Pembakaran Mayat Versi Karo (Classify of Sembiring & Sambaring)

Secara umum, kremasi tidak terbatas pada Merga Sembiring saja. Yang dibakar biasanya jenazah para terjangkit wabah penyakit menular, perempuan yang mati melahirkan, beberapa yang mati kecelakaan berdarah (Jelma Si Mate Sada Wari), dukun santet yang tertangkap, perampok sakti (raja maling), dan lain sebagainya.
Di Doukan, Keluarga Ginting Muntei mengkremasi Giriten (Charnel House) beserta tulang-belulang di dalamnya setelah genap 7 generatie (di atas 200 tahun). Abunya ditabur di savana (lapangan terbuka). Landlord back into local soil.
![]() |
| Letak kapal kematian Sibajak Soerbakti |
Bagaimana kremasi versi Sembiring Singombak?
“Ngombak”
Setiap tujuh atau delapan tahun, keluarga Sembiring melaksanakan pesta kematian. Tulang-tulang dari seseorang yang meninggal dunia sejak pesta yang terakhir digali, dibakar, dan kemudian abunya diletakkan di dalam pot. Kemudian abu dalam pot diletakkan di Perahu Arwah, kemudian perahu tersebut ditenggelamkan ke Sungai Lau Biang.
Kuta Kesunduten di Astral Realm biasanya terdapat tidak jauh dari tempat pemakaman atau pegunungan. Namun demikian, beberapa orang Karo meyakini bahwa Kuta Kesunduten (negeri kediaman Putari Ijoh) hanya dapat dicapai melalui air.
Kepercayaan lama ini mengharuskan suatu ikhwal bahwa keluarga yang memiliki posisi penting di suku Karo, abunya diletakkan di peti yang berbentuk sebuah kapal perahu dengan bagian kepalanya berbentuk seekor burung rangkong (hornbill).
Peti kayu bertulis seperti itu dinamakan Pelangkah, yang adalah sebuah Perahu Tendí. Pelangkah terletak di sisi samping rumah dan diberi pipa saluran air untuk pengaliran cairan tubuh (sisa-sisa air pada abu) yang disalurkan langsung menuju ke tanah. Apabila sanak saudara memiliki cukup dana, maka akan dilaksanakan penguburan yang kedua.
Sisa-sisanya dibersihkan dan tengkorak serta tulang-tulang besarnya diletakkan di geriten, rumah untuk tulang-tulang. Tulang-tulang lainnya dibakar. Seremoni ini disebut nurun-nurun.
Pada situasi lainnya, seluruh tulang tersebut dibakar—dalam hal ini tidak ada keseragaman.
Pada sisi atas peti terdapat seorang laki-laki di bagian depan, yang biasanya menyandang sebuah senjata, dan wanita diletakkan di bagian belakang. Fungsi dari senjata tersebut adalah sebagai berikut: sosok sang phantom/hantu, pemimpin para roh membuka segel agar orang-orang yang meninggal dunia ini dipisahkan dari jiwanya; roh manusia hidup (tendí) melakukan urbanisasi menuju Path of the Dead (memasuki begu).
Figur wanita adalah sosok seorang priester, guru sibaso. Tangannya bagaikan memohon ke atas sana. Figur-figur seperti ini juga terdapat pada perahu keluarga Sembiring.
Kebanyakan dari Sembiring melaksanakan pembakaran dalam hal kematian dan meletakkan abunya di pot untuk waktu lama, menunggu seremoni besar-besaran dilaksanakan.
Keluarga Sembiring ini menurut beberapa legenda bahwa mayat mereka tidak akan dibolehkan dibiarkan lama di dalam kubur dan secepat mungkin dibakar. Kemudian mereka meletakkan abunya ke atas perahu ini dan menghanyutkannya ke sungai.
Figur-figur kecil di atas perahu tersebut menyatakan mereka-mereka yang telah meninggal dunia—biasanya empat atau delapan. Semuanya terbuat dari kayu pohon kemiri. Warna yang dibubuhkan didominasi merah dan hitam. Setiap sosok yang meninggal mendapatkan pakaian dan perhiasan agar dapat dikenali. Pakaian, senjata, dan perhiasan dari yang meninggal digantungkan pada perahu tersebut.
Diawali dengan penempatan perahu di atas gunung pasir, setelah itu diikat pada rakit bambu. Abu dari yang meninggal dunia disebarkan di atas perahu, atau pot-potnya diisi dengan abu dan diletakkan di atas perahu.
