TRITES, Makanan Rumput Khas Karo Dari Lambung Lembu

Selain adat istiadat dan tradisi yang kuat, masyarakat Karo juga memiliki beragam kuliner tradisional khas yang menjadi identitas budaya. Salah satu yang paling unik dan sering menarik perhatian adalah pagit-pagit atau yang juga dikenal dengan nama terites.
Apa Itu Pagit-Pagit atau Terites?
Pagit-pagit adalah makanan tradisional khas Suku Karo yang memiliki cita rasa khas, sedikit pahit, dan kaya rempah. Hidangan ini sering disajikan dalam acara adat, pertemuan keluarga, hingga perayaan tertentu di masyarakat Karo.
Keunikan pagit-pagit terletak pada bahan utamanya, yaitu sari rumput yang berasal dari dalam lambung sapi atau kerbau. Namun perlu diluruskan, bahan yang digunakan bukanlah kotoran hewan, melainkan rumput yang baru saja dimakan dan masih dalam proses pencernaan awal di lambung.
Karena bentuk dan tampilannya yang mirip kotoran, banyak orang yang belum mengenal kuliner ini sering salah paham. Padahal, yang dimanfaatkan adalah sari hasil proses awal pencernaan rumput tersebut.
Proses Pembuatan Pagit-Pagit Khas Karo
Secara umum, proses pembuatan pagit-pagit mirip dengan pengolahan gulai atau masakan berkuah lainnya. Berikut tahapan utamanya:
Rumput hasil proses awal di dalam lambung sapi atau kerbau dikeluarkan.
Rumput tersebut diperas menggunakan kain tipis untuk diambil air sarinya.
Air sari inilah yang kemudian dimasak bersama berbagai rempah khas Karo.
Bumbu yang digunakan biasanya terdiri dari campuran rempah tradisional seperti andaliman, bawang merah, bawang putih, cabai, serta bumbu khas lainnya yang memberikan aroma dan rasa autentik.
Campuran Bahan dalam Pagit-Pagit
Selain sari rumput, pagit-pagit biasanya dimasak dengan tambahan bahan seperti:
Daun singkong atau daun ubi tumbuk
Jeroan sapi
Tulang sapi
Kulit sapi atau kikil
Perpaduan bahan tersebut menghasilkan kuah kental dengan cita rasa gurih, pahit khas, dan sedikit pedas. Hidangan ini umumnya disantap bersama nasi putih hangat.
Makna Budaya di Balik Pagit-Pagit
Bagi masyarakat Karo, pagit-pagit bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya dan simbol kebersamaan. Hidangan ini sering disajikan dalam acara adat sebagai bentuk penghormatan kepada tamu dan simbol keakraban.
Rasa pahit yang khas juga dipercaya memiliki filosofi kehidupan, bahwa setiap fase kehidupan tidak selalu manis, namun tetap dapat dinikmati dengan kebersamaan.
Kuliner Ekstrem atau Warisan Budaya?
Bagi sebagian orang, pagit-pagit mungkin terlihat ekstrem atau tidak biasa. Namun bagi masyarakat Karo, hidangan ini adalah warisan leluhur yang tetap dijaga hingga kini.
Di tengah modernisasi dan perkembangan kuliner global, pagit-pagit menjadi salah satu bukti kekayaan gastronomi Indonesia yang beragam dan unik.
Suku Karo di Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, tidak hanya dikenal dengan adat dan budayanya yang kuat, tetapi juga dengan kuliner tradisional yang autentik seperti pagit-pagit atau terites. Meski bahan dasarnya kerap menimbulkan salah persepsi, makanan ini tetap menjadi kebanggaan masyarakat Karo.
Apakah Anda tertarik mencoba salah satu kuliner paling unik di Sumatera Utara ini?