Budianto Surbakti: Dari Kedai Kopi Kecil di Medan hingga Menjadi Pemimpin Profesional Berkelas Dunia

Tidak banyak sosok dari Tanah Karo yang perjalanan hidup dan kariernya menggambarkan arti pantang menyerah sekuat Budianto Surbakti. Di balik pencapaiannya hari ini, sebagai profesional senior di industri energi dan kelistrikan dengan rekam jejak di berbagai perusahaan internasional tersimpan kisah perjalanan panjang, penuh kegagalan, kerja keras, iman, dan ketekunan yang terus membentuk dirinya.
Kini, setelah lebih dari tiga dekade berkarya, ia bukan hanya profesional yang disegani, tetapi juga inspirator bagi generasi muda Karo, terutama mereka yang sedang berjuang memulai kehidupan dari titik sederhana.
Akar yang Membentuk Karakter
Budianto lahir di Sei Batang Serangan, Langkat, 28 Agustus 1971. Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, ia tumbuh dengan tanggung jawab besar dan kedisiplinan sejak kecil. Orangtuanya, Pt Em Dalam Surbakti dan Intan Br Sembiring Pelawi, mengajarkan dua hal penting: bekerja keras dan menjaga kehidupan rohani.
Saat remaja, hari-harinya diisi dengan membantu orangtua mengelola kedai kopi kecil di dekat Pajak Sore Padang Bulan Medan. Lokasinya yang dekat kampus USU membuat kedai itu sering menjadi tempat pertemuan mahasiswa, dosen, dan para pemikir.
Di situlah, tanpa disadari, Budianto mendapat "universitas pertamanya" belajar dari cerita hidup orang lain, mendengar tentang peluang, kegigihan, dan pendidikan.
Dari situ, tekadnya tumbuh:
"Kalau orang lain bisa berhasil, aku harus bisa juga."
Gagal Berkali-kali, Tapi Tidak Pernah Menyerah
Selepas SMA Negeri 4 Medan tahun 1990, ia merantau ke Pulau Jawa dengan cita-cita masuk ITB. Namun, tiga kali mengikuti UMPTN, ia tetap tidak lolos.
Bagi banyak orang, tiga kegagalan cukup untuk membuat menyerah. Tapi tidak bagi Budianto.
Justru saat hidup sederhana menumpang di rumah saudara dan mengajar les demi uang saku, ia belajar arti kerendahan hati, kedisiplinan, dan fokus pada tujuan.
Akhirnya, pada 1992, ia diterima kuliah di Politeknik Universitas Indonesia Jurusan Teknik Elektro—dan sejak itu langkahnya mulai menemukan arah.
Pelayanan, Pendidikan, dan Kepemimpinan yang Bertumbuh Bersama
Selain belajar, Budianto aktif dalam organisasi kampus dan gereja. Ia menjadi Guru Sekolah Minggu, pengurus persekutuan oikumene kampus, dan bahkan Ketua Permata Klasis Jakarta.
Di sanalah ia menemukan dua hal penting:
-
Panggilan pelayanan
-
Kemampuan kepemimpinan
Di lingkungan pelayanan pula, ia bertemu perempuan yang kini menjadi istrinya, Serininta Br Siregar, sesama aktivis Permata dan mahasiswa Universitas Indonesia.
Menanjak di Dunia Profesional Internasional
Setelah lulus, Budianto memulai karier di PT Schneider Electric Indonesia, perusahaan asal Prancis. Dari posisi awal sebagai Design Engineer, ia naik perlahan hingga akhirnya dipercaya sebagai Wakil Direktur Sales Power Generation.
Keberhasilannya bukan sekadar soal prestasi teknis. Ia dikenal karena etika kerja yang konsisten:
"Kerjakan lebih dari yang diminta. Kepercayaan adalah modal terbesar."
Ia juga pernah menangani pasar Asia Tenggara dalam perusahaan energi asal Belgia sebelum kemudian berlabuh di posisi strategis di PT Comeca Indonesia sebagai Senior Sales Manager untuk Power & Infrastruktur, posisi yang masih ia jalani hingga hari ini.
Meski kariernya berkembang pesat, ia tetap memprioritaskan pendidikan. Setelah memperoleh gelar S1 dan S2, ia kini hampir menyelesaikan program doktoralnya (S3) di Universitas Indonesia—sebuah pencapaian yang semakin memperkuat dedikasi hidupnya terhadap ilmu pengetahuan.
Tetap Rendah Hati dan Kembali Membawa Manfaat
Di tengah kesibukan, Budianto tetap melayani. Ia aktif menjadi pembicara seminar, motivator muda-mudi GBKP, serta sosok yang terbuka rumahnya bagi perantau Karo yang membutuhkan tempat tinggal.
Sebagai tokoh di DPP HMKI (Himpunan Masyarakat Karo Indonesia), ia berupaya menjaga ikatan budaya Karo sekaligus mendorong generasi muda menjadi percaya diri, berpendidikan, dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Jika diminta merangkum perjalanan hidupnya, ia hanya menjawab sederhana:
"Saya bukan orang paling pintar, tapi saya belajar untuk tidak menyerah. Tuhan membuka jalan bagi orang yang mau berusaha, berdoa, dan tetap rendah hati."
Perjalanan hidup Budianto Surbakti adalah contoh nyata bahwa asal bukanlah batas. Dari kedai kopi kecil di Medan, ia membangun karier internasional, keluarga yang penuh kasih, dan tetap pulang kepada nilai-nilai budaya dan imannya.
Hari ini, kisahnya menjadi inspirasi bagi siapa pun, khususnya generasi Karo dan anak muda Indonesia—bahwa masa depan bukan ditentukan oleh titik berangkat, tetapi oleh ketekunan, integritas, dan keyakinan bahwa kita diciptakan untuk bertumbuh dan memberi dampak.