Kisah Sulastri, Pengupas Bawang di Kramat Jati yang Dibayar Rp3.000 per Kilogram

Di tengah ramainya aktivitas Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, terdapat sejumlah perempuan yang bekerja sejak pagi dengan pekerjaan sederhana namun membutuhkan ketelitian. Mereka mengupas bawang satu per satu menggunakan pisau kecil untuk mendapatkan penghasilan dari setiap kilogram bawang yang berhasil diselesaikan.
Salah satunya Sulastri, perempuan berusia 56 tahun yang sudah sekitar 10 tahun bekerja sebagai pengupas bawang di Pasar Induk Kramat Jati.
Setiap hari, Sulastri duduk di antara tumpukan bawang dengan aroma yang cukup menyengat. Tangannya terus bergerak membersihkan kulit bawang agar siap digunakan atau dipasarkan.
Pekerjaan tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan yang diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Upah Pengupas Bawang Rp3.000 per Kilogram
Sulastri tidak menerima gaji harian tetap. Penghasilan ditentukan berdasarkan jumlah bawang yang berhasil dikupas.
Untuk setiap satu kilogram bawang, pengupas bawang di Kramat Jati mendapatkan bayaran sekitar Rp3.000.
Jika mampu menyelesaikan 15 kilogram dalam sehari, penghasilan yang diperoleh sekitar Rp45.000. Sementara itu, 20 kilogram bawang menghasilkan sekitar Rp60.000.
Namun, angka tersebut bukan pendapatan yang pasti setiap hari. Jumlah uang yang dibawa pulang sangat bergantung pada banyaknya bawang yang tersedia dan kemampuan menyelesaikan pekerjaan.
Sulastri biasanya mulai bekerja pada pagi hari. Ketika pekerjaan masih tersedia, waktu kerja dapat berlangsung sampai sore bahkan malam.
Penghasilan Mengupas 20 Kg Bawang Bisa Rp60.000
Saat pekerjaan sedang ramai, Sulastri mampu mengupas sekitar 15 hingga 20 kilogram bawang dalam sehari.
Dengan tarif Rp3.000 per kilogram, 20 kilogram bawang berarti penghasilan sekitar Rp60.000.
Bagi sebagian orang, jumlah tersebut mungkin terlihat kecil. Namun bagi Sulastri, uang hasil mengupas bawang tetap memiliki arti penting karena digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Penghasilan tersebut antara lain digunakan untuk membeli beras, gula, kopi, teh dan kebutuhan dapur lainnya.
Kondisi tersebut membuat jumlah bawang yang tersedia untuk dikupas menjadi sangat penting. Semakin banyak pekerjaan yang tersedia, semakin besar pula peluang mendapatkan penghasilan.
Risiko Kerja Pengupas Bawang
Mengupas bawang selama berjam-jam bukan pekerjaan tanpa risiko.
Para pekerja menggunakan pisau kecil untuk membersihkan kulit bawang. Ketika konsentrasi menurun akibat lelah atau mengantuk, jari tangan dapat mengalami luka maupun lecet.
Selain risiko terkena pisau, posisi duduk dalam waktu lama juga dapat menyebabkan tubuh terasa pegal. Sakit pinggang menjadi salah satu keluhan yang dirasakan setelah berjam-jam bekerja.
Jumiatun, salah seorang pengupas bawang lainnya, juga merasakan berbagai keluhan fisik selama bekerja. Rasa pegal, sakit pinggang dan gatal menjadi bagian dari kondisi yang harus dihadapi.
Meski tubuh mulai lelah, pekerjaan tetap dilanjutkan setelah makan atau beristirahat sejenak.
Saat Pasar Sepi, Pendapatan Pengupas Bawang Menurun
Pendapatan pengupas bawang di Pasar Induk Kramat Jati tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bekerja.
Kondisi pasar juga berpengaruh terhadap jumlah penghasilan yang bisa diperoleh dalam sehari.
Ketika aktivitas perdagangan sedang ramai dan bawang yang masuk cukup banyak, pekerjaan pengupasan tersedia dalam jumlah lebih besar. Sebaliknya, saat pasar sepi, jumlah bawang yang dapat dikupas ikut berkurang.
Kondisi tersebut membuat penghasilan harian para pekerja tidak selalu sama.
Untuk menambah pemasukan, mereka terkadang mengambil pekerjaan lain yang tersedia di sekitar pasar. Salah satunya memetik cabai dengan bayaran sekitar Rp2.000 per kilogram.
Sudah 10 Tahun Menjadi Pengupas Bawang
Sebelum bekerja sebagai pengupas bawang, Sulastri pernah menjadi pelayan rumah makan.
