Widget HTML #1

🔥Flash Sale
02 : 45 : 30
Lainnya →
Memuat produk promo...

Daya Beli Terasa Makin Lesu, tetapi Ada Sektor yang Justru Tumbuh: Ke Mana Arah Ekonomi Indonesia?

Ada sesuatu yang menarik dalam kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

Di satu sisi, banyak pelaku usaha mengeluhkan penjualan yang tidak lagi semudah beberapa tahun lalu. Konsumen semakin berhati-hati mengeluarkan uang, semakin banyak membandingkan harga, menunda pembelian, dan hanya membeli barang yang benar-benar dianggap perlu.

Namun di sisi lain, data ekonomi nasional menunjukkan bahwa Indonesia masih tumbuh.

Lalu, sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Apakah daya beli masyarakat memang sedang melemah?

Jawabannya tidak sesederhana angka pertumbuhan ekonomi.

Ekonomi bisa tetap tumbuh, tetapi sebagian masyarakat dan sebagian sektor usaha tetap dapat merasakan tekanan yang cukup berat.

Ketika omzet menurun, tetapi ekonomi masih tumbuh

Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Konsumsi rumah tangga yang menjadi salah satu mesin utama perekonomian juga masih tumbuh 5,06 persen.

Artinya, masyarakat Indonesia secara agregat masih melakukan konsumsi.

Tetapi angka tersebut tidak otomatis berarti setiap pedagang merasakan peningkatan penjualan.

Inilah bagian yang sering luput dalam pembicaraan mengenai daya beli.

Pertumbuhan ekonomi adalah gambaran besar. Sementara pedagang, pemilik toko, pekerja, dan pelaku UMKM merasakan ekonomi melalui sesuatu yang jauh lebih sederhana yaitu berapa banyak uang yang masuk ke kantong dan berapa banyak yang tersisa setelah semua biaya dibayar.

Ketika pendapatan tidak bertambah banyak sementara harga kebutuhan, biaya operasional, cicilan, transportasi, pendidikan, makanan, dan berbagai pengeluaran lainnya terus menyita anggaran, konsumen akan mulai mengubah perilakunya.

Bukan berarti masyarakat berhenti membeli.

Masyarakat mulai memilih.

Barang yang sebelumnya dibeli tanpa banyak pertimbangan sekarang dibandingkan terlebih dahulu.

Yang tidak terlalu penting ditunda.

Yang mahal dicari alternatifnya.

Dan barang yang sama akan dicari di tempat yang memberikan harga paling rendah.

Di sinilah tekanan terhadap dunia perdagangan mulai terasa.

Marketplace tidak lagi selalu identik dengan harga murah

Selama bertahun-tahun, marketplace memiliki satu keunggulan besar.

Harga online dianggap lebih murah dibandingkan toko fisik.

Logikanya sederhana.

Penjual online tidak perlu memiliki toko besar, biaya operasional dapat ditekan, konsumen bisa membandingkan puluhan penjual dalam hitungan detik, dan berbagai promo membuat harga terlihat semakin murah.

Tetapi kondisi tersebut perlahan berubah.

Bagi penjual, harga yang terlihat oleh konsumen bukan lagi sekadar harga barang.

Di belakangnya terdapat berbagai biaya.

Ada biaya administrasi marketplace, biaya layanan, program promosi, subsidi atau potongan tertentu, biaya proses pesanan, biaya iklan, hingga risiko retur dan biaya operasional lainnya.

Sebagai contoh, dokumen resmi Shopee menunjukkan bahwa biaya administrasi penjual berbeda berdasarkan kategori produk dan dapat mencapai 10 persen pada kategori tertentu. (Shopee Seller)

Ketika berbagai biaya tersebut semakin besar, penjual menghadapi dilema.

Jika harga dinaikkan, konsumen bisa pindah ke toko lain.

Jika harga tidak dinaikkan, keuntungan penjual semakin tipis.

Akhirnya, yang terjadi bukan hanya perang harga.

