhi semak belukar tinggi.
Kondisi serupa juga terlihat pada Pura Tanjung Pulo. Padahal, pura ini memiliki nilai sejarah besar karena berkaitan langsung dengan berdirinya Parisada Hindu Dharma Karo pada tahun 1985. Pada masa peresmian tersebut, jumlah anggota dan simpatisan Hindu Karo tercatat mencapai sekitar sepuluh ribu orang, menjadikannya komunitas Hindu terbesar kedua di Indonesia saat itu.
Kini, pura-pura tersebut tidak lagi terawat. Aktivitas ibadah dan pembelajaran yang pernah berlangsung perlahan menghilang. Bangunan yang terbengkalai bukan sekadar persoalan fisik, melainkan mencerminkan memudarnya perhatian terhadap satu bab penting dalam sejarah Karo.
Hindu Karo adalah bagian dari perjalanan panjang masyarakat Karo dalam menghadapi tekanan politik, perubahan sosial, dan tuntutan administrasi negara. Ketika situs-situs ini dibiarkan rusak, yang terancam hilang bukan hanya bangunan, tetapi juga ingatan kolektif tentang cara masyarakat Karo bertahan dan beradaptasi.
Sudah sepatutnya berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun lembaga keagamaan terkait, memberi perhatian serius terhadap situs-situs bersejarah ini. Perawatan dan pemulihan pura-pura Hindu di Tanah Karo bukan semata urusan keagamaan, melainkan bagian dari upaya menjaga keberagaman sejarah dan identitas budaya Indonesia.
Tanah Karo memiliki sejarah yang berlapis. Memahami lapisan-lapisan tersebut membantu melihat masyarakat Karo secara lebih utuh, tidak terbatas pada dikotomi agama mayoritas, tetapi sebagai komunitas yang pernah melalui proses adaptasi yang kompleks dan penuh tekanan.