Pekerjaan mengupas bawang dikenalnya secara tidak sengaja ketika sedang mengantarkan kerupuk ke sejumlah warung di sekitar pasar bersama seorang teman.
Saat melihat aktivitas pengupasan bawang, Sulastri tertarik untuk mencoba. Dari pekerjaan yang awalnya hanya dicoba, aktivitas tersebut kemudian menjadi sumber penghasilan yang terus dijalani selama bertahun-tahun.
Sekitar 10 tahun sudah Sulastri bertahan sebagai pengupas bawang di Kramat Jati.
Meski pekerjaan tersebut melelahkan dan penghasilannya tidak besar, Sulastri tetap menjalaninya selama masih ada kesempatan mendapatkan uang.
Mengapa Sulastri Tetap Bekerja?
Ketiga anak Sulastri kini sudah bekerja. Namun kondisi tersebut tidak membuat perempuan 56 tahun tersebut berhenti mencari penghasilan.
Sulastri masih harus memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga, termasuk membayar biaya kontrakan.
Bekerja menjadi pilihan agar tetap memiliki uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Bagi Sulastri, selama tubuh masih mampu bekerja dan pekerjaan masih tersedia, kesempatan tersebut tetap harus dimanfaatkan.
Menerima Upah Menjadi Momen yang Membahagiakan
Setelah berjam-jam mengupas bawang, menerima hasil pekerjaan menjadi salah satu momen yang paling ditunggu.
Bukan karena jumlah uangnya besar, tetapi karena uang tersebut merupakan hasil dari tenaga dan waktu yang sudah dicurahkan sejak pagi.
Bahkan bagi pekerja lainnya, mendapatkan Rp20.000 hingga Rp30.000 tetap menjadi sesuatu yang membuat mereka senang.
Uang tersebut dapat digunakan untuk membeli kebutuhan rumah tangga yang mungkin harus segera dipenuhi.
Pengupas Bawang Bertahan di Tengah Penghasilan Tidak Tetap
Jumiatun, 50 tahun, merupakan salah satu pekerja yang mengalami kondisi serupa. Jika bekerja sampai sore atau malam dan pekerjaan cukup banyak, penghasilannya bisa mencapai sekitar Rp50.000 hingga Rp60.000 dalam sehari.
Namun, jumlah tersebut tidak selalu bisa didapatkan.
Pendapatan berdasarkan hasil membuat penghasilan mereka berubah-ubah setiap hari. Ketika pekerjaan sedikit, uang yang dibawa pulang juga ikut berkurang.
Situasi tersebut membuat para pengupas bawang harus memanfaatkan setiap kesempatan kerja yang tersedia.
Datang dari Berbagai Daerah untuk Mencari Penghasilan
Sulastri bukan satu-satunya perempuan yang datang dari luar daerah untuk mencari penghasilan di Jakarta.
Jumiatun berasal dari Demak, sedangkan Asih, 47 tahun, berasal dari Semarang. Sulastri sendiri memiliki latar belakang dari Sulawesi Tengah dan Jawa Timur.
Mereka bertemu di Pasar Induk Kramat Jati dengan tujuan yang hampir sama, yaitu mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang bisa dilakukan dengan kemampuan dan tenaga yang mereka miliki.
Pekerjaan sebagai pengupas bawang mungkin tidak menawarkan pendapatan besar. Namun, bagi para pekerja tersebut, pekerjaan itu tetap lebih berarti daripada tidak memiliki penghasilan sama sekali.
Harapan Sederhana dari Pengupas Bawang Kramat Jati
Di tengah penghasilan yang tidak menentu dan pekerjaan yang cukup menguras tenaga, harapan Sulastri sebenarnya sederhana.
Sulastri berharap harga kebutuhan pokok dapat semakin terjangkau sehingga penghasilan yang diperoleh dari bekerja bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Bagi pengupas bawang seperti Sulastri, kehidupan tidak selalu tentang mendapatkan uang dalam jumlah besar.
Ada pekerjaan yang bisa dilakukan, ada bawang yang dapat dikupas, dan ada penghasilan yang bisa dibawa pulang sudah menjadi hal penting.
Bayaran Rp3.000 per kilogram mungkin hanya terlihat sebagai angka. Namun, ketika 20 kilogram bawang berhasil diselesaikan, Rp60.000 menjadi hasil dari kerja keras selama berjam-jam.
Di balik aroma bawang yang tajam dan tangan yang terus bergerak, kisah Sulastri menunjukkan bagaimana pekerja informal tetap bertahan dengan mengandalkan tenaga sendiri demi memenuhi kebutuhan hidup setiap hari.