Tetapi juga perang margin keuntungan.

Konsumen melihat harga, penjual melihat biaya

Inilah paradoks marketplace.

Konsumen ingin harga murah.

Marketplace ingin mendapatkan pendapatan dari aktivitas perdagangan.

Penjual ingin tetap mendapatkan keuntungan.

Ketiganya memiliki kepentingan yang berbeda.

Ketika biaya penjualan semakin besar, sebagian penjual akhirnya memasukkan biaya tersebut ke dalam harga produk.

Akibatnya, harga online yang dahulu terkenal murah mulai mendekati harga toko fisik.

Bahkan pada beberapa produk, harga setelah ditambah ongkos kirim dan berbagai biaya bisa tidak lagi berbeda jauh dengan harga di toko sekitar rumah.

Dan ketika selisih harga semakin kecil, konsumen mulai memiliki alasan untuk kembali mempertimbangkan toko offline.

Apakah toko offline akan bangkit kembali?

Bisa jadi.

Bukan karena marketplace akan mati.

Tetapi karena keunggulan harga marketplace tidak lagi selalu sebesar sebelumnya.

Bayangkan seseorang membutuhkan sebuah barang dengan harga Rp100.000.

Jika membeli secara online, konsumen harus mempertimbangkan ongkos kirim, waktu menunggu barang datang, kemungkinan barang tidak sesuai, serta berbagai biaya yang membuat harga akhirnya menjadi lebih tinggi.

Sementara toko di dekat rumah mungkin menjual barang dengan harga Rp105.000 atau Rp110.000.

Selisihnya hanya sedikit.

Dalam kondisi seperti itu, konsumen bisa berpikir:

“Lebih baik saya beli langsung. Barang bisa saya lihat, bisa saya bawa pulang sekarang, dan tidak perlu menunggu pengiriman.”

Di sinilah toko offline memiliki keunggulan yang selama ini sering dianggap sepele.

Kedekatan, kecepatan, pelayanan, dan kepastian barang.

Marketplace unggul dalam pilihan dan kemudahan membandingkan harga.

Toko offline unggul dalam pengalaman langsung dan kecepatan mendapatkan barang.

Ketika harga semakin mendekati sama, persaingan tidak lagi hanya mengenai harga.

Persaingan akan bergeser menjadi soal pelayanan, lokasi, kepercayaan, ketersediaan barang, dan hubungan dengan pelanggan.

Tetapi jangan buru-buru mengatakan marketplace sedang mati

Marketplace tetap memiliki pasar yang sangat besar.

Data Bank Indonesia menunjukkan penjualan eceran pada awal 2026 masih mencatat pertumbuhan. Pada Februari 2026, Indeks Penjualan Riil diprakirakan tumbuh 6,9 persen secara tahunan, sedangkan pada Maret pertumbuhan penjualan eceran mencapai 10,3 persen secara bulanan. (Bank Indonesia)

Jadi persoalannya bukan masyarakat berhenti berbelanja.

Yang sedang berubah adalah cara masyarakat membelanjakan uangnya.

Konsumen semakin selektif.

Dan selektivitas ini membuat persaingan antarpenjual menjadi jauh lebih keras.

Penjual yang dahulu masih bisa mendapatkan keuntungan dari volume besar dengan margin tipis mungkin sekarang harus menghitung ulang seluruh model bisnisnya.

Kebijakan pemerintah juga ikut memengaruhi dunia perdagangan digital

Pelaku usaha juga menghadapi perubahan regulasi.

Salah satu contoh terbaru adalah kebijakan perpajakan transaksi perdagangan melalui sistem elektronik yang mengalami penyesuaian dan penundaan penerapan.

Pemerintah juga menerbitkan kebijakan mengenai perlindungan dan peningkatan usaha UMKM, termasuk rencana pengurangan biaya administrasi e-commerce bagi UMKM.

