Akademisi USU Soroti Pemikiran Barata Brahmana dalam Peluncuran Buku, Singgung KKN hingga Masa Depan Karo

Akademisi Universitas Sumatera Utara, Roy Fachraby Ginting, menyoroti pemikiran tokoh Karo Barata Brahmana dalam momentum peluncuran buku yang ditulis oleh Robert Billy Peranginangin.
Dalam keterangannya, Roy menyebut Barata Brahmana sebagai sosok yang konsisten menyuarakan gagasan tentang peradaban, kesejahteraan rakyat, serta arah demokrasi Indonesia.
“Di usia 86 tahun, Barata Brahmana masih aktif berdiskusi dan menyampaikan pandangan kritis terkait kondisi bangsa, khususnya dalam bidang ekonomi kerakyatan dan pembangunan daerah,” ujar Roy.
Soroti Amanat UUD 1945 dan Kesejahteraan Rakyat
Roy menjelaskan, salah satu fokus utama pemikiran Barata Brahmana adalah pentingnya kembali pada amanat Undang-Undang Dasar 1945, terutama Pasal 33 yang menekankan penguasaan sumber daya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Menurut Barata Brahmana, konsep ekonomi kerakyatan harus kembali menjadi landasan dalam kebijakan nasional, bukan sekadar wacana politik.
Kritik terhadap Arah Reformasi
Dalam kesempatan tersebut, Barata Brahmana juga menyoroti arah reformasi yang dinilai mulai melenceng dari tujuan awal.
Reformasi yang dahulu bertujuan mengakhiri praktik otoritarianisme dan korupsi, kini justru menghadapi tantangan serius dengan kembali menguatnya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Roy menyebut, Barata Brahmana menilai kondisi tersebut sebagai kemunduran dalam kehidupan demokrasi di Indonesia.
KKN Dinilai Semakin Mengakar
Barata Brahmana juga menyoroti perubahan sikap masyarakat terhadap korupsi yang dinilai tidak lagi dianggap sebagai hal tabu.
“Kondisi ini berbahaya karena praktik KKN semakin mengakar dan berlangsung secara masif,” kata Roy mengutip pandangan Barata Brahmana.
Dalam konteks tersebut, generasi muda dan mahasiswa didorong untuk mengambil peran aktif dalam mendorong perubahan dan melawan praktik KKN.
Fokus Pembenahan di Kabupaten Karo
Selain isu nasional, Barata Brahmana juga menaruh perhatian besar terhadap kondisi daerah, khususnya Kabupaten Karo.
Menurut Roy, Barata Brahmana menilai berbagai persoalan di Kabupaten Karo tidak terlepas dari lemahnya tata kelola pemerintahan daerah.
Pembenahan, kata dia, harus dimulai dari pusat kekuasaan daerah, termasuk Kantor Bupati Karo, agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar berpihak pada rakyat.
Soroti Masalah Pendidikan dan Pertanian
Barata Brahmana juga menyoroti sejumlah sektor penting yang dinilai masih bermasalah, di antaranya pendidikan dan pertanian.
Kualitas infrastruktur pendidikan yang belum merata serta rendahnya perhatian terhadap petani menjadi perhatian utama.
Padahal, sektor pertanian merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat Karo. Namun hingga kini, berbagai persoalan seperti pupuk palsu, bibit tidak berkualitas, hingga distribusi hasil panen masih menjadi kendala.
Dorong Pelestarian Sejarah dan Budaya
Di bidang kebudayaan, Barata Brahmana juga menekankan pentingnya menjaga identitas dan sejarah lokal.
Roy menyebut, Barata Brahmana menyoroti masih minimnya pengetahuan generasi muda tentang Guru Patimpus Sembiring Pelawi, yang dikenal sebagai pendiri Kota Medan.
Menurutnya, pemahaman sejarah menjadi penting untuk menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi.
Komitmen Nyata dalam Pelestarian Budaya
Tidak hanya menyampaikan gagasan, Barata Brahmana juga dinilai aktif dalam mendukung pelestarian budaya Karo.
Melalui berbagai kegiatan seperti seminar, penerbitan buku sejarah, hingga pelestarian aksara Karo, kontribusi tersebut bahkan didukung dengan pendanaan pribadi dalam jumlah besar.
Sebagai pendiri dan pembina Yayasan Karo Foundation, Barata Brahmana dinilai telah menunjukkan komitmen nyata dalam membangun peradaban berbasis budaya.
Roy berharap pemikiran dan perjuangan Barata Brahmana dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan keberpihakan kepada rakyat.
“Diperlukan sosok-sosok baru yang memiliki integritas, keberanian, dan komitmen terhadap masa depan bangsa,” ujarnya.