Penelitian Psikologi Ungkap Alasan Media Sosial Bisa Membuat Seseorang Mudah Minder

KAROGAUL.COM – Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Platform seperti Instagram dan Facebook memudahkan pengguna untuk berbagi momen, berinteraksi, hingga membangun relasi. Namun di balik berbagai kemudahan tersebut, penelitian psikologi menunjukkan bahwa media sosial juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Temuan tersebut diungkap dalam disertasi doktoral berjudul "Social Media and Self-Evaluation: The Examination of Social Media Use on Identity, Social Comparison, and Self-Esteem in Young Female Adults" yang disusun Michelle Solomon di William James College pada 2016.
Penelitian itu berfokus pada hubungan antara penggunaan media sosial, proses membandingkan diri dengan orang lain (social comparison), pembentukan identitas, dan tingkat harga diri (self-esteem) pada perempuan dewasa muda.
Media Sosial Memperluas Proses Perbandingan Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia secara alami cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain. Sebelum era media sosial, proses tersebut umumnya terjadi dalam lingkup keluarga, teman, atau lingkungan kerja.
Namun, perkembangan media sosial membuat ruang perbandingan menjadi jauh lebih luas. Pengguna kini dapat melihat kehidupan ribuan bahkan jutaan orang dari berbagai daerah hanya melalui layar ponsel.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa kondisi ini membuat proses social comparison berlangsung lebih sering dibandingkan sebelumnya. Pengguna tidak hanya membandingkan dirinya dengan orang yang dikenal, tetapi juga dengan orang-orang yang sama sekali belum pernah ditemui secara langsung.
Pengguna Cenderung Menampilkan Sisi Terbaik Kehidupan
Salah satu temuan penting dalam penelitian adalah kecenderungan pengguna media sosial menampilkan citra diri yang ideal.
Foto yang diunggah umumnya telah dipilih terlebih dahulu, menggunakan sudut pengambilan terbaik, pencahayaan yang menarik, bahkan melalui proses penyuntingan menggunakan filter atau aplikasi pengolah gambar.
Peneliti menyebut fenomena tersebut sebagai idealized self, yaitu representasi diri yang telah dibentuk agar terlihat lebih menarik dibandingkan kondisi sebenarnya.
Perbandingan dengan Kehidupan Digital Dapat Memengaruhi Harga Diri
Menurut penelitian, ketika seseorang terus-menerus melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih menarik, proses evaluasi terhadap dirinya sendiri dapat berubah.
Sebagian pengguna mulai mempertanyakan pencapaian, penampilan, maupun kualitas hidupnya setelah membandingkannya dengan apa yang dilihat di media sosial.
Meski demikian, penelitian tidak menyimpulkan bahwa media sosial secara langsung menyebabkan rendahnya harga diri. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana proses perbandingan sosial tersebut memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Pengelolaan Citra Menjadi Bagian dari Aktivitas Media Sosial
Penelitian juga membahas konsep impression management, yaitu upaya seseorang mengendalikan bagaimana dirinya dipersepsikan oleh orang lain.
Di media sosial, hal itu dapat dilakukan melalui pemilihan foto, penyuntingan gambar, pengaturan privasi akun, hingga menghapus unggahan atau komentar yang dianggap tidak sesuai dengan citra yang ingin dibangun.
Dengan kata lain, media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang bagi pengguna untuk membentuk identitas digitalnya sendiri.
Fenomena FOMO Turut Muncul
Penelitian ini juga mengidentifikasi adanya Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman atau aktivitas yang dialami orang lain.
Ketika pengguna terus melihat unggahan mengenai liburan, pencapaian karier, atau berbagai kegiatan sosial, sebagian di antaranya merasa kehidupannya kurang menarik dibandingkan orang lain.
Perasaan tersebut dapat mendorong seseorang semakin sering membuka media sosial untuk mengikuti perkembangan terbaru.
Tidak Semua Pengguna Mengalami Dampak yang Sama
Meskipun demikian, penelitian menegaskan bahwa pengaruh media sosial tidak selalu sama pada setiap orang.
Sebagian pengguna memanfaatkan media sosial untuk menjaga hubungan sosial, memperoleh informasi, hingga mengembangkan jaringan profesional tanpa mengalami tekanan psikologis yang berarti.
Sebaliknya, pengguna yang lebih sering melakukan perbandingan sosial cenderung lebih rentan mengalami perubahan dalam evaluasi diri dan harga dirinya.
Penelitian Masih Relevan di Era Digital
Walaupun dilakukan pada 2016 dengan fokus pada Instagram dan Facebook, hasil penelitian ini dinilai masih relevan hingga saat ini.
Perkembangan platform digital seperti TikTok maupun media sosial berbasis video pendek tetap memiliki karakteristik serupa, yaitu memungkinkan pengguna memilih dan menampilkan sisi terbaik kehidupannya kepada publik.
Karena itu, memahami bahwa konten media sosial tidak selalu menggambarkan kondisi nyata menjadi salah satu langkah penting agar pengguna dapat menggunakan platform digital secara lebih bijak.
Disertasi Michelle Solomon menunjukkan bahwa media sosial dapat memperkuat proses social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Proses tersebut berpotensi memengaruhi evaluasi diri dan harga diri, terutama ketika seseorang terus terpapar pada konten yang telah dipilih dan dibentuk agar terlihat ideal.
Penelitian ini tidak menyatakan bahwa media sosial selalu berdampak negatif, tetapi mengingatkan bahwa cara seseorang memaknai informasi yang dilihat di dunia digital menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan psikologis di era media sosial.
Artikel ini sudah menggunakan gaya berita media online, tetapi karena sumbernya adalah disertasi ilmiah, isi berita tetap dibatasi pada temuan penelitian tanpa menambahkan klaim yang tidak didukung oleh dokumen tersebut.