Selat Hormuz Ditutup Iran, Asia Terancam Krisis Energi dan Lonjakan Harga Minyak Global

Ketegangan geopolitik kembali mengguncang pasar energi dunia. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas pasokan minyak dan gas global. Jalur laut strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi internasional itu kini berada dalam situasi genting.
Langkah Iran tersebut langsung berdampak pada harga minyak dunia dan menimbulkan tekanan serius bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk.
Selat Hormuz Jalur Vital Perdagangan Minyak Dunia
Selat Hormuz terletak di antara Iran dan Oman. Jalur sempit ini menjadi penghubung utama ekspor minyak mentah dari negara-negara Teluk menuju pasar global.
Berdasarkan data lembaga pelacakan energi internasional, sekitar 13 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz sepanjang tahun 2025. Angka tersebut mewakili lebih dari 30 persen distribusi minyak mentah melalui jalur laut dunia.
Tidak hanya minyak, hampir 20 persen ekspor gas alam cair global dari kawasan Teluk juga melewati jalur ini, termasuk pasokan besar dari Qatar dan Uni Emirat Arab.
Jika penutupan berlangsung lama, pasar energi dunia berpotensi menghadapi lonjakan harga yang signifikan.
Harga Minyak Berpotensi Tembus 100 Dolar AS
Pasar langsung bereaksi setelah kabar penutupan Selat Hormuz mencuat. Harga minyak mentah acuan global Brent sempat naik lebih dari dua persen dan berada di kisaran 80 dolar AS per barel.
Sejumlah analis memperkirakan harga minyak dunia bisa melampaui 100 dolar AS per barel jika gangguan pasokan terus berlanjut. Kenaikan harga energi ini tentu akan memicu inflasi global, memperberat beban impor negara-negara berkembang, serta meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.
Asia Selatan Paling Rentan Krisis LNG
Wilayah Asia Selatan disebut sebagai kawasan yang paling terdampak akibat penutupan Selat Hormuz, terutama terkait pasokan gas alam cair.
Pakistan dan Bangladesh menjadi negara yang paling rentan karena hampir seluruh impor LNG berasal dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Pakistan mendapatkan sekitar 99 persen pasokan LNG dari kawasan tersebut, sementara Bangladesh mencapai lebih dari 70 persen.
Kondisi semakin berat bagi Bangladesh yang telah mengalami defisit gas struktural signifikan. Kekurangan pasokan harian mencapai lebih dari satu miliar kaki kubik. Jika distribusi LNG terganggu, sektor energi domestik berisiko mengalami penurunan permintaan secara paksa akibat keterbatasan pasokan.
India juga menghadapi tekanan besar. Sekitar 60 persen kebutuhan minyak India berasal dari Timur Tengah. Blokade berkepanjangan akan memperbesar beban impor dan memperburuk neraca transaksi berjalan.
China Hadapi Ujian Ketahanan Energi
Sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, China ikut terdampak secara signifikan. Lebih dari 80 persen minyak Iran dibeli oleh China, sementara sekitar 40 persen total impor minyak negeri itu melewati Selat Hormuz.
Dalam sektor LNG, sekitar 30 persen impor China berasal dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Meski demikian, China masih memiliki cadangan LNG sekitar 7,6 juta ton yang dapat menjadi bantalan jangka pendek.
Namun jika gangguan berlangsung lama, Beijing harus bersaing mendapatkan pasokan dari wilayah Atlantik. Kondisi tersebut berpotensi memperketat pasar energi di kawasan Asia Pasifik dan meningkatkan kompetisi harga.
Jepang dan Korea Selatan Tertekan Ketergantungan Impor
Jepang dan Korea Selatan termasuk negara dengan ketergantungan tinggi terhadap energi Timur Tengah. Jepang memperoleh sekitar 75 persen pasokan minyak dari kawasan tersebut, sementara Korea Selatan sekitar 70 persen.
Cadangan LNG kedua negara relatif terbatas. Jepang memiliki sekitar 4,4 juta ton, sedangkan Korea Selatan sekitar 3,5 juta ton. Persediaan itu diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan stabil selama dua hingga empat minggu.
Ketika harga minyak dan gas melonjak, kedua negara berpotensi menghadapi tekanan ekonomi serius akibat biaya impor yang meningkat drastis.
Asia Tenggara Terancam Inflasi Energi
Di Asia Tenggara, dampak utama diperkirakan berupa lonjakan biaya energi, bukan kekurangan pasokan langsung. Negara-negara yang bergantung pada pembelian LNG berbasis harga spot akan menghadapi kenaikan biaya penggantian yang tinggi.
Thailand menjadi salah satu negara yang paling terpapar risiko harga minyak. Dengan impor minyak bersih mencapai hampir lima persen dari Produk Domestik Bruto, setiap kenaikan harga minyak sepuluh persen dapat memperburuk neraca transaksi berjalan hingga setengah persen dari PDB.
Negara seperti Malaysia relatif lebih stabil karena berstatus sebagai pengekspor energi, sehingga dapat memperoleh keuntungan dari kenaikan harga.
Risiko Geopolitik dan Stabilitas Ekonomi Global
Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar isu regional, melainkan ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi global. Jalur ini merupakan simpul vital perdagangan energi dunia.
Jika situasi tidak segera mereda, lonjakan harga minyak global akan berdampak luas, mulai dari inflasi, pelemahan mata uang negara berkembang, hingga peningkatan beban subsidi energi pemerintah.
Pasar kini memantau respons negara-negara besar serta potensi jalur alternatif distribusi energi. Cadangan strategis di sejumlah negara konsumen utama memang dapat menjadi penyangga sementara, namun tidak cukup untuk menahan gejolak jangka panjang.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu kekhawatiran besar terhadap krisis energi global. Asia menjadi kawasan yang paling rentan, terutama negara-negara dengan ketergantungan tinggi terhadap impor minyak dan LNG dari Timur Tengah.
Lonjakan harga minyak dunia, ancaman inflasi, serta potensi gangguan pasokan menjadi risiko nyata yang harus dihadapi dalam waktu dekat. Dunia kini menunggu langkah diplomatik dan kebijakan strategis guna mencegah krisis energi yang lebih dalam.