Bitcoin Terancam Merosot ke Rp500 Juta, Tekanan Jual Kian Menguat

Harga Bitcoin (BTC) kembali berada dalam tekanan signifikan dalam enam bulan terakhir. Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga Bitcoin tercatat di kisaran Rp1,18 miliar, turun sekitar 38 persen dibandingkan posisi tertingginya pada pertengahan Januari 2026 yang sempat menyentuh level Rp1,6 miliar.
Penurunan tajam ini memicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa aset kripto terbesar di dunia tersebut berpotensi melanjutkan tren koreksi lebih dalam, bahkan membuka kemungkinan penurunan menuju level psikologis Rp500 juta apabila tekanan jual tidak mereda.
Tekanan Teknis dan Psikologis
Secara teknikal, Bitcoin menunjukkan pola penurunan bertahap (lower high dan lower low) sejak awal tahun. Setelah gagal mempertahankan area Rp1,5 miliar, harga terus tergerus hingga menembus kisaran Rp1,2 miliar.
Analis pasar kripto menilai, jika support kuat di sekitar Rp1 miliar jebol, ruang pelemahan dapat semakin terbuka. Level Rp800 juta hingga Rp900 juta diperkirakan menjadi area pertahanan berikutnya, sebelum skenario ekstrem menuju Rp500 juta menjadi relevan dalam situasi panic selling global.
“Sentimen pasar saat ini masih risk-off. Investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk kripto,” ujar seorang analis pasar modal di Jakarta, Sabtu (15/2).
Faktor Global Membayangi
Beberapa faktor yang dinilai turut membebani harga Bitcoin antara lain:
Ketidakpastian kebijakan suku bunga global
Penguatan dolar AS
Arus keluar dana dari aset berisiko
Tekanan regulasi di sejumlah negara
Selain itu, volatilitas tinggi di pasar keuangan global juga membuat investor institusi lebih berhati-hati dalam menambah kepemilikan aset digital.
Skenario Terburuk
Meski penurunan hingga Rp500 juta masih tergolong skenario ekstrem, sejumlah analis menilai hal tersebut bukan mustahil jika terjadi kombinasi sentimen negatif global dan aksi jual besar-besaran dari investor besar (whale).
Namun demikian, sebagian pelaku pasar tetap optimistis bahwa koreksi ini merupakan fase konsolidasi jangka menengah sebelum potensi rebound, mengingat karakter Bitcoin yang historisnya sering mengalami siklus naik-turun tajam.
Investor diimbau untuk tetap berhati-hati, memperhatikan manajemen risiko, dan tidak mengambil keputusan berdasarkan kepanikan semata.