Mereka Sok Sibuk Bahas Politik, Tapi Diam-Diam Mereka Cari Tahu Tentang Karo

Ada tipe orang yang di depan umum ingin terlihat paling intelektual. Mereka bicara soal politik global, ekonomi makro, perang dunia, bahkan peradaban masa depan. Seolah-olah, topik yang berhubungan dengan suku, budaya, dan identitas dianggap kuno dan tidak relevan.
Namun lucunya, dalam kesendirian ketika layar HP hanya memantulkan wajah mereka sendiri, mereka justru mencari tahu hal-hal yang selama ini mereka remehkan cerita leluhur, bahasa daerah, tarian tradisi, bahkan sejarah marga yang mereka bawa sejak lahir. Termasuk budaya Karo, yang mereka anggap “tidak penting” ketika mencoba terlihat modern di ruang publik.
Yang mereka tidak sadari adalah satu hal sederhana:
Politik itu berubah setiap pemilu. Tapi budaya adalah identitas yang tidak bisa diganti.
Bahas politik boleh, itu bagus. Tapi apa gunanya mengetahui seluruh isi dunia jika tidak tahu dari mana diri sendiri berasal?
Karena pada akhirnya, orang bisa berpindah negara, mengganti kewarganegaraan, bahkan mengubah orientasi hidup, tapi identitas budaya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu dipanggil.
Dan bagi mereka yang berkata:
“Orang sudah pergi ke bulan, kamu masih bahas suku?”
Jawabannya sederhana:
Orang bisa pergi ke bulan karena tahu akar sejarah dan identitas peradabannya. Tanpa akar, tidak ada fondasi untuk melompat setinggi itu.
Maka, ketika mereka meremehkan, kamu tidak perlu marah.
Tidak perlu membalas dengan emosi.
Cukup senyum dan katakan dalam hati:
“Lanjut saja sok pintar. Pada akhirnya, kamu akan kembali mencari asalmu, seperti orang yang pulang ke rumah setelah terlalu lama berpura-pura menjadi orang lain.”
Dan saat itu tiba, budaya yang hari ini kau jaga akan menjadi jawaban yang mereka cari.
Mejuah-juah . . .