Hoax Terbesar Mengenai Masyarakat Karo Ditampilkan oleh Tulisan-Tulisan yang Menjadikan Mitos atau Legenda Sebagai Bukti Sejarah

Kita lihat saja bagaimana legende Rumah Sipitu Ruang (Ajinembah) dijadikan bukti sejarah bahwa nenek moyang merga Barus berasal dari Barus yang merupakan salah satu kerajaan besar di Nusantara. Padahal, legende itu aslinya menuturkan Sibayak Barusjahe diusir dari kampungnya karena dia erturang-turang (berhubungan cinta dengan saudarinya).
Ketika teks oral diangkat menjadi teks tulisan, ditambahkanlah bahwa dia berasal dari Kerajaan Barus sehingga para pembacanya pun mengembangkan fantasinya ke Kerajaan Barus yang berpusat di Pantai Barat Sumatera.
Itu bisa terjadi akibat penulisnya mau menunjukan dirinya mengetahui keberadaan Kerajaan Barus itu dan terangsang untuk mempercayai kalau Sibayak Barusjahe berasal dari sana.
Saya tidak mengatakan bahwa asumsi nenek moyang merga Barus berasal dari Kerajaan Barus tidak benar. Saya hanya mengatakan kalau itu belum pernah terbukti secara ilmiah akademik. Sementara di dunia ilmiah akademik ada kajian khusus mengenai mitos maupun legende, terutama di Antropologi Struktural.
Terlebih pula, ada beberapa versi terkait Sibayak Barusjahe. Satu diantaranya mengatakan dianya berasal dari kepompong kupu-kupu yang menetas di sebuah pohon di Kuta Usang (kampung Pakpak tidak jauh dari Ajinembah).
Satu lainnya, diawali dengan kisah adanya satu keluarga Barus di Bukum; sekarang masuk wilayah Kecamatan Sibolangit (Kabupaten Deliserdang). Keluarga ini punya 3 putra; Sintua, Sintengah, Singuda.
Sintua berangkat ke Patumbak dan kemudian menjadi Raja Urung Senembah. Singuda berangkat ke Gugung dan kemudian menjadi Sibayak Barusjahe. Sintengah menetap di Bukum.
Tentu saja kedua versi itu bertentangan satu sama lain. Demikian pula dengan versi ke tiga yang dikenal dengan Simbelang Pinggel.
Tidak ada salah dengan banyaknya versi. Masalahnya adalah ketika kisah mitologis/ legenda itu dijadikan bukti sejarah. Misalnya saja kisah dianya mengawini turangna, itu malahan merupakan pesan mitologis bahwa "pasangan ini adalah awal baru dari merga Barus". Tidak perlu dicari asal usulnya.
Memang kadang para arkelog menggunakan mitos sebagai langkah awal penggalian mereka. Seperti halnya arkelog Jhon Miksic melakukan penggalian di Benteng Putri Hijau (Delitua, Kabupaten Deliserdang) dan Seberaya (Kabupaten Karo) selain di Kota Cina (Hamparan Perak, Medan).
Penggalian di ke dua tempat itu mengikuti mitosnya yang menuturkan Putri Hijau berasal dari Seberaya dan kemudian menjadi Putri Kerajaan Haru di Delitua.
Mitos itu mengindikasikan adanya hubungan dagang antara Seberaya dan Delitua dalam kerangka Kerajaan Haru. Penggalian yang dia lakukan menemukan pecahan-pecahan tembikar yang sama di kedua tempat. Ini membuktikan memang ada hubungan dagang itu.
Demikian juga laporan-laporan tertulis berbahasa Portugis menunjukan adanya hubungan dagang antara Kerajaan Haru dan Malaka (Semenanjung Malaka).
Desertasi Miksic tidak menjadikan mitos Putri Hijau sebagai bukti sejarah, tapi melainkan sebagai indikasi awal adanya hubungan dagang antara Kerajaan Haru Delitua dengan pedalaman Dataran Tinggi Karo serta dengan Malaka yang merupakan terminal terbesar perdagangan internasional di Asia Tenggara.
Lain lagi halnya dengan W. Middedorp yang berusaha menganalisis mitos Putri Hijau sebagai metafor. Menurutnya, di masa kolonial, orang-orang Karo menciptakan ceritera Perik Si Mbulan Takal yang isinya jelas-jelas lelucon tentang orang-orang Belanda.
