Widget HTML #1

Sejarah Karo di Deli dan Langkat Kembali Menjadi Sorotan, Kajian Baru Dorong Pembacaan Ulang Sumatra Timur

Kampong Boekoem. H. Ernst, Fotograaf, Bindjeij-Langkat. unused ca.1910s. Kampung Boekoem (Bukum) berada di daerah areal Perkebunan Karet Dolok Barus Estate. Kini, Bukum berada di wilayah Karo Jahe, kampung panteken Barus mergana (Urung Senembah) | Sora Sirulo

Sejarah Sumatra Timur kembali menarik perhatian setelah berbagai sumber lama, catatan perjalanan, arsip kolonial, dokumentasi fotografi, dan kajian toponimi menunjukkan adanya fakta-fakta yang selama ini jarang dibahas dalam narasi sejarah arus utama.

Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia mengenal pembagian sederhana mengenai kawasan Sumatra Timur. Wilayah pegunungan sering dikaitkan dengan Batak, sedangkan dataran rendah hingga pesisir diasosiasikan dengan Melayu. Pandangan tersebut kemudian menjadi bagian dari buku pelajaran, karya akademik, hingga pemahaman umum masyarakat.

Namun sejumlah peneliti menilai bahwa realitas sejarah kawasan Deli dan Langkat jauh lebih kompleks dibandingkan klasifikasi yang berkembang sejak masa kolonial.

Deli Hulu dan Langkat Hulu Memiliki Sejarah yang Lebih Panjang

Kajian mengenai hubungan Karo dan Melayu menunjukkan bahwa kawasan Deli Hulu serta Langkat Hulu telah dihuni oleh komunitas Karo sejak masa yang sangat awal.

Keberadaan empat urung besar Karo di wilayah Deli menjadi salah satu dasar penting dalam pembahasan tersebut. Urung Serbanyaman, Urung XII Kuta Lau Cih, Urung Sukapiring, dan Urung Senembah memiliki wilayah adat, struktur pemerintahan lokal, serta sistem sosial yang berkembang sebelum masuknya perkebunan asing ke Sumatra Timur.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Karo memiliki posisi yang penting dalam pembentukan sejarah kawasan pedalaman Deli dan Langkat.

Catatan perjalanan John Anderson pada tahun 1823 juga sering dijadikan rujukan. Dalam laporannya, Anderson mencatat berbagai kosakata dan unsur budaya Karo yang ditemui sepanjang perjalanan di wilayah Deli. Catatan tersebut dibuat hampir empat dekade sebelum perkebunan tembakau pertama dibuka di Deli.

Data semacam ini memberi gambaran bahwa keberadaan masyarakat Karo di kawasan tersebut telah berlangsung jauh sebelum perubahan besar yang dibawa kolonialisme pada abad ke-19.

Kampung Bukum Menjadi Dokumen Visual yang Bernilai

Salah satu sumber yang menarik berasal dari foto berjudul Kampong Boekoem yang dibuat fotografer H. Ernst sekitar tahun 1910-an.

Menurut keterangan foto, Bukum merupakan kampung Karo yang berada dalam wilayah Urung Senembah dan terkait dengan kelompok Barus mergana. Lokasinya berada di kawasan yang kini termasuk wilayah Karo Jahe.

Dokumentasi tersebut memperlihatkan sebuah kampung yang telah berkembang dengan tata permukiman yang teratur pada awal abad ke-20. Bagi banyak pemerhati sejarah lokal, foto ini memiliki nilai penting karena memperlihatkan keberadaan komunitas Karo yang mapan di kawasan Deli Hulu.

Kehadiran kampung-kampung seperti Bukum menunjukkan bahwa sejarah masyarakat Karo tidak hanya berkaitan dengan dataran tinggi Karo, tetapi juga mencakup wilayah yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan sejarah Kesultanan Deli.

Toponimi Deli dan Langkat Masih Membutuhkan Kajian Mendalam

Pembahasan lain yang terus menarik perhatian adalah persoalan nama tempat atau toponimi.

Selama ini terdapat pandangan yang mengelompokkan Medan, Binjai, dan Glugur sebagai toponimi Melayu. Namun sejumlah peneliti menilai bahwa kesimpulan tersebut masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam.

Dalam ilmu toponimi, asal-usul sebuah nama wilayah tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan identitas politik yang berkembang pada masa tertentu. Nama tempat sering kali memiliki usia yang jauh lebih tua dibandingkan pemerintahan atau kekuasaan yang kemudian muncul di kawasan tersebut.

Selain itu, kawasan Deli dan Langkat juga dipenuhi nama-nama tempat yang berasal dari kosakata Karo.

Nama seperti Namo Rambe, Namo Suro, Namo Ukur, Namo Kamuna, Namo Pecawir, Lau Cih, dan berbagai wilayah lainnya menunjukkan penggunaan bahasa Karo yang sangat luas dalam penamaan kawasan di Sumatra Timur.

Bahkan sejumlah peneliti lokal mulai mempertanyakan pengelompokan otomatis terhadap nama-nama seperti Binjai dan Glugur sebagai toponimi Melayu. Kedua nama tersebut dikenal luas dalam lingkungan masyarakat Karo dan masih digunakan hingga saat ini.

Karena itu, kajian mengenai asal-usul toponimi di Deli dan Langkat masih terbuka untuk penelitian lebih lanjut melalui pendekatan linguistik, sejarah, dan antropologi.

Membaca Sumatra Timur Secara Lebih Menyeluruh

Perkembangan penelitian dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa sejarah Sumatra Timur dibentuk oleh interaksi berbagai komunitas yang berlangsung selama berabad-abad.

Kampung-kampung tua, wilayah urung, tradisi lokal, arsip kolonial, laporan perjalanan, dokumentasi fotografi, serta penyebaran nama-nama tempat memberikan gambaran yang lebih kaya mengenai perkembangan kawasan Deli dan Langkat.

Pendekatan semacam ini mendorong lahirnya pemahaman yang lebih luas mengenai sejarah Karo dan Melayu tanpa terjebak pada pembagian yang terlalu sederhana.

Bagi para peneliti sejarah lokal, pembacaan ulang terhadap Deli Hulu dan Langkat Hulu menjadi langkah penting untuk memperkaya pemahaman tentang Sumatra Timur. Semakin banyak sumber yang ditelaah, semakin terlihat bahwa kawasan ini memiliki dinamika sejarah yang jauh lebih beragam dibandingkan gambaran yang selama ini dikenal masyarakat luas.