25 Tahun Melawan Belanda - Kisah Datuk Badiuzzaman Surbakti dan Perang Sunggal

Pada 15 Mei 1872, wilayah Sunggal di Deli Serdang berubah menjadi medan sejarah yang menentukan. Subuh yang tenang pecah oleh suara bedil. Tanah yang sebelumnya dikenal sebagai kedatukan kecil mendadak menjadi pusat perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Hindia Belanda.
Di tengah kabut pagi, masyarakat kebun yang menanti musim panen tembakau menyaksikan awal konflik panjang. Anak-anak, perempuan, dan para tetua kampung memahami bahwa peristiwa besar sedang dimulai.
Di garis depan berdiri Datuk Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surbakti, Raja Sunggal Serbanyaman ke IX. Usia baru 27 tahun, namun tekad sudah menyala kuat.
Latar Belakang Konflik dan Pengkhianatan Politik
Kedatukan Sunggal memiliki hubungan historis dengan Deli dan Serdang. Leluhur marga Surbakti pernah memberikan dukungan wilayah dan perlindungan. Dalam perjalanan waktu, hubungan berubah menjadi tekanan politik dan ambisi penguasaan lahan oleh kepentingan kolonial.
Ekspansi perkebunan tembakau menjadi pemicu utama konflik. Tanah adat terancam dikuasai. Harga diri masyarakat terusik. Dari situlah bara perlawanan muncul.
Rapat Rahasia dan Sumpah Perlawanan
Akhir tahun 1871, para pemimpin Sunggal berkumpul dalam pertemuan tertutup. Kesepakatan dicapai untuk mempertahankan tanah warisan leluhur sampai titik darah terakhir.
Perjuangan tidak berdiri sendiri. Dukungan datang dari pejuang Karo pegunungan, Gayo, dan Aceh. Politik adu domba berusaha dipatahkan melalui persatuan lintas wilayah. Setiap keluarga menyumbangkan tenaga, logistik, bahkan nyawa.
Banyak yang berangkat ke medan perang tanpa pernah kembali.
Perang Sunggal Mengguncang Hindia Belanda
Pertempuran berlangsung sengit di wilayah perkebunan Enterprise, Padang Bulan, dan Paya Bakung. Pasukan kolonial mengalami kerugian besar. Puluhan serdadu tewas dan ratusan lainnya luka.
Bagi pihak Sunggal, jumlah korban sulit dipastikan. Banyak pejuang gugur di hutan dan sungai tanpa catatan resmi. Perlawanan gerilya membuat pasukan kolonial kewalahan. Bangsal perkebunan terbakar. Produksi tembakau terganggu. Keluarga Eropa dievakuasi ke kapal di pesisir.
Nama Datuk Sunggal menjadi ancaman psikologis bagi administratur perkebunan.
Penangkapan Keluarga dan Strategi Gerilya
Kolonial membalas dengan menangkap kerabat dekat, termasuk Datuk Jalil, Datuk Dini, dan Datuk Sulong Barat. Pembuangan dilakukan ke Cilacap. Mereka wafat jauh dari kampung halaman.
Tekanan tersebut tidak mematahkan perlawanan. Strategi berubah menjadi taktik gerilya malam hari. Serangan senyap, pembakaran fasilitas, dan sabotase jalur distribusi membuat konflik berkepanjangan. Perang berubah menjadi pertaruhan martabat.
Perundingan yang Berujung Pembuangan
Setelah lebih dari dua dekade konflik, tawaran damai muncul dari pihak kolonial. Pertemuan dijanjikan dengan pejabat tinggi di Batavia. Harapan muncul untuk menghentikan penderitaan rakyat.
Datuk Badiuzzaman bersama Datuk Alang Muhammad Bahar berangkat memenuhi undangan tersebut. Kenyataan berbeda dari janji. Permintaan maaf kepada pemerintah kolonial menjadi syarat utama.
Permintaan itu ditolak tegas.
Pada 20 Januari 1895, hukuman pembuangan seumur hidup dijatuhkan. Datuk Badiuzzaman dikirim ke Cianjur. Datuk Alang Muhammad Bahar ke Banyumas. Tanpa proses pengadilan terbuka dan tanpa kesempatan kembali.
Sunggal dalam Masa Berkabung
Kabar pembuangan menyelimuti Sunggal dengan duka mendalam. Aktivitas sosial terhenti. Doa dipanjatkan di berbagai tempat ibadah. Masa berkabung berlangsung berbulan bulan sebagai bentuk penghormatan terhadap pemimpin yang mempertahankan martabat tanah leluhur.
Walau pemerintah kolonial menyatakan perang berakhir pada 1896, perlawanan belum sepenuhnya padam. Panglima Nabung Surbakti terus bertempur hingga gugur pada 14 Agustus 1915.
Warisan Sejarah Perang Sunggal
Dua pertiga hidup Datuk Badiuzzaman dihabiskan dalam perjuangan mempertahankan tanah adat Sunggal. Pembuangan tidak menghapus nama dan pengaruh dalam ingatan masyarakat Karo dan Deli Serdang.
Perang Sunggal menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme, simbol harga diri, dan simbol kesetiaan pada warisan leluhur.
Dalam narasi sejarah nasional, kisah ini memiliki posisi penting sebagai bagian dari rangkaian perlawanan daerah terhadap ekspansi ekonomi kolonial di Sumatera Timur.
Datuk Badiuzzaman Surbakti menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu diukur dari kemenangan militer, tetapi dari keteguhan menjaga martabat. Perang Sunggal membuktikan bahwa kedatukan kecil mampu mengguncang kekuatan kolonial selama puluhan tahun.
Sejarah lokal seperti ini layak mendapat ruang lebih luas dalam pembahasan perjuangan bangsa Indonesia.