Turang Kok Jadi Pacar? Siapa yang Mengubah Kamus Karo?
![]() |
| Burung Piso Surit (Prik Pincala) |
Perdebatan mengenai istilah nande, mama, dan turang kembali mengemuka setelah muncul anggapan bahwa kutipan lagu "Aku turang, mama Karondu kel aku" membuktikan bahwa kata turang berarti kekasih. Kesimpulan seperti ini sebenarnya terlalu sederhana karena mencampurkan makna leksikal sebuah kata dengan fungsi sosialnya dalam budaya Karo.
Secara semantik, turang tidak pernah berarti kekasih. Dalam sistem kekerabatan Karo, turang merupakan sebutan bagi saudara berlainan jenis kelamin, atau dalam kajian antropologi dikenal sebagai different-sex sibling. Dengan demikian, makna dasarnya adalah hubungan persaudaraan, bukan hubungan romantis.
Hal yang sama berlaku pada istilah nande yang berarti ibu dan mama yang berarti saudara laki-laki dari pihak ibu. Ketiga istilah tersebut justru berada dalam kategori hubungan yang pantang untuk perkawinan menurut adat Karo. Oleh sebab itu, apabila ketiganya muncul dalam lagu atau sastra lisan sebagai sapaan kepada kekasih, yang berubah adalah fungsi pemakaiannya, bukan arti katanya.
Inilah yang sering luput dipahami. Penggunaan istilah kekerabatan dalam ungkapan kasih sayang tidak otomatis mengubah makna leksikal istilah tersebut. Bahasa mengenal perbedaan antara makna dasar dan makna pragmatis. Dalam banyak kebudayaan, istilah keluarga dipakai sebagai ungkapan keakraban tanpa kehilangan arti asalnya.
Persoalan menjadi lebih menarik apabila turang, nande, dan mama dibaca bersama istilah nini. Seluruh penamaan seperti Nini iting, Nini karo, Nini nangin, Nini biring, dan Nini Tigan selalu merujuk kepada nini tudung atau nenek. Penamaan tersebut tidak diarahkan kepada nini bulang ataupun kakek.
Pada sisi lain, penggunaan nama Si Lima Merga dalam Nande Ginting, Mama Ginting, Nande Tarigan, maupun penamaan lainnya memperlihatkan bahwa identitas simbolik yang digunakan adalah merga pokok, bukan submerga. Hampir tidak ditemukan bentuk seperti Nande Purba, Mama Kacaribu, Mama Munte, atau Nande Sibero dalam tradisi lama, walaupun belakangan sejumlah perkolong-kolong mulai menggunakan variasi baru seperti Mama Lingga, Mama Tepu, ataupun Mama Tambak.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya pola budaya yang konsisten. Penamaan simbolik lebih menonjolkan identitas Si Lima Merga daripada identitas cabang-cabangnya.
Hal serupa tampak dalam tradisi aron. Pada umumnya aron beru terdiri atas perempuan dari masing-masing Si Lima Merga yang berpasangan dengan impal-nya. Sementara aron sidilaki dapat berasal dari berbagai merga karena hubungan yang dibangun adalah hubungan impal, bukan hubungan sesama merga perempuan.
Dari pengamatan tersebut muncul sebuah hipotesis bahwa dalam berbagai simbol budaya Karo, Si Lima Merga sering tampil sebagai representasi identitas perempuan. Hal ini tampak melalui penggunaan istilah nande, nini, dan aron sidiberu yang semuanya lebih dekat kepada dunia perempuan dibandingkan dunia laki-laki.
Bagaimana dengan istilah mama?
Dalam konteks ini, identitas mama tampaknya tidak hanya berkaitan dengan hubungan kekerabatan, tetapi juga dengan lingkungan kuta. Berbeda dengan urung yang dibangun oleh sembuyak bersama sikaku rananna, kuta merupakan ruang sosial yang menghadirkan kalimbubu, anak beru, senina, dan sembuyak sekaligus. Oleh karena itu, penyebutan Mama Ginting dan bentuk serupa dapat dipahami sebagai identitas yang lahir dari kehidupan sosial di kuta, bukan sekadar struktur genealogis di urung.
Mitologi Beru Tole atau Tole Mamana juga memperlihatkan bagaimana istilah mama ditempatkan dalam kerangka hubungan yang secara adat tidak boleh berubah menjadi hubungan perkawinan. Kisah tersebut justru memperlihatkan bahwa pelanggaran terhadap batas hubungan kekerabatan melahirkan konsekuensi mitologis.
Demikian pula dengan turang. Dalam berbagai uraian mengenai perjalanan seorang anak beru dari Tadahen, menuju Tengah Jabu, hingga mencapai kedudukan sebagai Anak Beru Cekuh Baka, hubungan persaudaraan menjadi fondasi terbentuknya struktur sosial. Bahkan dalam kisah asal-usul tungkat penalun, perkawinan impal dipahami sebagai penyatuan yang masih berada dalam kerangka persaudaraan simbolik.
Karena itu, kutipan lagu "Aku turang, mama Karondu kel aku" tidak dapat dijadikan bukti bahwa kata turang berarti kekasih. Yang terjadi justru sebaliknya. Lagu tersebut memperlihatkan bagaimana istilah kekerabatan dipinjam sebagai bahasa kasih sayang tanpa menghapus makna dasarnya.
Dengan demikian, pembacaan terhadap istilah nande, mama, turang, dan nini sebaiknya tidak berhenti pada arti kamus semata. Keempat istilah tersebut merupakan bagian dari sistem simbol yang jauh lebih luas, yang mencerminkan cara masyarakat Karo membangun identitas, hubungan sosial, serta batas-batas adat yang mengatur kehidupan bersama.
Judul tersebut sengaja bersifat kritis karena langsung membantah kesimpulan bahwa "turang berarti kekasih", tetapi tetap menggunakan pendekatan linguistik dan antropologi sehingga argumennya lebih kuat dan akademis.
