URUNG SUDAH ADA SEBELUM KEKUASAAN BELANDA
![]() |
| dok. sorasirulo |
Seorang geolog asal Jerman (catat, bukan Belanda) sudah membuat pemetaaan urung-urung Karo di Dataran Tinggi Karo masa sebelum diduduki Kolonial Belanda.
Di peta itu sudah terlihat wilayah Urung Siwah Sada Ginting, Urung Liang Melas, Urung Teran, dan lain-lain.
Memang di Jaman Kolonial ada beberapa perubahan dan nantinya ada juga pemekaran urung.
Urung Pitu Kuta, misalnya, pada awalnya beribunegeri Barusjahe. Kemudian hari, C.J. Westenberg menemukan Pitu Kuta beribunegeri Tengging. Dan, belakangan, mereka sadar ada 2 urung panteken Munte, yaitu Pitu Kuta Tengging dan Pitu Kuta Ajinembah.
Mereka tidak lagi menyebut Barusjahe dengan Pitu Kuta, meskipun Pemerintah RI di awal Kemerdekaan menggunakan lagi Kecamatan Pitu Kuta dengan ibu kota Barusjahe.
Pemekaran terjadi pada beberapa kampung besar berdekatan, dikeluarkan dari urung asalnya dan digabung menjadi satu urung baru.
Urung Tiga Pancur, misalnya (lokasi memotret letusan Sinabung), terdiri dari Beganding (asal Urung 3 Kuru), Berastepu (asal Urung 4 Teran), dan Gurukinayan (asal Urung 5 Senina). Ketiga kuta ini sangat besar dibandingkan kampung-kampung umumnya di Karo.
Menurut Eduard E. McKinnon, kata URUNG berasal dari Bahasa India Selatan, tapi menurut Beatriz van de Goes dari Bahasa Austronesia. Menurut saya, boleh jadi dari India maupun Austonesia, kata URUNG sangat terkait dengan konsep KURUNG.
Orang-orang beda urung bisa saling melihat hanya di KUTA. Tidak ada hubungan langsung antar urung tanpa melalui KUTA.
Itulah prinsip dasar dari REBU, la siidahen.
Makanya jangan ketawa kalau anak Singalorlau biasa mengatakan: "O, Nande Rabun, ja kam ndai? Padahal istrinya duduk dalam jarak 2 meter di depannya."
