IHSG Disetop Lagi! Investor Asing Panik, Pasar Dalam Negeri Menahan Napas

Pasar saham Indonesia kembali diguncang hebat. Indeks Harga Saham Gabungan kembali dihentikan sementara atau trading halt pada Kamis pagi 29 Januari 2026 setelah ambruk tajam 8 persen ke level 7.654,66. Bagi investor domestik, ini menjadi sinyal bahaya. Bagi investor global, ini justru dianggap sebagai alarm untuk segera keluar.
Data perdagangan memperlihatkan tekanan masif. 694 saham rontok bersamaan, hanya 34 saham bertahan menguat, sementara 230 saham tak bergerak. Nilai transaksi melonjak hingga Rp 10,78 triliun, menunjukkan derasnya arus jual di tengah kepanikan pasar.
Dari sudut pandang pelaku pasar domestik, kejatuhan IHSG dinilai sebagai pukulan berlapis. Bukan hanya karena koreksi harga saham, tetapi karena sentimen global kembali menekan pasar nasional di saat fondasi ekonomi domestik relatif stabil.
Sebagian investor lokal menilai tekanan ini tidak sepenuhnya mencerminkan kinerja emiten, melainkan lebih dipicu oleh persepsi dan penilaian lembaga internasional. Trading halt dianggap sebagai upaya darurat untuk mencegah kepanikan meluas, sekaligus memberi waktu bagi pasar mencerna tekanan eksternal yang datang bertubi-tubi.
Namun di sisi lain, penghentian perdagangan berulang juga memunculkan kekhawatiran baru. Pasar mulai mempertanyakan seberapa kuat daya tahan bursa Indonesia menghadapi tekanan global yang semakin agresif.
Berbeda dengan sudut pandang domestik, investor global melihat situasi ini secara lebih dingin dan kalkulatif. Morgan Stanley Capital International secara terbuka menyoroti transparansi kepemilikan saham dan kualitas free float di Indonesia. Meski terdapat perbaikan minor pada data Bursa Efek Indonesia, MSCI menilai masalah inti belum terselesaikan.
Bagi investor asing, isu struktur kepemilikan bukan sekadar teknis administratif, tetapi menyangkut kemampuan pasar untuk menjamin likuiditas, akuntabilitas, dan perlindungan investasi jangka panjang. Keraguan terhadap klasifikasi pemegang saham yang dirilis otoritas domestik membuat banyak dana global memilih bersikap defensif.
Goldman Sachs Memperkeras Tekanan
Tekanan dari luar negeri semakin keras setelah Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight. Bank investasi asal Amerika Serikat itu memperkirakan aksi jual pasif oleh investor global belum akan berhenti.
Menurut analis Goldman Sachs, penilaian MSCI berpotensi menahan aliran dana masuk ke pasar saham Indonesia dalam periode yang lebih panjang. Pasar Indonesia dinilai menghadapi tantangan struktural yang belum sepenuhnya terjawab, terutama terkait kepemilikan saham dan tingkat free float emiten besar.
Benturan Persepsi yang Mengguncang IHSG
Kejatuhan IHSG kali ini memperlihatkan benturan keras antara dua cara pandang. Investor domestik melihat tekanan sebagai reaksi berlebihan, sementara investor global memandangnya sebagai koreksi yang wajar terhadap risiko struktural.
Trading halt pun menjadi simbol tarik-menarik kepentingan. Di satu sisi, ia berfungsi sebagai penahan kepanikan di dalam negeri. Di sisi lain, bagi investor luar negeri, penghentian perdagangan justru menguatkan persepsi bahwa pasar Indonesia sedang berada di bawah tekanan serius.
Kini sorotan tertuju pada langkah regulator dan otoritas pasar modal. Tanpa kejelasan perbaikan struktural yang mampu meyakinkan investor global, tekanan terhadap IHSG berpotensi berlanjut. Sementara bagi investor dalam negeri, situasi ini menjadi ujian kepercayaan terhadap kekuatan pasar nasional di tengah guncangan global.