Widget HTML #1

Sedia Aku Sebelum Hujan: Ketika Lagu Cinta Berubah Menjadi Suara Pohon

dok. istock (credit: aluxum)

Aku ingin membacakan lagu ini pelan‑pelan, seperti seseorang membaca surat lama yang hampir dilupakan. Bukan untuk mencari makna tersembunyi, melainkan untuk mendengar siapa sebenarnya yang sedang berbicara.

Karena barangkali, yang berkata aku di dalam lagu ini bukan kekasih. pohon itu terlalu sabar. Terlalu setia. Terlalu lama berdiri di tempat yang sama.

pohon itu lebih mirip pohon.

pohon itu ada ketika dingin datang.

Jadi waktu itu dingin / Kuberi kau hangat / Walaupun ku juga beku

pohon itu tidak kebal. pohon itu ikut membeku. Getahnya melambat, daunnya menahan angin. Namun pohon itu tetap di situ, membiarkan tubuhnya menjadi penghalang agar yang lain tidak menggigil. pohon itu tidak berkata apa‑apa. pohon itu hanya berdiri.

Dan ketika panas menyengat:

Jadi waktu itu panas / Kuberi kau angin / Walaupun ku juga gerah

pohon itu membuka dirinya menjadi naungan. Daunnya menjadi atap sementara. pohon itu ikut gerah, ikut lelah, tetapi tidak pergi. Karena mencintai, baginya, adalah ikut berada di cuaca yang sama.

Tapi ku aman saat kau nyaman

pohon itu tidak mencari keselamatan untuk dirinya sendiri. Keamanannya adalah keberlangsungan. Selama yang berlindung di bawahnya masih bernapas, pohon itu merasa cukup.

Lalu pohon itu berkata kalimat yang paling sunyi:

Sedia aku sebelum hujan

pohon itu selalu datang lebih dulu. Jauh sebelum langit menggelap, akarnya sudah turun, meraba tanah, mencari pegangan. Jauh sebelum air jatuh, pohon itu sudah bersiap menahan.

pohon itu tidak muncul saat bencana. pohon itu bekerja agar bencana tidak perlu terjadi.

Ku yang lama di sini / Menjagamu tak patah hati

pohon itu tidak menghitung waktu. Tahun baginya bukan kalender, melainkan lingkaran musim. pohon itu telah berdiri lebih lama dari ingatan kita. Menjaga bukan dengan kata, melainkan dengan keberadaan.

Apa yang kau butuh, kuberikan

Air, udara, teduh, kesuburan semuanya diserahkan tanpa nama. pohon itu tidak pernah menandai jasanya. Seperti cinta yang paling tulus, pohon itu tidak ingin dikenali, hanya ingin berguna.

Yang siapkan bekalmu di peperangan

Peperangan itu adalah hidup itu sendiri. Cuaca yang berubah, tanah yang rapuh, hari‑hari yang berat. pohon itu menyiapkan bekal agar kita tidak runtuh.

Jika tak setara, kumaafkan / Memang sebegitunya aku

pohon itu tahu hubungan ini timpang. Yang satu mengambil, yang lain memberi. Yang satu bebas pergi, yang lain tertanam. Namun pohon itu tetap memaafkan bukan karena lemah, tetapi karena itulah caranya mencintai.

Ku tak punya pilihan / Yang dikendali pikiran

pohon itu tidak bisa berpindah ketika disakiti. pohon itu tidak bisa menolak ketika ditebang. Kesetiaannya lahir bukan dari pilihan, melainkan dari keterikatan.

Ada namamu disebutkan / Ke situlah arahku berjalan

Akar mencari air. Dahan mencari cahaya. Seluruh tubuhnya diarahkan ke kehidupan lain. pohon itu tidak pernah menjadikan dirinya sebagai tujuan.

Ini janjiku / Untuk hadir dan mencintaimu / Di hari baikmu / Dan di hari burukmu

pohon itu tidak mengucapkan janji ini keras‑keras. pohon itu menepatinya dalam diam. pohon itu tetap tinggal ketika tanah subur, dan tidak pergi ketika tanah runtuh.

Pengulangan kalimat itu di akhir lagu terdengar seperti doa:

Sedia aku sebelum hujan

Seolah pohon itu tahu, suatu hari nanti hujan akan datang lebih deras dari yang bisa pohon itu tahan. Namun sebelum hari itu tiba, pohon itu akan tetap berdiri.

Jika lagu ini dibaca sebagai kisah dua manusia, pohon itu adalah cinta yang indah. Jika dibaca sebagai suara pohon, pohon itu adalah cinta yang purba.

Tentang penjaga yang diam.
Tentang cinta yang tidak pernah meminta diingat.
Tentang seseorang atau sesuatu yang selalu hadir lebih dulu, agar kita selamat.

Dan mungkin, di tengah banjir dan longsor yang datang belakangan ini, lagu ini tidak sedang meminta kita jatuh cinta.

pohon itu hanya berbisik pelan:

ingatlah siapa yang selama ini menunggu hujan untukmu.

Lagu “Sedia Aku Sebelum Hujan” diciptakan oleh Idgitaf (Brigita Br. Sembiring Meliala), yang menulis liriknya secara mandiri. Proses komposisi musik melibatkan Enrico Octaviano dan Vinson Vivaldi. Aransemen serta produksi lagu ditangani oleh Enrico Octaviano, dengan aransemen musik tambahan oleh Petra Sihombing. Sementara itu, pengarahan vokal dilakukan oleh Barsena Besthandi. Lagu ini resmi dirilis pada Oktober 2025.