Desa Batukarang Penghasil Tembakau Sontil Berkualitas di Taneh Karo

mbako batukarang
Foto : Fb Mbako Batukarang

Tembakau suntil Karo, yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai mbako atau mbakau, merupakan salah satu hasil bumi khas Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang masih bertahan hingga hari ini. Berbeda dengan daerah lain di Indonesia yang memanfaatkan tembakau sebagai bahan rokok, di Tanah Karo tembakau justru identik dengan suntil (sontil) bagian penting dari tradisi makan sirih.

Suntil biasanya dikunyah bersama daun sirih, kapur sirih, dan bubuk gambir. Tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh kaum pria, tetapi juga oleh perempuan Karo dari berbagai usia. Bahkan, bagi sebagian perempuan Karo, suntil kerap digunakan dengan cara digoyangkan di sekitar mulut saat bersantai.

Tidak mengherankan jika berkunjung ke Tanah Karo, kita akan mudah menjumpai sekelompok ibu-ibu yang duduk bercengkerama dengan bibir kemerahan khas sirih dan suntil di tangan. Itu adalah pemandangan keseharian yang mencerminkan identitas budaya Karo yang masih hidup.

Proses Pembuatan Tembakau Suntil Karo

Menariknya, proses pembuatan tembakau suntil khas Karo tergolong singkat, hanya memakan waktu sekitar satu hari. Tahap awal dimulai dari pemilihan daun tembakau terbaik. Daun dengan warna hijau kekuningan dianggap memiliki kualitas paling baik.

mbako batukarang
Foto : Fb Mbako Batukarang

Daun tembakau kemudian diiris tipis pada pagi hari, biasanya sebelum matahari terbit. Tujuannya agar setelah diiris, daun dapat langsung dijemur begitu matahari mulai naik.

Proses penjemuran berlangsung selama 10–11 jam penuh. Selama proses ini, warna daun tembakau perlahan berubah dari hijau kekuningan menjadi kuning cerah, menandakan tembakau siap memasuki tahap berikutnya.

Pengembunan: Tahap Penting agar Tembakau Tidak Rapuh

Setelah kering, tembakau tidak langsung digunakan. Ada satu tahap penting yang disebut pengembunan. Pengembunan dilakukan dengan cara menjemur tembakau kembali saat subuh, agar embun pagi meresap ke dalam serat daun.

Tujuan pengembunan adalah agar tembakau menjadi lentur dan tidak mudah patah saat dipegang atau digunakan sebagai suntil.

Proses ini sangat bergantung pada kondisi alam. Karena itu, Desa Batu Karang, yang terletak di dekat Gunung Sinabung, menjadi lokasi ideal. Udara pegunungan yang bersih dan sejuk sangat berperan dalam menjaga kualitas tembakau suntil Karo.

“Kalau tidak diembunkan, tembakau ini akan langsung patah saat dipegang. Pengembunan itu wajib supaya bisa dipakai sebagai suntil,”
ujar Mamak Nanda, pedagang tembakau suntil asal Desa Batu Karang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo.

Harga Tembakau Suntil di Tanah Karo

Harga tembakau suntil Karo bervariasi tergantung kualitasnya. Untuk kualitas terbaik, tembakau suntil dibanderol sekitar Rp120.000 hingga Rp150.000 per kilogram. Sementara untuk kualitas standar atau rendah, harganya berkisar Rp40.000 per kilogram.

Desa Batu Karang, Sentra Tembakau Suntil Karo

Desa Batu Karang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil tembakau suntil di Tanah Karo. Selain sebagai pusat produksi, desa ini juga menarik untuk dikunjungi bagi wisatawan yang ingin melihat langsung proses pembuatan tembakau tradisional sekaligus membeli hasil panen warga.

Akses menuju Desa Batu Karang cukup mudah. Dari Kota Kabanjahe, perjalanan dapat dilanjutkan dengan angkutan umum dari Simpang Empat Kabanjahe yang langsung menuju desa tersebut.