Saham BBCA Berpeluang Menguat ke Level 8.000 dalam Sepekan

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan peluang penguatan dalam jangka pendek setelah mengalami koreksi dalam beberapa bulan terakhir. Pada perdagangan terakhir, saham BBCA bergerak di kisaran Rp7.650–Rp7.800 per saham, dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar Rp951,93 triliun.
Secara teknikal, BBCA saat ini berada di area support kuat setelah penurunan sekitar 7,4 persen dalam enam bulan terakhir. Analis menilai, tekanan jual mulai mereda seiring harga yang mampu bertahan di atas level Rp7.600, yang selama ini dikenal sebagai zona akumulasi investor institusi.
Dari sisi valuasi, rasio price to earnings (P/E) BBCA berada di level 16,71, lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya sebagai saham perbankan berkapitalisasi besar. Kondisi ini membuat BBCA dinilai kembali menarik, terutama bagi investor yang mencari saham defensif dengan fundamental kuat.
Sentimen positif juga datang dari internal perseroan. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja tercatat melakukan pembelian saham BBCA di pasar, yang dipandang pelaku pasar sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek kinerja dan valuasi perusahaan ke depan.
Di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih fluktuatif, saham perbankan besar seperti BBCA cenderung menjadi tujuan rotasi dana investor. Sejumlah saham bank jumbo lainnya juga terlihat relatif stabil saat indeks mengalami tekanan.
Secara teknikal, apabila BBCA mampu menembus dan bertahan di atas area Rp7.850, maka peluang penguatan lanjutan menuju Rp7.950 hingga Rp8.000 dalam waktu satu minggu perdagangan ke depan dinilai terbuka. Namun demikian, skenario ini tetap bergantung pada kondisi pasar secara umum serta sentimen global.
Pelaku pasar mengingatkan bahwa pergerakan jangka pendek tetap memiliki risiko, terutama apabila IHSG kembali melemah tajam atau tekanan eksternal meningkat.