Media Asing Ikut Angkat Suara soal Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Kok Bisa . . .

Rencana pemerintah memberi gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto, kembali menjadi sorotan. Tidak hanya di dalam negeri, sejumlah media internasional ikut mengulas polemik ini dan menyoroti reaksi keras dari kelompok masyarakat sipil.

Gerakan Masyarakat Sipil Adili Soeharto telah merilis petisi penolakan yang ditandatangani lebih dari 13.000 orang. Beberapa aktivis HAM menyebut, gelar tersebut berpotensi melukai para korban pelanggaran HAM masa lalu.

Meski menuai kritik, Menteri Kebudayaan sekaligus Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, Fadli Zon, mengatakan bahwa pemerintah tetap menimbang sisi positif Soeharto.

“Kritik kami anggap sebagai masukan. Namun, jasa-jasa beliau juga luar biasa,” ujarnya dikutip dari Antara.

Apa Saja yang Ditulis Media Asing?

The Straits Times (Singapura)
Media ini menyebut pengusulan gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto sebagai langkah yang memicu “serangan balik”. Sekitar 500 akademisi dan aktivis dilaporkan mengirim surat terbuka kepada Presiden Prabowo agar menghentikan proses tersebut. Mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman bahkan menilai langkah itu bisa menjadi “pengabaian monumental” terhadap pelanggaran HAM.

The Sun (Malaysia)
Media ini menyoroti komentar kelompok HAM yang menyebut gelar pahlawan akan “mengkhianati nilai demokrasi”. The Sun juga menyinggung tuduhan korupsi dan pelanggaran sistematis selama 32 tahun kekuasaan Soeharto.

Channel News Asia (CNA)
CNA mencatat bahwa usulan gelar ini berasal dari aspirasi publik dan masih dalam tahap kajian. Namun, penolakan datang dari kelompok KontraS yang menilai rezim Soeharto terkait pembunuhan massal anti-komunis sejak 1960-an. Petisi di Change.org disebut mendapat ribuan tanda tangan.

Menunggu Keputusan Akhir

Rencana pemberian gelar ini disebut akan difinalisasi pada 10 November, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Keputusan Presiden Prabowo menjadi penentu.

Dengan pro-kontra yang terus mengalir, dari penilaian jasa ekonomi hingga catatan sejarah kelam isu ini diprediksi menjadi salah satu momen paling sensitif dalam perjalanan sejarah Indonesia.?