------------- Selingan
Pa Betul Ginting menuturkan kisah pasukan Napindo Halilintar (Kilap Sumagan) dengan mengatakan mereka (judul cerita) Leto Nggawang. Ini dituturkannya sambil bermain kulcapi. Pa Betul juga yang memperkenalkan kisah Kuda Sitajur dengan permainan kulcapi Peranjak Kuda Sitajur.
-----------------------
Demikian pula Middendorp mengasumsikan kedua saudara Putri Hijau (Naga dan Mariam) adalah transformasi dari konsep Karo tentang "saudara tendi" yang merupakan air ketuban (amnioticflud) dan uri-uri (placenta). Karena itu, Orang Karo mengenal mantra: "Kakaku si arah lebeku, agingku si arah pudiku".
Sementara Putri Hijau sendiri adalah metafor dari bendera Portugis yang merupakan jaminan dagang internasional. Selanjutnya Middendorp mengasumsikan Naga adalah pasukan Kerajaan Haru dan Mariam adalah persenjataannya.
Terlepas dari benar tidaknya asumsi Middendorp, dia menganalisis mitos sebagai mitos yang kemungkinan punya kaitan dengan peristiwa sejarah.
Bagian 9 ini menekankan perbedaan antara peristiwa mitologi dengan peristiwa sejarah. Peristiwa mitologi bisa menjadi indikasi awal untuk penemuan peristiwa sejarah. Demikian juga peristiwa sejarah bisa saja direkam di dalam sebuah mitos. Pun demikian, tetap saja peristiwa mitologi berbeda dengan peristiwa sejarah.
Misalnya saja, di kisah Putri Hijau dituturkan adanya perang antara Haru dan Aceh. Dituturkan pula kalau Kerajaan Aceh menembakkan uang dirham dengan mariam sehingga pasukan Kerajaan Haru berebutan uang yang ditembakkan. Saat itulah pasukan Kerajaan Aceh mendobrak Benteng Kerajaan Haru dan melarikan Putri Hijau ke Aceh.
Bukti sejarah perang antara Haru dan Aceh itu sampai sekarang tidak ada. Apakah ditemukannya uang-uang logam di sekitar Benteng Putri Hijau adalah bukti pasukan Aceh menembakkannya dengan mariam mereka? Dan kam percaya itu?
Lalu, muncullah kisah yang dikatakan peristiwa sejarah bahwa Aceh menempatkan Gocah Pahlawan menjadi Sultan Deli sebagai hadiah dia memimpin perang dalam penaklukan Haru. Kalau memang dia panglima perang yang menaklukkan Haru, mengapa dia harus takluk pada peristiwa struktural dengan mengawini putri Datuk Sunggal?
Saya pernah menulis di sebuah grup fb mengenai perkawinan Sultan Deli dengan putri Datuk Sunggal adalah pola Asia Tenggara. Paling dekat kita bisa lihat contohnya hubungan antara Barus Hulu dan Barus Hilir di Pantai Barat Sumatera. Sebagaimana digambarkan oleh Drakard, Barus Hilir dipimpin oleh raja asal Minangkabau, sementara Barus Hulu oleh seorang Batak.
Orang-orang Barus Hilir tidak bisa melewati garis abstrak yang membedakan Barus Hulu dengan Barus Hilir, sementara warga Barus Hulu bebas melintasi Barus Hilir hingga ke laut.
Demikian juga halnya di Deli. Warga Deli Hilir termasuk Sultan Deli tidak bisa melewati garis abstrak yang membedakan Deli Hulu dengan Deli Hilir. Sebaliknya warga Suku Karo bebas berdagang hingga ke tepi pantai.
Lain halnya dengan Sultan Ahmed yang Datuk Hamparan Perak. Dia bebas melewati garis abstrak itu karena ibunya adalah Beru Surbakti, putri Datuk Sunggal. Sementara ayahnya sendiri tidak bisa melewati garis abstrak itu.
Peristiwa-peristiwa seperti itukah yang menandakan Haru kalah perang dari Aceh?
Sama halnya dengan mengatakan Karo keturunan Siraja Batak, menunjuk Karo Hilir sebagai taklukan Sultan Deli adalah Hoax terbesar abad lalu yang perlu disikat habis di abad ini.
Oleh : Juara R Ginting