Djasa Tarigan: Maestro Kulcapi Karo yang Mendunia, Diapresiasi Luar Negeri Meski Sepi di Negeri Sendiri

Di tengah minimnya perhatian terhadap seni tradisional di dalam negeri, nama Djasa Tarigan justru bersinar di panggung internasional. Konsistensi dalam melestarikan musik tradisi Karo membawa sosok ini meraih berbagai penghargaan bergengsi dari luar negeri, sekaligus mengukuhkan posisi sebagai maestro kulcapi Karo.
Tampil Memukau di Festival Internasional Filipina
Pengakuan terbaru datang dari ajang 3rd International Rondalla Festival Querdas sa Pagkakaysa di Tagum City, Filipina, yang berlangsung pada 12–19 Februari belasan tahun silam. Dalam ajang tersebut, Djasa Tarigan kembali dianugerahi gelar Maestro Kulcapi Karo.
Penampilan yang disuguhkan berhasil memikat peserta dari berbagai negara. Lagu “Penganjak Kuda Sitajul” yang dimainkan menggunakan kulcapi menghadirkan nuansa magis khas tradisi Karo. Kisah yang diangkat menceritakan seorang panglima perang yang gugur dalam pertempuran melawan pasukan Aceh, kemudian dikenang melalui ritual tahunan masyarakat.
Dalam tradisi tersebut, suara kulcapi dipercaya menjadi medium kehadiran arwah sang panglima. Teknik permainan yang unik, termasuk menghasilkan efek suara dengan menempelkan alat musik ke kulit, menciptakan pengalaman musikal yang belum pernah didengar oleh musisi internasional.
Inovasi Musik Tradisional Hingga Diakui Dunia
Perjalanan panjang Djasa Tarigan dalam dunia musik tradisional tidak lepas dari inovasi. Sejak era 1980-an, upaya menggabungkan instrumen tradisional dengan teknologi modern mulai dilakukan.
Pada 2000, penghargaan maestro diberikan oleh perusahaan elektronik Jepang Technics setelah berhasil memprogram suara instrumen tradisional Karo ke dalam keyboard. Inovasi tersebut menjadi terobosan besar, bahkan bagi industri musik global.
Prestasi lain juga tercatat di Belanda. Dalam sebuah kegiatan di Leiden University pada 2001, Djasa Tarigan menciptakan alat musik keteng-keteng dari bambu sepanjang sembilan meter. Atraksi tersebut mendapat apresiasi luar biasa dari peserta internasional dan mengantarkan gelar maestro pertama di Eropa.
Dari Seniman Lokal ke Panggung Dunia
Lahir di Kabanjahe pada 19 Oktober 1963, bakat seni telah mengalir sejak kecil dari lingkungan keluarga. Proses pembelajaran ditempuh bersama seniman tradisional Karo, Tukang Ginting, di Berastagi.
Karier profesional dimulai sejak 1982 dengan bergabung dalam grup musik tradisional dan tampil di Hotel Bukit Kubu Berastagi. Perjalanan kemudian berkembang ketika mendapat perhatian akademisi Universitas Sumatera Utara, hingga akhirnya dipercaya mengajar musik Karo.
Perubahan selera pasar musik mendorong adaptasi dengan penggunaan keyboard sejak 1988. Langkah tersebut membuka peluang tampil di berbagai daerah di Indonesia, sekaligus menginspirasi banyak grup musik Karo, khususnya di kawasan Padang Bulan, Medan.
Antara Peluang dan Ancaman Tradisi
Inovasi yang dilakukan membawa dampak besar. Di satu sisi, penggunaan keyboard dengan program suara tradisional membuka lapangan kerja baru. Di sisi lain, eksistensi alat musik tradisional mulai tergerus karena banyak acara adat beralih menggunakan instrumen modern.
Kondisi tersebut memicu kritik dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan kalangan akademisi. Kekhawatiran muncul akibat hilangnya keaslian interval nada tradisional yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh sistem musik Barat pada keyboard.
Situasi ini menjadi titik refleksi. Djasa Tarigan memilih melanjutkan perjuangan secara mandiri dalam memperkenalkan musik tradisional Karo ke dunia internasional.
Membawa Karo ke Panggung Global
Bersama etnomusikolog Irwansyah Harahap, perjalanan budaya dilakukan ke berbagai negara. Dalam setiap kesempatan, simbol Merah Putih dikibarkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan sebagai bentuk identitas nasional.
Dedikasi tersebut akhirnya mendapat pengakuan di dalam negeri melalui penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Negara pada 2005.
Profil Singkat Djasa Tarigan
Lahir: Kabanjahe, 19 Oktober 1963
Keluarga: Anak dari keluarga seniman
Anak: Rocky Tarigan, Yanto Tarigan
Domisili: Medan
Profesi: Seniman, pengajar, pemilik Djast Entertainment
Daftar Penghargaan dan Karya
Penghargaan:
Maestro Musik Karo di Leiden University, Belanda
Maestro dari Technics di Osaka, Jepang
Maestro Kulcapi Karo di Manila, Filipina
Karya:
Program instrumen tradisional Karo pada keyboard sejak 1986
Keteng-keteng terpanjang di dunia sepanjang sembilan meter
Konser budaya Karo “Semalam di Tanah Karo” di Pardede Hall
Kisah Djasa Tarigan menjadi potret ironi sekaligus inspirasi. Ketika apresiasi dalam negeri belum maksimal, dunia justru memberikan panggung yang luas. Dedikasi terhadap seni tradisional Karo membuktikan bahwa warisan budaya lokal memiliki daya saing global, selama dijaga dengan konsistensi dan keberanian berinovasi.