WFH ASN & Swasta 1 Hari Sepekan Segera Diumumkan? Ini Opsi Hari, Alasan Krisis Energi, dan Pro-Kontra di DPR

Kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pekerja swasta disebut telah mendapat persetujuan para menteri di kabinet Prabowo Subianto. Saat ini, kebijakan tersebut tinggal menunggu arahan final sebelum diumumkan secara resmi oleh pemerintah.

Langkah ini tidak muncul tiba-tiba. Pemerintah melihat ancaman krisis energi global sebagai dampak konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. WFH dinilai sebagai salah satu strategi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Pemerintah Siapkan Skema WFH, Tapi Hari Pelaksanaan Masih Dikaji

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memberi sinyal bahwa kebijakan ini sudah matang di level kementerian. Namun, pemerintah masih menahan detail teknis, termasuk hari pelaksanaannya.

Pernyataan singkat “sabar saja” mencerminkan bahwa keputusan tinggal menunggu momentum politik dan administratif dari Presiden.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah menggunakan pendekatan komprehensif dalam merumuskan kebijakan ini. Tidak hanya soal penghematan energi, tetapi juga mempertimbangkan dampak terhadap produktivitas kerja dan penerimaan negara.

Opsi Hari Jumat Dinilai Paling Minim Gangguan Produktivitas

Salah satu opsi yang mencuat adalah penerapan WFH pada hari Jumat. Alasan utamanya cukup sederhana: jam kerja paling pendek, sehingga potensi penurunan produktivitas dianggap paling kecil.

Namun, skema ini belum final. Pemerintah juga masih mempertimbangkan apakah kebijakan ini akan:

  • Wajib untuk ASN, atau

  • Sekadar imbauan untuk sektor swasta

Beberapa sektor seperti industri manufaktur dipastikan tidak akan terdampak karena membutuhkan kehadiran fisik pekerja.

DPR Ingatkan Risiko “Long Weekend” dan Lonjakan Mobilitas

Wacana WFH di hari Jumat langsung menuai kritik dari anggota DPR, termasuk Romy Soekarno.

Menurutnya, kebijakan ini berpotensi menimbulkan efek yang justru berlawanan dengan tujuan awal. Jika WFH dilakukan menjelang akhir pekan, masyarakat bisa memanfaatkannya untuk bepergian.

Dampaknya:

  • Mobilitas meningkat

  • Konsumsi BBM justru naik

  • Efektivitas kebijakan menurun

Selain itu, DPR juga menyoroti risiko turunnya kualitas pelayanan publik jika pola kerja tidak dirancang secara matang.

Sebagai solusi, DPR mengusulkan:

  • Pemilihan hari pertengahan minggu (Selasa–Rabu)

  • Penerapan kebijakan yang tidak seragam di semua sektor

  • Evaluasi berkala terhadap dampak kebijakan

Akademisi UGM, Jangan Terapkan WFH Secara Serentak

Pakar kebijakan publik dari Universitas Gadjah Mada, Agustinus Subarsono, menilai bahwa kebijakan WFH sebaiknya tidak langsung diterapkan secara nasional.

Menurutnya, pemerintah perlu:

  • Melakukan pilot project (uji coba terbatas)

  • Menyusun SOP yang jelas

  • Menentukan jenis pekerjaan yang bisa dilakukan secara remote

Profesi yang Cocok WFH

Beberapa bidang yang dinilai fleksibel:

  • Analis dan manajerial

  • Teknologi informasi (programmer, data analyst, dll.)

  • Pendidikan (dosen, tutor online)

  • Industri kreatif (desainer grafis, video editor)

Profesi yang Tidak Cocok WFH

Sebaliknya, sektor berikut tetap membutuhkan kehadiran fisik:

  • Tenaga medis

  • Transportasi dan logistik

  • Operator mesin

  • Quality control

Menjaga Keseimbangan Efisiensi dan Layanan Publik

Kebijakan WFH satu hari dalam sepekan bisa menjadi solusi cerdas dalam menghadapi krisis energi global. Namun, tanpa desain yang matang, kebijakan ini juga berpotensi menimbulkan masalah baru.

Pemerintah kini dihadapkan pada dilema klasik:

  • Efisiensi energi vs produktivitas kerja

  • Fleksibilitas kerja vs kualitas layanan publik

Jika berhasil dirancang dengan tepat, kebijakan ini bisa menjadi model baru sistem kerja nasional. Namun jika tidak, risiko penurunan kinerja dan pemborosan energi justru bisa terjadi.

WFH satu hari untuk ASN dan swasta bukan sekadar kebijakan kerja fleksibel, melainkan bagian dari strategi besar menghadapi tekanan global. Keputusan akhir kini berada di tangan Presiden, dan publik menunggu apakah kebijakan ini benar-benar efektif atau justru menjadi bumerang.