Preman Karo dan Perebutan Pasar di Sumatera Timur: Jejak Kelam dari Pusat Pasar Medan Hingga Binjai

Fenomena premanisme di Sumatera Timur, khususnya yang melibatkan para pemuda Karo, bukanlah cerita baru. Jauh sebelum istilah “penguasa lapangan” populer seperti sekarang, berbagai pasar tradisional di Medan, Binjai, dan Tanah Karo telah menjadi arena perebutan kekuasaan antar kelompok. Kisah-kisah di balik sejarah ini tidak hanya berisi kekerasan, tetapi juga pertemuan antara tradisi, keberanian, silat Karo, dan dinamika sosial politik pada masa itu.

Perebutan Pusat Pasar Medan: Pasar 1 vs Juma Raja

Pada suatu pagi yang masih gelap di Padangbulan, Medan, tiga pemuda yang dikenal sebagai bagian dari kelompok Pasar 1 Titi Rante Padang Bulan melakukan aksi yang kelak menjadi buah bibir, mereka menyerang Pusat Pasar Medan dengan pasir bercampur cabai, senjata tradisional untuk membutakan lawan dan membacok setiap laki-laki yang mereka anggap bagian dari kelompok penguasa pasar saat itu, yaitu pemuda asal Juma Raja, Karo.

Pada era tersebut, Pusat Pasar Medan memang menjadi salah satu titik paling panas dalam peta kekuatan preman lokal. Konflik bukan antar etnis, melainkan antar kelompok pemuda Karo sendiri yang memperebutkan siapa yang menguasai distribusi, pungutan, dan keamanan pasar.

Dinamika yang Sama Terjadi di Pajak Bawah Binjai

Kisah serupa juga terjadi di Pajak Bawah Binjai. Persaingan dua kelompok dikenal sebagai preman Berastepu dan preman Kubu menjadikan pasar tersebut salah satu kawasan paling keras di Sumatera Timur.

Kelompok Berastepu dikenal kuat karena tradisi silat Karo-nya yang kental. Di kaki Gunung Sinabung, para pemuda dari desa itu berlatih setiap hari sebelum akhirnya turun gunung menyerang kelompok Kubu yang saat itu menguasai beberapa pasar penting di Kabanjahe maupun Binjai.

Meski sempat menguasai Pasar Kabanjahe, godaan ekonomi di Pajak Bawah Binjai jauh lebih besar, sehingga para pemuda Berastepu memindahkan basis operasinya ke sana dan bertahan hingga kini.

Ketegangan Bahkan Menjalar ke Lapangan Sepak Bola

Premanisme pada masa itu bukan hanya terjadi di pasar. Bahkan kompetisi sepak bola PSSK Karo pun pernah diwarnai kekerasan. Dalam sebuah pertandingan melawan Yon 125 Simbisa, keributan besar meletus setelah seorang penjaga gawang menyerang pemain lawan dengan tendangan ala Bruce Lee.

Kerusuhan pecah karena dendam lama antara pemuda Kubu dan pasukan TNI yang sebelumnya pernah bentrok di Pasar Kabanjahe. Para preman Kubu memasuki lapangan dengan menyembunyikan piso tumbuk lada di balik sarung, siap membalas dendam. Beruntung, insiden besar dapat dicegah setelah wasit melepaskan tembakan peringatan.

Jejak Para Tokoh Legendaris di Balik Premanisme Karo

Premanisme Karo pada masa itu tidak berdiri sendiri. Ia berakar dari sejarah panjang perjuangan dan kelompok-kelompok bersenjata Karo. Beberapa kelompok penting yang berpengaruh antara lain:

  • Garamata dan Barisan Harimau Liar, diwarisi dari pahlawan nasional Sigaramata dan diteruskan oleh Payung Bangun.

  • Pasukan Halilintar (Kilap Sumagan) pimpinan Mayor Selamat Ginting, yang menjadi basis kelompok Kubu.

  • Juma Raja, daerah basis perjuangan Nabung Surbakti, panglima Perang Sunggal yang memimpin perang selama 23 tahun.

  • Pasar 1 dan kelompok-kelompok Titirante Padangbulan yang dipimpin tokoh seperti Asia Keliat, Aksi Bangun, dan Mangku Bangun.

Generasi muda yang tumbuh di antara tokoh-tokoh ini mewarisi keberanian, ketegasan, serta sayangnya budaya kekerasan.

Pasar Tradisional Sebagai Medan Perebutan Kekuasaan

Pasar-pasar di Medan dan daerah Karo menjadi titik strategis bagi premanisme. Alasan utamanya:

  • kontrol distribusi sayur mayur dari dataran tinggi,

  • pungutan parkir dan keamanan,

  • perputaran uang tunai yang cepat,

  • lokasi yang ramai dan sulit dipantau aparat pada masa itu.

Tidak mengherankan bila pasar-pasar ini menjadi magnet bagi kelompok-kelompok pemuda kuat yang ingin menguasai “wilayah”.

Ketegangan Tak Pernah Benar-benar Hilang

Hingga hari ini, sisa-sisa ketegangan itu masih terlihat. Kabar ditemukannya mayat bersimbah darah di Pasar Induk Lau Cih, Medan waktu lalu memunculkan kembali kenangan lama bahwa konflik antar preman Karo masih bisa terjadi kapan saja.

Dalam konflik ini, yang menyedihkan adalah:
di kiri kawan, di kanan pun kawan.
Sesama putra Karo, namun saling berhadapan di medan kekuasaan.

Sejarah preman Karo bukan sekadar cerita kekerasan, tetapi potret gelap dari dinamika sosial, ekonomi, dan identitas di Sumatera Timur. Di balik nama-nama besar dan kelompok yang melegenda, ada kisah tentang pasar sebagai pusat perebutan kekuasaan, solidaritas yang keras, serta kenyataan bahwa kekuatan dan keberanian bisa berubah menjadi konflik berkepanjangan.