Pot-pot yang berisi abu pada rakitan bambu diletakkan di samping Perahu Tendí. Setelah selesai seremoni pertangisen, maka perahu tersebut dibawa kembali ke kampung. Pada hari keenam segalanya dibawa kembali ke gunung pasir. Pada bagian paling belakang dari haluan perahu diletakkan sebuah korban, yaitu ayam betina putih.
Di siang hari perahu tersebut dibiarkan di permukaan air. Setelah semua emas, pakaian, senjata, dan pernak-pernik dikeluarkan, sebelas kali perahu tersebut berlayar maju dan mundur, kemudian dilempari keluarga Sembiring dengan batu sehingga terbalik. Dengan demikian abu lebih cepat tumpah ke air.
Untuk keluarga Sembiring, tendí-tendí tersebut langsung menuju ke alamnya (ke tempat orang Karo yang telah mencapai pencapaian tertinggi, yaitu Putari Ijoh, di dasar Samudera).
Orang Karo yang abunya belum dilakukan upacara Ngombak, begu-nya berkeliaran di Perkuta-Kutaen (kuburan) dan tidak memasuki Kuta Kesunduten (alias dunia orang mati). Artinya masih bisa mengganggu sana-sini, alias berkeliaran sekitar abu jenazahnya.
Mbiring Manggusta
Reh Mbiring na,
Reh Jile na,
Reh bene na kacat na,
Reh Tebu na.
Demikian kira-kira lagu si Mbiring Manggusta.
![]() |
| Pelangkah (Perahu Kematian) Orang Karo |
(Lanjutan) Pembahasan tentang Sembiring
Masih lanjut pembahasan tentang Sembiring nich 🤓 ... semoga terhibur.
Secara etimologi
Penyebutan Sembiring lebih kepada pepatah pepitih seorang Raja:
SI + E + MBIRING = yang ini hitam
KATAngKu enda “kata gung”:
Si Mbentar e pe adi mbiring ningku mbiring me
Si Mbiring e pe adi mbentar ningku mbentar me
Begitulah MASIN-nya pemelas Si Raja Mehantu. 😁
Brahma Putro dalam hipotesa beliau menyebutkan kedatangan orang Hindu ini ke pegunungan (Tanah Karo) di sekitar tahun 1331–1365 Masehi. Mereka sampai di Karo disebabkan mengungsi karena Kerajaan Haru Wampu tempat mereka berdiam selama ini diserang oleh Lasykar Majapahit.
Akan tetapi, ada pula yang memberikan hipotesa: penyebaran orang-orang Tamil ini akibat terdesak oleh pedagang-pedagang Arab (Islam) yang masuk dari Barus.
Hipotesa lain ialah bahwa orang-orang Tamil (+ pembauran) yang kalah bersaing ini lalu menyingkir ke pedalaman Pulau Sumatera. Salah satu daerah yang mereka datangi adalah Taneh Karo. Menurut cerita-cerita tetua, kedatangan mereka di Tanah Karo diterima dengan baik. Mereka disapa dengan si mbiring. Akhirnya pengucapan si mbiring berubah menjadi Sembiring dan kemudian menjadi merga yang kedudukannya sama dengan merga lain.
Antitesa Lord Bandito
Jikalah benar mereka datang via Pelabuhan Belawan, naik kapal macam orang Rohingya... bukankah Medan lebih dekat daripada malumfat ke Saberaya 😁. Buktinya para Indiahe di Kampung Madras di Medan belum ganti kulit jadi orang Karo.
Sembiring Groups
Adapun pembagian sub-clan Sembiring, menurut Bandito terkonsentrasi di Panteken masing-masing, yang sejak awal sudah menjadi bagian dari masyarakat Karo, dipaparkan berdasarkan desa-desa yang mereka tinggali sebagai berikut:
-
Kembaren → Samperaya, Liangmelas
-
Sinulaki → Silalahi, Paropo, Belinun (Pernantin)
-
Keloko → Pergendangen, Tualang, Paropo
-
Pandia → Seberaya, Payung, Beganding
-
Gurukinayan → Gurukinayan, Gunungmeriah
-
Brahmana → Kananjahe, Rumah Kabanjahe, Perbesi, Limang, Bekawar
-
Meliala → Sarinembah, Kidupen, Rajaberneh, Naman, Munte, Biaknampe
-
Depari → Seberaya, Perbesi, Munte
-
Pelawi → Ajijahe, Perbaji, Selandi, Perbesi, Kandibata, Singgamanik, Hamparan Perak
-
Maha → Renun, Martelu, Pandan, Pasirtengah
-
Sinupayung → Jumaraja, Negeri
-
Colia → Kubucolia, Seberaya
-
Pandebayang → Buluhnaman, Gurusinga
-
Tekang (S. Sinukaban) → Kaban, Lingga
-
Muham → Susuk, Perbesi
-
Busok → Kidupen, Lau Perimbon
-
Bangko → Kotacane
-
Keling → Rajaberneh, Juhar, Rajatengah
-
Bunu Aji → Kutatengah, Beganding, Kutatonggal
-
Kapour (S. Sinukapar) → Sidikalang, Sarintonu, Pertumbuken
Sembiring Pagaruyung dan Sembiring Singombak
Klen Sembiring pada masyarakat tersebut di atas berasal dari dua sumber:
1. Sumber pertama adalah orang-orang beragama Hindu Padang yang berasal dari negeri bernama Kuala Ayer Batu.
2. Sembiring memakai nama-nama Kerajaan Hindustan yang beragama Pemena, yang disebut Sembiring Singombak.
Dijuluki Sembiring Singombak karena dahulu apabila ada keluarga mereka yang meninggal dunia, mereka tidak mengubur jenazahnya tetapi memperabukannya (dibakar), dan setiap 7 tahun maka abunya ditenggelamkan di Lau Biang (Sungai Wampu). Mereka berpantang memakan daging anjing.
Sembiring Singombak
Sembiring Singombak ini terdiri dari sekitar 15 sub-marga yaitu:
Brahmana, Pandia, Colia, Gurukinayan, Keling, Depari, Pelawi, Bunu Aji, Busok, Muham, Meliala, Pande Bayang, Maha, Tekang, dan Kapur.
Yang dibagi menjadi 3 kelompok:
-
Kelompok 1: Brahmana, Pandia, Colia, Gurukinayan, Keling
Menganggap mereka seketurunan sehingga tidak boleh menikah antar mereka. Disebut Lima ngei kami → asal nama Limang. -
Kelompok 2: Depari, Pelawi, Bunu Aji, Busok
Juga menganggap seketurunan dan pantang kawin sesama. -
Kelompok 3: Sisanya
Kesembilan sub-marga ini boleh menikah sesama Sembiring di luar kelompoknya.
Sedangkan Sembiring keturunan Raja Kunca-Tampei-Kuwala berasal dari Kerajaan Kuala Ayer Batu terdiri dari 5 sub-marga:
Sembiring Kembaren, Keloko, Sinulaki, Sinupayung, dan Bangko.
Kelompok ini juga memperabukan jenazah, tetapi abu dikubur, tidak dilarung seperti Sembiring Singombak. Mereka tidak berpantang memakan daging anjing.
Sama seperti kelompok Singombak, kelompok Kuala Ayer Batu ini dilarang menikah sesama mereka, kecuali sudah berhubungan sebagai 2 negeri:
Nageri Kepultaken (Karo Timur) dan Nageri Kesunduten (Karo Barat) — terutama Kembaren di Barat yang bebas menikahi Sembiring apa pun asal tidak sesama Kembaren.
Hal spesial untuk Sembiring Bangko. Kelompok ini sekarang berdomisili di Alas, Aceh Tenggara dan sudah menjadi bagian dari masyarakat Alas. Seperti halnya keturunan Raja Kuala Ayer Batu yang menetap di Sumatera Barat sudah pula menjadi bagian dari masyarakat Minangkabau.
Saat ini umumnya kelompok marga Sembiring ini sudah memeluk agama Kristen atau Islam dan tidak lagi memperabukan jenazahnya seperti dahulu.
Asal Usul Nama Sub-Marga (Diduga)
Beberapa diantaranya diduga berasal dari nama daerah asal mereka di India:
-
Pandia → Pandya
-
Colia → Chola
-
Tekang → Teykaman
-
Muham → Muoham
-
Meliala → Malaylam
-
Brahmana → kelompok Pendeta Hindu
Tapi semua cuma desas-desus… tidak ada penelitian lebih lanjut.
Sumbiring / Sempiring / Sambaring
Darimana & sejak kapan mereka terresap sebagai orang Karo?
Yang jelas, ada suatu budaya Karo begitu tinggi sehingga mereka yang sudah berbudaya tinggi pula mau tidak mau harus tunduk & menjadi Karo.
Kesan & Pesan
Mengetengahkan Karo dari India demi KBB sama sekali “bukan solusi”.
Yang ngaku Batak Karo (yang Bandito temui) justru Sembiring Singombak ini.
Belum lagi Tarombo Batak di internet misalnya mencatat bahwa Sembiring Meliala adalah keturunan Pardosi, atau buku Batak berjudul Raja Bunga-Bunga yang mencatat bahwa Sembiring Singombak secara keseluruhan (sada pe la ketadingen) adalah keturunan Silahi Sabungan 😁
Mungkin Kam sering nonton felem India di bioskop, tapi la njelimet.