Kementerian UMKM pada Agustus 2026 menyampaikan kebijakan pemangkasan biaya administrasi e-commerce hingga 50 persen bagi UMKM, yang dikaitkan dengan Permen UMKM Nomor 3 Tahun 2026. (Kementerian UMKM)

Ini menunjukkan bahwa pemerintah sendiri menyadari bahwa struktur biaya dalam perdagangan digital menjadi persoalan penting bagi pelaku usaha kecil.

Artinya, persoalan marketplace bukan hanya mengenai apakah konsumen masih mau membeli.

Tetapi juga mengenai apakah penjual masih mampu berjualan dengan margin yang sehat.

Di tengah ekonomi yang terasa berat, ternyata ada sektor yang justru melaju

Bagian ini yang menurut saya paling menarik.

Ketika sebagian pedagang mengeluhkan penjualan, ternyata tidak semua sektor ekonomi bergerak dengan kecepatan yang sama.

Pada kuartal II 2026, investasi tumbuh 6,87 persen. Sektor konstruksi juga mengalami penguatan dan mencatat pertumbuhan yang disebut sebagai yang terkuat dalam hampir dua tahun.

Aktivitas pembangunan infrastruktur, kawasan industri, serta proyek pembangunan lainnya ikut memberikan dorongan terhadap sektor tersebut. (Reuters)

Artinya, ketika sebagian masyarakat menahan belanja barang konsumsi, terdapat uang yang justru mengalir lebih besar ke sektor investasi dan pembangunan.

Ini memberikan sebuah pelajaran penting.

Ekonomi yang melambat di satu tempat belum tentu berarti semua sektor sedang jatuh.

Uang hanya berpindah.

Pola konsumsi berubah.

Prioritas berubah.

Dan sektor yang mampu menangkap perubahan tersebut justru dapat tumbuh lebih cepat.

Inilah ekonomi yang sedang berubah

Mungkin kita sedang memasuki fase ekonomi yang berbeda.

Bukan lagi zaman ketika konsumen membeli karena ada promo.

Bukan lagi zaman ketika toko online otomatis lebih murah daripada toko offline.

Dan bukan pula zaman ketika omzet besar otomatis berarti keuntungan besar.

Sekarang konsumen semakin pintar menghitung.

Penjual juga dipaksa semakin pintar menghitung.

Rp100.000 omzet tidak sama dengan Rp100.000 keuntungan.

Penjualan Rp1 miliar juga tidak berarti bisnis tersebut sehat apabila biaya untuk menghasilkan omzet tersebut terlalu besar.

Inilah mengapa pelaku usaha perlu mulai melihat laba bersih, bukan sekadar omzet.

Bisa jadi toko kecil justru mendapatkan kesempatan baru

Ada ironi menarik di sini.

Ketika biaya perdagangan digital meningkat dan selisih harga online dengan offline semakin kecil, toko fisik yang selama ini terdesak oleh marketplace bisa mendapatkan kesempatan untuk hidup kembali.

Toko yang berada dekat dengan konsumen memiliki keunggulan besar.

Tidak perlu menunggu pengiriman.

Tidak perlu membayar ongkos kirim.

Barang bisa diperiksa langsung.

Pembeli bisa bertanya langsung kepada penjual.

Dan jika pelayanan bagus, pelanggan bisa kembali tanpa harus membuka aplikasi marketplace.

Bahkan ke depan, bukan tidak mungkin model terbaik bagi banyak UMKM bukan memilih antara online atau offline.

Melainkan menjalankan keduanya.

Toko offline menjadi tempat pelayanan dan kepercayaan.

Marketplace menjadi tempat mencari pelanggan baru.

Media sosial menjadi tempat membangun hubungan.

Dan pelanggan lama diarahkan kembali menjadi pelanggan langsung.

Masalah sebenarnya bukan masyarakat tidak punya uang

Mungkin masalah yang lebih tepat adalah:

masyarakat semakin berhati-hati dalam menggunakan uangnya.

Ini dua hal yang berbeda.

