Kisah Jusup Sitepu : Jejak Nada Yang Tidak Pernah Padam

dok. Jusup Sitepu dan Advent Bangun

Di kaki bukit Gung Mbelin, udara selalu bergerak pelan, membawa suara angin yang seolah menyimpan banyak cerita. Di sanalah, di perbatasan Desa Batukarang dan Payung, sebuah monumen berdiri, bukan monumen biasa, melainkan tempat penghormatan bagi seorang seniman yang pernah mengguncang dunia musik Karo Jusup Sitepu.

Pembangunan itu melibatkan banyak orang: perangkat desa, tokoh masyarakat, para seniman, keluarga, bahkan donatur dari berbagai tempat yang merasa berhutang rasa kepada karya-karyanya. Tidak ada yang mengharapkan imbalan. Mereka datang karena satu hal kenangan.

Dari masa kecil hingga panggung pertama

Jusup lahir di tengah situasi sulit, pada masa pengungsian. Ia merupakan anak bungsu dari pasangan Mangsi Sitepu dan Tandangen br Perangin-angin. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa hidupnya tidak akan jauh dari musik. Ia tumbuh di Desa Batukarang, bersekolah di sana hingga SMP, lalu melanjutkan SMA di Pancur Batu.

Waktu berlalu, dan seperti banyak anak muda yang menggenggam mimpi, ia pergi merantau untuk kuliah di Yogyakarta. Ia memilih jurusan musik, sesuatu yang bagi sebagian orang mungkin dianggap tidak pasti. Tapi itulah Jusup, seseorang yang memilih rasa daripada logika.

Namun kuliahnya tidak selesai. Saat ia kembali pulang ke Tanah Karo, ia memutuskan jalan lain: bergabung dengan pemuda sebayanya dan membentuk band bernama The Giant Group.

Awalnya tidak ada alat musik. Bila ada tawaran tampil, mereka menyewa dari Kabanjahe. Tapi meski sederhana, penampilan mereka selalu penuh energi. Orang tidak hanya datang untuk mendengar mereka tampil, mereka datang untuk merasakan sesuatu.

Dan sesuatu itu adalah petikan gitar Jusup.

Saat musik menjadi identitas

Tidak lama setelah grup itu aktif tampil dari desa ke desa, popularitas mereka melonjak cepat. Orang-orang tidak lagi menyebut nama band mereka—mereka menyebut:
“Band Jusup Sitepu.”

Suara gitar, lirik sederhana dan apa adanya, serta pembawaannya yang jujur membuat lagu-lagunya mudah diterima. Lagu seperti Yogyakarta, Ole-Ole, Magdalena, dan Onggar-onggar menjadi lagu wajib di pesta, radio, hingga kedai kopi.

Pada masa itu, penyanyi Karo masih bisa dihitung dengan jari. Namun karya-karya Jusup membuka jalan baru. Banyak penyanyi muncul setelahnya, dan sebagian dari mereka pernah disentuh oleh ajaran maupun teladan Jusup. Ia bukan hanya tampil, ia membentuk generasi.

Panggung, cinta, dan proses yang tidak selalu mulus

Di balik panggung dan tepuk tangan, hidup Jusup juga melewati badai.

Ia menikah, dikaruniai anak, lalu berpisah. Luka itu sempat lahir menjadi lagu—Pertangisenku, yang begitu dalam hingga banyak orang mengaku diam diam menangis mendengarnya. Kemudian hadir Pengindo, lagu yang dinyanyikan putrinya sendiri, dan kembali dicintai masyarakat.

Beberapa tahun kemudian, ia kembali menemukan pendamping hidup dan memiliki dua anak lagi. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Takdir berkata lain.

Di usia yang masih produktif, penyakit menyerang tubuhnya. Ia pergi meninggalkan dunia ini, namun tidak meninggalkan kehampaan. Justru ia meninggalkan jejak—suara—warisan.

Walau jasadnya pernah dimakamkan jauh dari kampung halaman, cinta masyarakat akhirnya membawa rencana besar: memindahkannya kembali ke tanah kelahirannya dan membangun sebuah monumen serta museum musik sebagai tempat mengenang perjalanan panjang seorang anak kampung yang pernah mengguncang budaya bangsanya.

Monumen itu bukan sekadar batu atau patung.
Monumen itu adalah pengakuan, bahwa ada seseorang yang pernah membuat Karo bernyanyi bersama.

Warisan yang tetap hidup

Kini, meskipun ia telah lama pergi, lagu-lagunya masih diputar, dinyanyikan ulang, dan diingat. Bahkan generasi muda yang tidak sempat melihatnya tampil langsung tetap mengenalnya.

Bukan karena mereka diwajibkan untuk mengingat,
tetapi karena karyanya masih terasa relevan,
hangat, dekat, dan jujur.

Di dunia musik, tidak semua orang menjadi legenda. Banyak yang bernyanyi, banyak yang mencipta, tapi hanya sedikit yang menjelma menjadi identitas sebuah budaya.

Dan bagi masyarakat Karo, nama itu salah satunya adalah:

JUSUP SITEPU.