Tol Itu Cepat, Tapi Saya Memilih Jalan Yang Menghidupi Rakyat

Saya tidak anti jalan tol. Saya paham Indonesia membutuhkan konektivitas. Distribusi barang harus cepat. Mobilitas harus efisien. Pertumbuhan ekonomi perlu didorong.
Namun ada hal yang terus mengganggu pikiran saya.
Saya melihat warung yang makin sepi.
Saya melihat bengkel kecil kehilangan pelanggan.
Saya melihat pedagang pinggir jalan menunggu kendaraan yang tak lagi lewat.
Lalu saya bertanya dalam hati, kemajuan ini sebenarnya untuk siapa?
Setiap peresmian jalan tol selalu diiringi narasi yang sama. Waktu tempuh berkurang drastis. Kemacetan menurun. Investasi meningkat.
Tetapi hampir tidak pernah dibahas apa yang terjadi pada jalur lama.
Di berbagai daerah Indonesia, pola yang muncul serupa. Ketika Tol Trans Jawa beroperasi penuh, banyak pelaku usaha di sepanjang Pantura kehilangan pelanggan. Jalur lama di Jawa Barat mengalami penurunan aktivitas ekonomi setelah Tol Cipularang menjadi rute utama.
Arus kendaraan berpindah.
Arus uang ikut berpindah.
Dan yang paling dulu merasakan dampaknya adalah rakyat kecil.
Bagi saya, efektivitas bukan hanya soal kecepatan mencapai tujuan. Efektivitas adalah tentang seberapa luas manfaat yang dirasakan masyarakat.
Jalan alternatif melewati desa, pasar, rumah makan sederhana, kios bensin eceran, pedagang buah, dan jasa tambal ban. Setiap kendaraan yang melintas membuka peluang transaksi. Setiap persinggahan menghadirkan perputaran ekonomi.
Tidak ada tarif masuk.
Tidak ada batas akses.
Tidak ada sistem tertutup.
Semua lapisan masyarakat dapat menggunakannya tanpa beban tambahan.
Secara ekonomi lokal, ini jauh lebih efektif. Uang berputar langsung di komunitas setempat, bukan terkonsentrasi di simpul modern yang dikelola perusahaan besar.
Tol mungkin mempercepat perjalanan jarak jauh, tetapi jalan alternatif menjaga denyut kehidupan sehari hari.
Pertumbuhan ekonomi makro memang penting. Biaya logistik turun. Distribusi lebih lancar. Investor merasa lebih yakin.
Namun pertumbuhan angka tidak selalu berarti kesejahteraan merata.
Bagi pedagang kecil, efektivitas berarti pembeli yang datang.
Bagi sopir angkutan desa, efektivitas berarti akses tanpa biaya tambahan.
Bagi warga kampung, efektivitas berarti mobilitas yang tetap terjangkau.
Jika pembangunan hanya diukur dari kecepatan kendaraan, maka banyak dimensi kehidupan yang terabaikan.
Pengalaman di berbagai wilayah menunjukkan bahwa ketika tol menjadi pusat perhatian, jalur lama sering kehilangan perhatian kebijakan.
Padahal di sanalah ekonomi rakyat kecil tumbuh secara organik.
Jika tidak ada strategi penguatan jalur alternatif, yang terjadi bukan hanya perubahan rute, tetapi perubahan struktur ekonomi. Pusat aktivitas bergeser. Manfaat terkonsentrasi. Ketimpangan bisa melebar.
Saya tidak menolak tol. Namun saya menolak cara berpikir yang menganggap kecepatan selalu lebih penting daripada pemerataan.
Kemajuan seharusnya tidak hanya terlihat dari beton yang membentang panjang. Kemajuan harus terasa dalam kehidupan sehari hari masyarakat kecil.
Tol memang cepat.
Namun jalan alternatif lebih membumi.
Lebih merata.
Dan dalam banyak konteks, lebih efektif bagi rakyat kecil.
Saya percaya pembangunan yang baik bukan hanya soal sampai lebih cepat, tetapi tentang memastikan semua orang tetap ikut dalam perjalanan.
Karena kemajuan yang meninggalkan rakyat kecil di pinggir jalan bukanlah kemajuan yang utuh.