Detik Mencekam di Sungai Regoyo, Ayah dan Putri Nyaris Tewas Diterjang Banjir Lahar Gunung Semeru

Tragedi banjir lahar kembali menghantui lereng Gunung Semeru. Pagi yang seharusnya menjadi awal semangat sekolah berubah menjadi mimpi buruk bagi seorang ayah dan putrinya di Lumajang.
Peristiwa mengerikan itu terjadi di Sungai Regoyo, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Anton mengantar putrinya, Vita, siswi kelas 4 SD, menyeberangi sungai menggunakan sepeda motor. Jalur tersebut terpaksa dipakai warga karena jembatan limpas tertimbun material lahar.
Langit tampak biasa. Arus sungai terlihat seperti hari sebelumnya. Namun banjir lahar dari puncak Semeru datang tanpa ampun. Dalam hitungan detik, deras arus menghantam roda motor. Kendaraan kehilangan keseimbangan, lalu terseret bersama dua penumpangnya.
Jeritan kecil memecah suara gemuruh air. Tubuh mungil Vita terseret beberapa meter mengikuti arus keruh bercampur pasir dan batu. Sang ayah berusaha menggapai, tetapi kekuatan air jauh lebih ganas. Situasi berubah menjadi kepanikan yang membuat warga sekitar berlari mendekat.
Salah seorang warga menyebut jarak seretan mencapai lebih dari lima meter. Setiap detik terasa seperti tarikan maut. Jika terlambat sedikit saja, arus bisa menyeret lebih jauh ke bagian sungai yang lebih dalam dan berbahaya.
Beruntung, teriakan minta tolong terdengar jelas. Beberapa warga nekat turun dan menarik tubuh bocah tersebut ke tepi sungai. Motor terseret, pakaian basah kuyup, tas sekolah terendam lumpur. Pagi cerah berubah menjadi trauma yang sulit dilupakan.
Akibat kejadian tersebut, Vita gagal masuk sekolah pada hari pertama setelah libur panjang awal Ramadan. Seragam, buku, dan perlengkapan belajar tak lagi bisa digunakan. Langkah kecil yang semula ingin menuntut ilmu justru berujung tangis dan rasa syukur karena masih diberi keselamatan.
Sungai Regoyo kini menjadi simbol risiko yang terus mengintai masyarakat sekitar Semeru. Sejak jembatan tertutup material lahar, warga terpaksa mengambil jalur berbahaya demi aktivitas harian. Kondisi ini menambah daftar panjang dampak erupsi Semeru terhadap kehidupan sosial dan pendidikan anak-anak di lereng gunung.
Peristiwa ayah dan anak terseret banjir lahar Semeru menjadi pengingat keras bahwa ancaman alam tidak pernah benar-benar pergi. Di balik kabut dan pasir vulkanik, ada keluarga yang setiap hari berjibaku dengan risiko demi sekolah dan masa depan.
Tragedi di Sungai Regoyo bukan sekadar berita. Ini potret keteguhan orang tua, keberanian warga, serta rapuhnya infrastruktur di wilayah rawan bencana. Sebuah pagi yang hampir merenggut dua nyawa, namun berakhir dengan pelukan syukur dan air mata haru.