Ketegangan Dua Tokoh Karo: Djamin Ginting dan Selamat Ginting dalam Lintasan Sejarah Perang Kemerdekaan

Sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia di Sumatra Utara tidak pernah lepas dari peran dua tokoh besar asal Tanah Karo, Djamin Ginting dan Selamat Ginting. Keduanya dikenal sebagai komandan tangguh yang berperan penting dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Namun dalam perjalanan perjuangan, hubungan keduanya sempat diwarnai ketegangan yang hampir berujung konflik terbuka.
Kisah tersebut terungkap melalui kesaksian Mayor Purnawirawan Sumbat Sembiring, veteran perang yang pernah berada di bawah komando dua tokoh tersebut. Cerita ini menjadi bagian penting dalam memahami dinamika perjuangan rakyat Karo di masa revolusi.
Laskar Napindo dan Perang Gerilya Melawan Belanda
Pada usia 15 tahun, Sumbat Sembiring telah bergabung dengan Laskar Napindo. Pasukan rakyat ini dikenal aktif melakukan perlawanan gerilya terhadap tentara Belanda di wilayah Sumatra Utara. Tugas yang dijalankan bukan pekerjaan ringan. Kompi perusak tempat Sumbat bertugas membawa granat dan bahan peledak untuk menghadang kendaraan lapis baja musuh.
Strategi yang digunakan sederhana namun efektif. Ranjau dipasang di jalur yang dilewati tank Belanda. Ketika kendaraan melintas, ledakan terjadi dan menghambat pergerakan pasukan kolonial. Perlawanan rakyat seperti inilah yang memperkuat posisi pertahanan di daerah pedalaman.
Peralihan ke Resimen Djamin Ginting
Setelah 1947, Sumbat Sembiring berpindah ke Resimen I Divisi X yang dipimpin Letkol Djamin Ginting. Kemampuan berbahasa Indonesia membuatnya dipercaya membantu tugas di markas resimen. Dalam periode inilah ketegangan antara dua komandan asal Karo mulai terlihat.
Djamin Ginting memiliki latar belakang sebagai mantan anggota Gyugun, pasukan bentukan Jepang. Sementara Selamat Ginting memiliki basis kuat di kalangan laskar rakyat serta jaringan politik. Perbedaan latar belakang inilah yang memunculkan gesekan dalam kepemimpinan di lapangan.
Integrasi Laskar dan Tentara Reguler ke Dalam TNI
Pada 31 Januari 1948, Gubernur Militer Aceh dan Sumatra Utara Tengku Daud Beureueh meresmikan struktur Tentara Nasional Indonesia hasil integrasi laskar rakyat dan tentara reguler. Dalam susunan tersebut, Djamin Ginting dipercaya sebagai komandan dan Selamat Ginting sebagai wakil komandan.
Secara struktur, integrasi terlihat solid. Namun pelaksanaannya di lapangan tidak berjalan mulus. Napindo tetap beroperasi mandiri di wilayah Tigalingga, sedangkan pasukan lain menyebar ke Tapanuli. Perbedaan komando dan pengaruh membuat koordinasi tidak selalu harmonis.
Napindo Halilintar dan Kekuatan Selamat Ginting
Nama Selamat Ginting menonjol karena memimpin Napindo Halilintar, salah satu kekuatan laskar terbesar di Sumatra Utara. Pasukan ini berkembang pesat setelah berhasil menguasai truk berisi persenjataan dari tentara Jepang. Senjata tersebut memperkuat posisi Napindo dalam menghadapi agresi militer Belanda.
Selamat Ginting juga dikenal aktif dalam Barisan Pemuda Indonesia Tanah Karo. Basis massa yang kuat membuat pengaruhnya meluas hingga ke berbagai wilayah perlawanan. Namun pada 1947 terjadi perpecahan internal di tubuh Napindo sehingga pasukan tersebut terpecah menjadi beberapa kesatuan.
Insiden Rantebesi dan Ancaman Konflik Antar Pasukan
Ketegangan memuncak setelah Perjanjian Renville pada 1948. Napindo Resimen Halilintar kemudian berubah menjadi Brigade Mobil TNI di bawah komando Selamat Ginting. Dalam periode ini terjadi insiden serius di Rantebesi, Tigalingga.
Pasukan Djamin Ginting melucuti sekitar 200 prajurit Napindo. Tindakan tersebut memicu kemarahan dan hampir menyeret dua kelompok bersenjata Karo ke dalam konflik internal. Ultimatum dikirim agar seluruh pasukan dan senjata dikembalikan.
Situasi berada di titik genting. Ancaman bentrokan sesama pejuang republik membayangi wilayah Tanah Karo. Beruntung, penyelesaian akhirnya tercapai dan perang saudara dapat dihindari. Meski demikian, ketegangan menyisakan luka dalam hubungan kedua kubu.
Jalan Hidup Berbeda Setelah Revolusi
Setelah perang usai, perjalanan hidup kedua tokoh mengambil arah berbeda. Djamin Ginting melanjutkan karier militer hingga menjabat Panglima Kodam Bukit Barisan pada periode 1956 sampai 1961. Pengabdian panjang tersebut mengantarkan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional pada 2014.
Selamat Ginting memilih jalur politik. Keterlibatan bersama Partai Nasional Indonesia membawanya ke posisi strategis di tingkat daerah dan nasional. Hubungan dekat dengan Presiden Sukarno menjadi bagian dari perjalanan politiknya hingga pertengahan dekade 1960.
Refleksi Sejarah Perjuangan Rakyat Karo
Kisah Djamin Ginting dan Selamat Ginting menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak selalu berjalan tanpa gesekan. Perbedaan latar belakang militer dan politik sering melahirkan dinamika yang kompleks.
Meski sempat berselisih, keduanya tetap tercatat sebagai pejuang republik yang berkontribusi besar dalam mempertahankan kemerdekaan di Sumatra Utara. Ketegangan yang pernah terjadi justru memperlihatkan betapa berat dan rumitnya proses integrasi laskar rakyat ke dalam struktur militer nasional.
Sejarah perjuangan rakyat Karo melalui dua tokoh ini menjadi bagian penting dalam narasi besar revolusi kemerdekaan Indonesia. Dari medan gerilya hingga panggung politik nasional, kontribusi keduanya tetap dikenang sebagai bagian dari fondasi Republik Indonesia.