Orang masih membeli makanan.

Masih membeli pakaian.

Masih memperbaiki rumah.

Masih membeli perlengkapan rumah tangga.

Masih bepergian.

Masih menggunakan internet.

Masih membeli kebutuhan sekolah dan kantor.

Tetapi setiap pengeluaran sekarang harus melewati pertanyaan:

“Apakah saya benar-benar membutuhkannya?”

Dan pertanyaan sederhana itu dapat mengubah seluruh peta perdagangan.

Barang yang dianggap kebutuhan akan tetap dicari.

Barang yang dianggap keinginan akan lebih mudah ditunda.

Karena itu, bisnis yang menjual kebutuhan sehari-hari atau memberikan manfaat yang jelas mungkin memiliki daya tahan berbeda dibandingkan bisnis yang sangat bergantung pada pembelian impulsif.

Jadi, apakah daya beli masyarakat sedang melemah?

Jawabannya harus hati-hati.

Secara nasional, data resmi belum menunjukkan masyarakat berhenti melakukan konsumsi.

Konsumsi rumah tangga masih tumbuh dan ekonomi Indonesia tetap mencatat pertumbuhan.

Namun, di tingkat lapangan, banyak pelaku usaha dapat merasakan tekanan yang lebih besar karena konsumen semakin selektif, persaingan semakin ketat, sementara biaya menjalankan bisnis juga meningkat.

Dengan kata lain:

bukan berarti uang hilang dari masyarakat.

Tetapi uang masyarakat menjadi lebih sulit direbut oleh penjual.

Dan ini adalah perbedaan yang sangat penting.

Masa depan perdagangan mungkin bukan online melawan offline

Menurut saya, pertarungan sebenarnya bukan lagi antara toko online melawan toko offline.

Pertarungannya adalah:

siapa yang paling efisien, paling dipercaya, paling dekat dengan konsumen, dan paling mampu memberikan nilai.

Marketplace akan tetap hidup.

Toko offline juga akan tetap hidup.

Bahkan keduanya bisa saling melengkapi.

Yang mungkin mulai hilang adalah anggapan bahwa:

“Kalau online pasti lebih murah.”

Karena ketika biaya marketplace, promosi, logistik, dan berbagai pungutan semakin diperhitungkan, harga online dan offline bisa semakin mendekati.

Dan ketika perbedaan harga semakin kecil, konsumen akan kembali bertanya:

“Kalau harganya hampir sama, mengapa saya tidak beli di toko dekat rumah saja?”

Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi awal kebangkitan kembali perdagangan offline.


Kesimpulannya

Ekonomi Indonesia hari ini tidak bisa hanya dibaca dari satu angka.

Di satu sisi, konsumsi rumah tangga masih tumbuh. Di sisi lain, tekanan terhadap sebagian pedagang dan konsumen memang nyata.

Ada sektor yang melambat.

Ada sektor yang bertahan.

Ada sektor yang justru tumbuh lebih cepat.

Investasi dan konstruksi, misalnya, menunjukkan penguatan pada kuartal II 2026. (Reuters)

Sementara perdagangan ritel juga masih menunjukkan pertumbuhan pada awal 2026. (Bank Indonesia)

Karena itu, mungkin kita tidak sedang menyaksikan ekonomi yang mati.

Kita sedang menyaksikan perubahan arah uang.

Konsumen mengubah prioritas.

Penjual mengubah strategi.

Marketplace mengubah struktur biaya.

Pemerintah mengubah kebijakan.

Dan toko offline mulai mendapatkan kembali alasan untuk bersaing.

Dalam situasi seperti ini, pemenangnya bukan selalu perusahaan terbesar.

Bisa jadi justru mereka yang paling cepat membaca perubahan perilaku masyarakat.

Karena dalam ekonomi, ketika konsumen berubah, cara berbisnis juga harus berubah.

⚡ FLASH SALE
02 : 45 : 30
Lihat Semua >
Memuat produk promo...