Debat Panas Abu Janda, Ikrar Nusa Bhakti, dan Feri Amsari di iNews Jadi Sorotan Publik

Debat panas dalam program diskusi televisi di iNews menjadi sorotan publik setelah aktivis media sosial Permadi Arya terlibat adu argumen dengan pengamat politik senior Ikrar Nusa Bhakti serta pakar hukum tata negara Feri Amsari.
Diskusi yang awalnya membahas peran Amerika Serikat dalam dinamika sejarah kemerdekaan Indonesia berubah menjadi momen tegang ketika emosi mulai mendominasi jalannya perdebatan.
Perdebatan Bermula dari Penjelasan Sejarah
Ketegangan muncul ketika Ikrar Nusa Bhakti berupaya meluruskan narasi sejarah terkait motif di balik dukungan Amerika Serikat kepada Indonesia pada periode 1948–1949.
Dalam penjelasannya, Ikrar Nusa Bhakti menekankan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia perlu dipahami secara menyeluruh dan berbasis data akademik, bukan sekadar berdasarkan sentimen pribadi terhadap negara tertentu.
Namun, penjelasan tersebut memicu reaksi keras dari Permadi Arya. Dalam potongan video yang kemudian viral di media sosial, Permadi Arya menyampaikan pernyataan bernada tinggi yang langsung memancing perhatian publik.
“Dari tadi gua perhatiin lu kalau komentar terlalu baper, jangan bawa-bawa perasaan pak. Lu gak suka sama Amerika, Bang Feri gak suka Trump, lu gak suka sama Israel, itu perasaan lu semua. Gua gak ada urusan sama perasaan lu semua, anjir!” ujar Permadi Arya dalam debat tersebut.
Penggunaan Kata “Anjir” Menuai Kritik
Penggunaan kata “anjir” dalam forum diskusi televisi nasional langsung menjadi sorotan warganet. Sebagian netizen menilai kata tersebut hanya bagian dari bahasa gaul yang sering muncul dalam percakapan sehari-hari.
Namun banyak pihak menilai penggunaan kata tersebut tidak pantas disampaikan dalam forum diskusi formal, terlebih dalam dialog yang melibatkan akademisi senior dan pakar hukum tata negara.
Ikrar Nusa Bhakti Menekankan Pentingnya Membaca Sejarah
Di tengah situasi debat yang memanas, Ikrar Nusa Bhakti tetap berusaha menjaga ketenangan. Ikrar Nusa Bhakti kembali menegaskan pentingnya membaca sejarah secara komprehensif agar diskusi publik tidak terjebak pada narasi yang parsial.
“Anda juga harus baca sejarah dong, jangan ngacau,” ujar Ikrar Nusa Bhakti dalam respons terhadap pernyataan Permadi Arya.
Feri Amsari Soroti Etika Diskusi Publik
Dalam diskusi tersebut, Feri Amsari juga memberikan catatan kritis terhadap gaya debat yang dinilai terlalu emosional.
Feri Amsari menegaskan bahwa diskusi publik seharusnya mengedepankan adu data, analisis hukum, serta argumentasi yang berbasis fakta. Menurut Feri Amsari, ruang diskusi publik tidak seharusnya dipenuhi retorika emosional atau provokasi.
Viral di Media Sosial dan Picu Perdebatan Baru
Cuplikan perdebatan antara Permadi Arya, Ikrar Nusa Bhakti, dan Feri Amsari kini beredar luas di berbagai platform media sosial dan memicu pro dan kontra di kalangan warganet.
Sebagian masyarakat menilai insiden tersebut mencerminkan menurunnya etika dalam ruang diskusi publik. Namun sebagian lainnya menganggap peristiwa tersebut sebagai dinamika keras yang sering muncul dalam debat politik.
Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan penting tentang etika komunikasi dalam ruang publik, khususnya dalam program diskusi televisi nasional.
Banyak pihak berharap agar diskusi publik di media massa tetap mengedepankan substansi, adab, serta saling menghormati antar narasumber, sehingga perdebatan yang disajikan benar-benar memberikan pencerahan bagi masyarakat.