Bagian Candaan & Sindiran (Tetap dipertahankan sesuai asli)
Abu bakaran mayit orang India ditabur ke Gangga (makanya lele jumbo-nya gede-gede).
Di Karo, yang dilarung ialah abu dari tulang-belulang.
Bukan ditebar, tapi dibenamkan bersama kapalnya.
Juga bukan ke Gangga, tapi ke Samudera Indonesia (Samudera Hindia Belanda), ke daerah kekuasaan Putari Ijoh.
Ma labo dage seri? Trus dimana Indiahe-nya…
Brahmana yang digadang-gadang dari India 🇮🇳, di Limang, sangat bangga dengan geriten mereka, Geriten Berahmana di Limang sana.
Berarti tidak itutung.
Giriten (Charnel House) adalah rumah tulang-belulang.
Kalau abu, silakan simpan di Pelangkah.
Brahmana itu 3M: Mbestang, Mbentar, Mbelin (lihat saja sister Tania) — jauh dari Dravida yang marHullit ITEM.
Ada sich yang blackforest, namanya Abang Ketua Limpol (Jack India).
Kalau ini birong.
Jack Ketua LimPul aja ngaku Karo di depan Monumen Pa Timpus:
“Kalau aku Sembiring Brahmana,” katanya, sambil mengelus perut buncitnya...
Reh me kita, ngaku keturunan Vrindavan.
Lalap la percaya diri 😋
Tanya aja BulangNdu:
NiJapa kin Taneh India i Karo, Laki?
TawaNa me reh:
Seberaya kempu, jawab KakekNdu.
Hindu Sumatera Kuno berpusat di Aceh & Pagaruyung (SumBar), tapi mengapa tradisi kremasi hanya ada di Karo tok?
Kuat dugaan SabeRaya juga menjadi pusat agama (Pemenna, bukan Hindu).
Tradisi Hindu yang diserap hanyalah Trimurti dan pemakaian nama kerajaan-kerajaan di Hindustan di belakang Sembiring mereka.
ADA MANUSIA Karo, barulah dicetuskan merga-merga.
Membariskan anak PAUD saja untuk upacara bukan main susahnya, konon pula:
“Keina masuk Sembiring krina, ea.”
NiNdu: “Nte ko teih, gusgus kudin masing-masing!”
Nina, kuga narilah ningen yah...
😡 Kami tetap Vrindavan, Bandito!
😡 NiNdu pe... Bagi einda jababKu:
Taneh Sempukul si baba niniNdu ndube, pumahi mulihi, baba tu Vrindavan, kune seri timbangenNa, ba’ci niAloken Kam joh piga-piga hectare, sikapken men bangKu 1 tapak rumah saja... La pe rulih, kualo-alo Kam pagi krina lalap, ku Taneh Si Malem einda...
Egia, Ketua Limpol pe kujeinda, berarti mehumuren (lebih subur) kuakap jenda, ula kari kuga ngei nuAteNdu 😉
😖 Bageina kal NiNdu, kami Karo saja, nak Ting, la gia surong 🇮🇳 Indiahe ndai… Labo kari angka perbahasa Aca Aca Nehi Nehi, cakapTa perbahasa KuJah KuJeh 😖
😁 Tou min Tou…
Jadi ingat catatan di buku Kenangan Merga Munthe:
David Munthe, seorang antropolog yang tinggal di Madagaskar asal Norwegia, mengunjungi Kuta Ajinembah, diantar oleh Pengurus Nomensen dan diterima Pendeta Pantekosta Ajinembah (1971).
David mengemukakan bahwa leluhurnya berasal dari Ajinembah. Leluhurnya berasal dari Rumah Sendi, dan kakeknya mengatakan dalam bahasa sehari-hari keluarganya (their mother tongue) kerap menyebut putih dengan “Mbulan”.
(Penutur: Pa Nambah Munthe, penduduk Ajinembah, 2001.)
Menilik dari penemuan kerangka manusia purba yang 2/3-nya berasal dari Indonesia, jangan-jangan dari sini baru ke Vrindavan...
Rempet kari kalak Indiahe, ngerana:
“Erkai keina kempak einda, kami pe perbahan mela na mulih ku Seberaya nge, maka gengken kami nijenda.”
GumisNdu si kriting e pe kari rempet “pinter”...
Iyah min ota dage na, iyah ku India ndai kita 😁
😚 Oula nak Ting — ku Seberaya saja kita 😚 🤓 DaKam kari 🤓
Notes:
J. Ginting
E. Sembiring
A. Ginting
W. Sinuraya

