Rakut Sitelu vs Sangkep Nggeluh, Mana yang Benar-Benar Hidup di Karo?

Konsep “tungku tiga” bukan sekadar simbol memasak. Dalam banyak kebudayaan, termasuk di Nusantara, tungku menjadi metafora penting untuk proses pematangan keputusan baik secara individu maupun kolektif.
Ungkapan seperti “pikirkan masak-masak” atau “dibicarakan sampai matang” menunjukkan bahwa memasak adalah simbol proses berpikir yang matang dan seimbang.
Di sinilah muncul dua konsep besar:
Tigo Tungku Nan Sejarangan (Minangkabau)
Dalihan Na Tolu (Batak/Mandailing)
Keduanya sama-sama menempatkan tiga elemen utama masyarakat sebagai penyangga keseimbangan sosial.
Tigo Tungku Nan Sejarangan Fondasi Sosial Minangkabau
Dalam tradisi Minangkabau, “tiga tungku” terdiri dari:
Ninik Mamak – pemimpin adat dan keluarga besar
Alim Ulama – otoritas keagamaan
Penghulu – pemimpin pemerintahan
Ketiga unsur ini membentuk sistem sosial yang tidak hanya bersifat adat, tetapi juga memiliki dimensi politik dan moral.
Menariknya, istilah ini mulai populer pada 1920-an, ketika kaum terpelajar Minangkabau mencoba menunjukkan bahwa masyarakat lokal telah memiliki sistem yang setara dengan konsep modern seperti Trias Politica:
Eksekutif
Legislatif
Yudikatif
Narasi ini bukan sekadar budaya, tetapi juga strategi intelektual untuk membuktikan kesiapan bernegara.
Dalihan Na Tolu, Transformasi dalam Tradisi Batak dan Mandailing
Di Mandailing dan Batak, konsep ini berubah bentuk menjadi:
Kahanggi / Dongan Tubu – kelompok semarga
Anak Boru / Boru – pihak pengambil istri
Mora / Hula-hula – pihak pemberi istri
Struktur ini menempatkan hubungan kekerabatan sebagai pusat sistem sosial.
Berbeda dengan Minangkabau yang menekankan fungsi kepemimpinan, Dalihan Na Tolu lebih menonjolkan relasi genealogis dan perkawinan sebagai dasar keseimbangan sosial.
Adaptasi di Suku Lain seperti Pakpak, Simalungun, dan Karo
Konsep “tiga unsur” ini kemudian diadopsi oleh berbagai sub-etnis:
Pakpak → Daliken Si Telu
Simalungun → Tolu Sahundulan
Karo → Rakut Sitelu
Secara umum, ketiganya tetap merujuk pada:
Kelompok semarga
Pihak pengambil istri
Pihak pemberi istri
Namun, ada perbedaan mendasar dalam implementasi, terutama pada masyarakat Karo.
Problem Rakut Sitelu, Apakah Selaras dengan Realitas Sosial Karo?
Berbeda dengan konsep lain yang jelas terkait dengan musyawarah tiga pihak, dalam masyarakat Karo, praktik sosial justru menunjukkan hal berbeda.
1. Runggu Tidak Berbasis Tiga Unsur
Musyawarah dalam tradisi Karo (runggu) tidak berjalan dengan tiga komponen, melainkan melalui struktur:
Sembuyak
Senina
Anak Beru
Kalimbubu
Struktur ini dikenal sebagai Sangkep Nggeluh, bukan tiga tungku.
2. Ambiguitas Sembuyak dan Senina
Sebagian mencoba menyederhanakan dengan menyamakan:
Sembuyak = Senina
Namun, ini bermasalah karena:
Dalam Tutur Si 8, keduanya dibedakan secara jelas
Dalam Perkade-kaden 12, struktur juga tidak mendukung penyatuan tersebut
Artinya, penyederhanaan ini berpotensi mengaburkan struktur asli Karo.
3. Upaya Mempertahankan Rakut Sitelu
Ada juga interpretasi lain:
Senina
Anak Beru
Kalimbubu
Disebut sebagai pihak yang “merakut” (meneguhkan) Sembuyak.
Dalam konteks apa Sembuyak perlu diteguhkan?
Jika tidak ada kebutuhan struktural yang jelas, maka konsep ini menjadi lemah secara fungsional.
Analogi Simbolik, Benang Telu Rupa vs Benang Benalu
Pendekatan simbolik juga sering digunakan:
Benang Telu Rupa → Merah, Putih, Hitam
Benang Benalu → Merah, Putih, Hitam, Kuning
Jika simbol saja bisa berkembang menjadi empat unsur, maka pemaksaan angka “tiga” dalam Rakut Sitelu menjadi tidak konsisten secara simbolik maupun sosial.
Fakta Sosial Peran Anak Beru–Senina sebagai “Belit”
Dalam praktik nyata masyarakat Karo:
Jaminan sosial (perkawinan, hutang, dll.) dilakukan oleh Anak Beru–Senina
Keduanya disebut sebagai Belit (pengikat sosial)
Ini menunjukkan bahwa fungsi sosial utama justru tidak berbasis tiga unsur, melainkan pada relasi yang lebih kompleks.
Rakut Sitelu, Konsep atau Konstruksi?
Jika ditarik secara jujur dan metodologis:
Tigo Tungku Nan Sejarangan → jelas berbasis musyawarah dan struktur sosial
Dalihan Na Tolu → kuat dalam relasi genealogis
Rakut Sitelu → problematis secara empiris
Rakut Sitelu tampaknya lebih dekat pada:
Adaptasi konseptual
Bukan hasil dari realitas sosial Karo yang asli
Dengan kata lain, pertanyaannya bukan lagi:
“Apa itu Rakut Sitelu?”
Tetapi:
“Apakah Rakut Sitelu benar-benar hidup dalam praktik sosial Karo, atau hanya konstruksi yang dipaksakan agar selaras dengan model ‘tiga tungku’?”
Mejuah juah kita kerina . . .